
Brak
Bu Anara mendengar suara pintu yang di tutup dengan keras. Lalu Bu Anara pergi ke sumber suara. Ternyata itu suaranya dari arah kamar Eva.
Bu Anara melihat Rian yang sedang berdiri di depan pintu.
“Nak Rian, tadi siapa yang membanting pintu?” tanya Bu Anara.
“Eva, Mah. Biasa namanya juga perempuan kalau lagi ngambek ya begitu,” ucap Rian.
“Kamu yang sabar ya ngadepin Eva. Dia memang sedikit manja,” ucapnya.
“Iya, Mah.” Rian tersenyum menatap Bu Anara.
“Lebih baik kamu ikut ke depan yuk! Kita ngobrol-ngobrol bareng. Kebetulan Alan juga ada disana,” ajak Bu Anara.
“Oke, Mah.” Rian mengikuti Bu Anara yang sudah melangkah duluan.
Saat ini Rian sudah sampai di ruang keluarga. Dia duduk di sebelah Alan.
“Rian, kamu harus sabar ya, Eva memang seperti itu. Dia mudah ngambek,” ucap Pak Andika kepada menantunya. Kebetulan tadi Pak Andika juga mendengar suara pintu yang di tutup dengan keras.
“Iya, Pah. Tidak apa-apa kok, Rian memakluminya.”
“Kamu harus benar-benar menjaga Eva, Nak. Pasti almarhum ayahnya juga ikut senang jika tahu kalau sekarang anaknya sudah menikah,” ujar Bu Anara.
Rian semakin tak enak hati kepada mertuanya. Sepertinya kedua anaknya yaitu Eva dan Adelia, sama-sama mereka jaga. Namun sekarang Rian sudah membuat kesalahan besar terhadap dua bersaudara itu.
“Saya akan berusaha, Bu.” Rian tersenyum menatap Bu Anara.
__ADS_1
Mereka masih lanjut mengobrol. Bu Anara menceritakan masa-masa kecil Adelia dan Eva. Rian hanya menyimak saja apa yang di katakan oleh Bu Anara.
Cukup lama ikut mengobrol, Rian berpamitan untuk pergi ke kamar.
Ternyata pintu kamar Eva di kunci dari dalam.
Tok tok
“Eva, buka pintunya,” Rian mengetuk pintu itu dan meminta Eva membukanya.
Setelah dia mengetuk pintu beberapa kali, barulah Eva membukanya.
Rian masuk ke dalam, lalu kembali menutup pintu itu. Dia mengambil pakaian di dalam lemari karena akan mandi. Dia selalu membawa pakaian ganti ke kamar mandi. Dia sama sekali tidak pernah memperlihatkan tubuhnya di depan Eva.
“Mas, kenapa kamu selalu ganti di kamar mandi? Apa karena tidak mau jika aku melihatmu berganti pakaian?” tanya Eva sambil menatap ke arah suaminya.
“Mas Rian terlihat berbeda. Sepertinya aku memang tidak di perbolehkan untuk melihat tubuh Mas Rian.”
Sebenarnya Rian tidak tega melihat Eva seperti itu. Tapi bagaimana lagi, jika dia mengijinkan Eva melihat tubuhnya, apalagi mereka sampai berhubungan, Rian tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia tidak mau meniduri kakak beradik sekaligus. Walaupun wanita itu istrinya sendiri, namun dia tidak mau menyentuhnya demi kebaikan semuanya.
‘Maafkan aku, Eva. Berikan aku waktu untuk menyelesaikan masalahku dengan Adel,’ batin Rian. Lalu Rian melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi.
Eva mengambil tas slempang miliknya, lalu dia pergi dari kamar itu.
Bu Anara melihat anaknya yang sedang berjalan menuruni tangga.
“Eva, kamu mau kemana?” Bu Anara beranjak dari duduknya, lalu melangkah mendekati anaknya.
“Mau pergi keluar, Mah.”
__ADS_1
“Tapi kemana, Nak? Kenapa tidak pergi bersama suamimu?”
“Aku hanya pergi ke rumah Tante Vanesa kok. Lagian aku bisa pergi sendiri,” ucapnya.
“Hati-hati, Nak. Titip salam untuk Kak Nesa.”
“Iya, nanti aku bilangin. Kalau begitu aku pergi dulu,” Eva berpamitan kepada ibunya, lalu dia segera pergi.
Eva pergi dengan mengendarai mobil sendiri. Di perjalanan, dia singgah ke toko kue untuk membeli kue kesukaan Tantenya.
Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu lama, Eva sampai di rumah yang di tempati oleh Vanesa.
Terlihat Vanesa yang sedang duduk sendirian di taman belakang. Memang setelah keluar dari rumah sakit jiwa, dia lebih sering berdiam diri. Bahkan saat adiknya mengajaknya untuk tinggal bersama, dia tidak mau.
“Tante, aku datang,” Eva melangkah mendekati wanita kedua yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.
Terlihat Vanesa tersenyum memperlihatkan wajah keriputnya. Sekarang memang dia tak pernah memperhatikan penampilannya, apalagi untuk perawatan wajah, itu sama sekali tidak pernah.
“Tante kangen sama kamu, Nak. Tante selalu kesepian disini,” ucapnya sambil merentangkan kedua tangannya.
Eva memeluk Tantenya dengan erat.
“Aku juga kangen sama Tante. Ayo kita masuk! Eva bawakan kue kesukaan Tante loh.”
“Benarkah?”
“Benar, ayo!” Eva menggandeng tangan Tantenya. Lalu mereka masuk ke rumah.
Setiap kali ada masalah, Eva memang selalu datang untuk menemui Tantenya. Karena menurutnya di rumah itu cukup tenang. Dan Tantenya juga selalu memberikan solusi-solusi saat dia ada masalah.
__ADS_1