
Bu Sinta baru datang ke rumah anaknya. Dia mendengar tangisan dari lantai atas.
“Ani, itu kok seperti suara Anara di atas?” tanya Bu Sinta.
“Iya, Bu. Saya baru mau nyuapin Adel tapi tidak jadi. Niatnya mau lihat Non Anara dulu,” ucap Ani.
“Kamu lanjutkan saja! Biar saya yang ke atas.” Ucap Bu Sinta.
“Baik, Nyonya.” Ani kembali duduk, lalu menyuapi Adel.
Bu Sinta sudah berada di lantai atas. Sekarang sedang berdiri di depan pintu kamar yang sudah terbuka. Dia melihat Anara yang sedang menangis sambil memeluk suaminya.
“Nara, kamu kenapa?” Bu Sinta melangkah masuk ke kamar itu.
“Kak Aldi ... hiks ... hiks ... “ Anara tak mampu untuk melanjutkan perkataannya.
Bu Sinta mendekati Anara. Dia menatap Aldi yang sedang berbaring sambil memejamkan ke dua matanya.
“Aldi kenapa? Dia pingsan?”
“Kak Aldi sudah meninggalkan kita,” ucap Anara di sela-sela isak tangisnya.
Bu Sinta memeriksa denyut nadi anaknya, ternyata memang sudah tidak ada.
“Aldi, kenapa kamu pergi secepat ini, Nak. Bahkan baru sebentar kamu melihat anak-anakmu,” Bu Sinta tak kuasa menahan air matanya.
Bu Sinta mengingat lagi kejadian dua puluh tahun yang lalu, saat tetangganya menitipkan seorang bayi. Dan bayi itu adalah Aldi. Kedua orang tua Aldi berpamitan akan pergi, namun di perjalanan mereka mengalami kecelakaan.
“Al, semoga kamu tenang yah di alam sana. Ternyata sang pencipta lebih menyayangimu. Semoga kamu di pertemukan lagi dengan orang tuamu,” ucap Bu Sinta sambil mengusap sudut matanya yang basah.
Bu Sinta mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam tas. Lalu menghubungi Andika dan Pak Indra dan memberitahu berita duka itu.
Tak lama, Pak Indra dan Andika sudah datang. Mereka membantu mengangkat Aldi dan membawanya ke lantai bawah. Bu Sinta juga sudah meminta Ustad Umar untuk membantu mengurus pemakaman Aldi.
Aldi sudah di mandikan dan di sholatkan. Anara tak sanggup lagi melihat suaminya. Dia terus menangis dalam diam. Sejak tadi Bu Sinta mengusap punggung menantunya.
__ADS_1
“Nara, ayo bangun Nak! Kita sama-sama mengantar Aldi ke peristirahatan terakhirnya.”
Anara berdiri, lalu Bu Sinta membantu memapahnya.
Saat ini mereka sudah berada di pemakaman elit di kotanya. Anara terus berjongkok disana. Dia enggan untuk pulang. Sejak tadi Bu Sinta mencoba membujuk Anara. Namun dia tetap berjongkok di depan makam suaminya.
“Nara, kamu boleh sedih. Kami semua juga sedih. Tapi kamu jangan seperti ini, Nak. Kasihan anak-anakmu masih butuh perhatianmu,” ucap Bu Sinta.
Anara menoleh menatap Bu Sinta.
“Adel sama Eva dimana?” tanya Anara.
“Ada di mobil, mereka menunggu kita. Ayo kita pergi! Kasihan loh anak-anakmu kalau menunggu terlalu lama.”
“Iya, Mah.” Anara berdiri lalu Bu Sinta menggandeng tangannya pergi dari sana.
°°°°
Anara dan yang lainnya sudah sampai di rumah. Rasanya seperti ada yang kurang saat tidak ada Aldi di rumah itu.
“Dika, nanti kamu menginap disini yah. Setidaknya untuk tujuh hari ke depan.” Pinta Bu Sinta.
“Iya, Mah.” Ucap Andika.
Bu Sinta juga menyuruh Pak Indra untuk menginap disana.
Andika melihat anaknya yang sedang mengantuk. Dia mencoba untuk menimang-nimangnya hingga Adelia tertidur. Andika beranjak dari duduknya lalu membawa Adelia ke kamarnya.
Cklek
Andika melihat Anara yang sedang duduk di lantai sambil menenggelamkan kepalanya di atas lututnya.
Anara menyadari kedatangan Andika. Dia berdiri lalu mendekati Andika yang sedang membaringkan Adelia.
“Kak Aldi, aku kangen,” Anara memeluk Andika dari belakang. Bahkan pelukannya begitu erat.
__ADS_1
“Aku Andika, bukan Aldi,” ucapnya, sambil mencoba melepaskan pelukan Anara.
Spontan Anara menjauhkan tangannya.
“Maaf,” ucap Anara.
Andika membalikan badannya sehingga saat ini mereka saling berhadapan.
“Kalau kamu butuh sandaran atau butuh teman curhat, aku siap ada di sampingmu,” ucap Andika.
“Iya, Kak. Maaf Kak, tadi aku sudah lancang memeluk Kakak.”
“Tidak apa-apa, ayo kita keluar! Lagian pasti jenuh jika berada di kamar terus,” ucap Andika.
“Aku mau ke kamar atas saja,” Anara segera pergi dari hadapan Andika dengan tergesa-gesa.
Andika mengikuti langkah Anara. Dia merasa kasihan melihat Anara yang terlihat sangat terpukul.
Anara sudah sampai di kamar atas. Dia menatap fotonya bersama Aldi yang masih di pajang di dinding. Dia memperhatikan ke segala ruangan. Tak sengaja dia menatap ke arah laci yang terbuka. Karena penasaran, dia mendekati laci itu.
Anara mengambil sesuatu dari dalam laci. Dia membuka buku kecil yang sebelumnya belum pernah dia lihat. Dia membaca setiap lembar dari buku itu. Ternyata itu buku diary suaminya. Anara tersenyum saat membaca semua yang di tuliskan di buku itu.
Anara baru membaca beberapa lembar. Dia berniat menyimpan lagi buku catatan milik suaminya. Namun tak sengaja jatuh ke lantai. Anara hendak mengambilnya, namun dia melihat buku itu terbuka dan tertera tanggal saat ini. Anara membaca tulisan terakhir yang di tuliskan oleh suaminya.
To: Istriku
Aku bahagia memiliki istri seperti kamu dan memiliki dua putri yang sangat cantik. Jika aku pergi, aku harap kamu akan merawat anak kita dengan baik. Aku juga sudah meminta Kak Andika untuk selalu menjaga kalian. Hehe ... Kenapa aku menulis seperti ini? Seperti mau pergi saja.
Istriku, satu hal yang perlu kamu tahu. Aku sangat mencintai kamu. Bahkan dari awal pertemuan, wajahmu selalu terbayag di pikiranku. I Love You,,
Dari : Suamimu yang mencintaimu
Anara menangis setelah membaca catatan suaminya.
Kebetulan Andika sejak tadi berdiri di depan pintu yang sedikit terbuka. Dia sengaja memastikan jika Anara tidak akan berbuat hal-hal yang bisa membahayakan dirinya sendiri.
__ADS_1