
Hari demi hari, usia kandungan Anara semakin membesar. Saat ini usianya sudah memasuki enam bulan.
Bu Sinta dan Andika sedang mengobrol santai di ruang keluarga. Adelia dan Eva juga ada bersama mereka.
"Mah, sudah beberapa hari ini Dika sedikit bisa santai, karena Nara tidak minta macam-macam," ucapnya.
"Mamah masih ingat saat istrimu ngidam ingin beli seblak asli bandung, kamu harus pergi jauh-jauh kesana." ucap Bu Sinta.
"Nah itu, kalau bandung sih masih dekat. Jadi masih di maklumi saja," ucap Andika.
Terlihat Anara datang menghampiri mereka. Anara langsung duduk di sebelah suaminya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Andika menatap istrinya yang sedang fokus menatap layar ponselnya.
"Iya, tadi aku bangun langsung lihat ponsel. Eh tidak sengaja buka sosmed, lihat postingan teman. Mas, aku mau ini," Anara memperlihatkan layar ponselnya kepada suaminya.
"Astaga, kamu mau mendoan? Lebih baik bikin sendiri saja, sayang. Mamah bisa kok bikin mendoan yang enak. Ini hanya mendoan loh." ujar Andika.
"Tidak mau, aku mau mendoan asli purwokerto," rengek Anara.
"Jauh sekali sayang," keluh Andika.
"Pakai pesawat, Mas." Anara tetap merengek.
"Astaga bumil, anakmu kalau minta sesuatu bikin ayahnya repot," gumam Andika namun masih terdengar oleh mereka.
"Turuti saja kemauan istrimu, nanti kita pergi saja sama-sama. Sekalian liburan disana," ujar Bu Sinta memberikan saran.
"Wah boleh tuh, Mah. Nara juga ingin jalan-jalan," Anara merasa senang karena dia bisa pergi berlibur.
"Kita packing malam ini, besok langsung otw," ucap Bu Sinta.
"Ayo! Nara mau packing juga," Anara beranjak dari duduknya, lalu pergi ke kamar.
Bu Sinta dan Andika saling tatap.
"Fix, anakmu nanti suka traveling," ucap Bu Sinta.
"Mamah sukanya nebak-nebak."
"Tapi benar loh, masa tiba-tiba istrimu suka musik rock, suka pakaian sexy, ini lagi terlihat senang sekali hanya karena mau di ajak pergi jauh. Ya, Mamah bisa menebaknya," jelas Bu Sinta.
"Iya, sih. Tapi dia suka makan, memangnya anak laki-laki suka makan juga?"
"Namanya juga ibu hamil, yang namanya ngidam itu pasti semuanya mengalami. Kalau suka makan, ya memang kalau ibu hamil itu mudah sekali lapar," ujar Bu Sinta.
__ADS_1
Hanya sebentar mereka mengobrol. Andika pergi ke kamar anaknya, karena Eva sejak tadi merengek sambil menarik-narik bajunya.
Bu Sinta menatap Adelia yang sedang duduk di sebelahnya.
"Adel sudah ngantuk?"
Adelia hanya menggelengkan kepalanya.
"Nanti tidur sama Nenek, ya!"
"Tidul ... " ucap Adelia sambil menganggukan kepalanya.
"Iya, sayang. Tapi tidur yah bukan tidul. Coba ulang," Bu Sinta meminta cucunya kembali berucap. "Tidur," ucap Bu Sinta.
"Tidul," ucap Adelia.
"Cucu Nenek pintar sekali," Bu Sinta mengusap pucuk kepala Adelia.
••••••••
Andika sudah membeli tiket pesawat tujuan jakarta-purbalingga. Namun adanya jam penerbangan siang. Walaupun tujuannya ke purwekerto, namun untuk bandara terdekat ada di purbalingga.
Anara keluar dari kamarnya. Dia melihat suaminya yang sedang duduk sendirian.
"Mas, kita berangkat jam berapa?"
"Baiklah, kalau begitu aku mau cek barang bawaan. Takutnya ada yang tidak di bawa," Anara kembali pergi dari hadapan suaminya.
Terlihat Pak Indra memasuki rumah. Kebetulan Pak Indra habis jogging di sekitar komplek. Pak Indra akan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Namun Andika bertanya sesuatu sehingga Pak Indra menghentikan langkahnya.
"Pah, baru pulang?" tanya Andika.
"Iya nih, Nak." jawabnya.
"Papah beneran tidak mau ikut kita pergi? Mungkin Papah berubah pikiran?"
"Tidak, Nak. Papah tetap tidak ingin ikut. Papah takut jika penyakit Papah kambuh, nanti malah menyusahkan kalian disana."
"Semoga saja tidak kambuh, Pah."
"Iya, Nak. Tapi Papah tetap tidak ingin ikut. Kalian saja yang pergi," ucapnya sambil tersenyum menatap Andika.
"Baiklah," Andika tidak ingin memaksa jika memang Pak Indra tidak ingin ikut.
°°°°°°
__ADS_1
Anara dan yang lainnya sudah berada di pesawat. Ternyata perjalanan dari jakarta ke purbalingga cukup cepat. Hanya sekitar tujuh puluh menit saja sudah sampai.
Andika menatap istrinya yang sedang tidur. Dia mencoba untuk membangunkannya.
"Sayang, bangun! Kita sudah sampai loh," Andika menepuk pelan pipi istrinya.
"Eugghhh ... "Anara mengerjapkan ke dua matanya. Dia menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.
"Kita sudah sampai, sayang." ucap Andika.
"Kok cepat sekali?" Anara merasa baru saja dia tertidur, tapi ternyata sudah sampai.
"Iya, sayang. Kalau pakai pesawat itu lebih cepat."
Semua penumpang turun dari pesawat secara bergantian. Anara dan Andika turun paling belakang. Karena tadi Anara masih tertidur.
Bu Sinta melihat anak dan menantunya yang baru turun dari pesawat.
"Kalian kok lama sekali?" tanya Bu Sinta.
"Tadi Dika bangunin Nara dulu, Mah." jawab Andika.
"Sekarang kita cari penginapan yuk!" ajak Bu Sinta.
"Iya, Mah. Tapi kira-kira ada penginapan yang bagus tidak yah?" tanya Andika.
"Kita cari dulu saja. Tapi kalau di kampung ya pasti penginapan tidak ada yang sebagus di kota," jawab Bu Sinta.
Mereka keluar dari bandara. Andika menelfon agen mobil rental untuk segera mengantar mobil yang dia sewa ke bandara. Karena Andika sudah memesannya lewat online.
"Dika, kita naik apaan nih?" tanya Bu Sinta, sambil menatap anaknya.
"Tenang, Mah. Nanti mobil yang Dika sewa datang kok," ucapnya.
"Mas, aku haus," rengek Anara.
"Biar Mamah yang beliin, Nak. Mamah juga haus nih ingin minum yang dingin," sahut Bu Sinta.
"Terima kasih, Mah." kata Anara.
"Sama-sama, Nak." jawabnya.
Bu Sinta sudah kembali dengan membawa empat botol minuman dingin untuknya dan untuk yang lainnya.
Tak lama, mobil yang Andika sewa sudah datang. Andika mengajak mereka untuk naik ke dalam mobil. Langsung saja dia mengendarai mobil itu menuju ke penginapan terbaik yang ada di daerah sana.
__ADS_1
°°°°°°°°°
Yang penasaran dengan vanesa, tunggu saja waktunya🤣🤣