Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode 32


__ADS_3

"Maaf, Om, Tante, bagaimana jika sebaiknya saya dan Adel segera menikah saja? Saya ingin bertanggung jawab atas perbuatan saya," Rian berbicara dengan sangat berhati-hati. Dia takut perkataannya menyinggung.


"Tante setuju, Nak. Lebih cepat itu lebih baik," ujar Bu Anara.


"Nunggu anak itu lahir saja. Karena pernikahannya harus di gelar secara mewah," ujar Pak Andika memberikan pendapat.


"Pah, apa tidak kelamaan?" tanya Bu Anara.


"Justru itu, Mah. Kita menguji dulu seberapa besar kesetiaan Rian kepada Adel. Jika dia sanggup, itu berarti dia memang bersungguh-sungguh. Tapi jika dia tidak sanggup, itu berarti dia bukan pasangan yang pantas untuk Adel," ujar Pak Andika.


Bu Anara melirik Adelia yang duduk tak jauh darinya.


"Menurutmu bagaimana, Del?" Bu Anara beralih bertanya kepada Adelia.


"Setelah melahirkan saja, Mah. Lagian jika menikah sekarang, setelah anak ini lahir juga harus nikah ulang lagi."


"Baiklah jika itu keputusanmu," Bu Anara hanya menurut saja apa yang menjadi keputusan anaknya.


Walaupun Adelia berbicara seperti itu, tapi Bu Anara tahu jika anaknya itu masih memiliki keraguan terhadap Rian. Itu terlihat dari tatapan matanya.


Setelah mendengar keputusan Adelia, Rian hanya mengikutinya saja. Yang penting Adelia sudah setuju untuk menikah dengannya.


Hanya sebentar Rian berada disana. Karena dia merasa lelah dan butuh istirahat, jadi dia memutuskan untuk pulang.


Setelah kepergian Rian, Adelia juga pergi ke kamarnya.


Tring tring


Adelia yang baru sampai di kamar, mendengar ponsel miliknya berdering. Dia mengambil ponsel miliknya dan melihat dari siapa panggilan telpon itu. Ternyata Clarissa yang menghubunginya.


📞"Hallo, Kak." ucap Adelia.


📞"Hallo, Del. Kamu sudah sampai?"

__ADS_1


📞"Sudah nih, beberapa menit yang lalu."


📞"Syukurlah, oh iya, apa Rian ada bersamamu?"


📞"Tidak, dia sudah pulang tadi. Memangnya kenapa?"


📞"Tidak kok, apa aku boleh meminta tolong?" tanya Clarissa.


📞"Boleh, minta tolong apa, Kak?" tanya Adelia.


📞"Aku minta nomor ponselnya Rian," ucap Clarissa dari seberang sana.


Sejenak Adelia diam, untuk apa Clarissa meminta nomornya Rian. Tapi mungkin memang ada kepentingan. Lagian bukan haknya dia untuk bertanya-tanya. Karena dia dan Rian masih belum memiliki hubungan yang jelas.


📞"Nanti aku kirimin ke nomor Kakak."


📞"Wah, makasih, Del."


📞"Sama-sama, Kak."


°°°°°


Terlihat Eva yang baru pulang ke rumah. Kebetulan dia baru pulang dari rumah temannya. Eva menghampiri Bu Anara yang sedang duduk sendirian.


"Mah, katanya Kak Adel pulang, sekarang dimana?" tanya Eva.


"Ada di kamarnya, cepat deh kamu tengokin," ucap Bu Anara.


"Siap, Mah." Eva melangkahkan kakinya menuju ke kamar Adelia.


Kebetulan Kamar itu tidak tertutup. Eva masuk begitu saja.


"Kak Adel," terlihat Eva tersenyum menatap Adelia.

__ADS_1


Adelia menengok ke sumber suara. Dia senang karena bisa bertemu dengan adiknya lagi.


Perlahan-lahan Eva mendekati Kakaknya. Lalu dia memeluknya dengan erat.


"Maafin Eva ya, Kak." ucap Eva yang sedang memeluk Kakaknya.


"Maaf untuk apa, Eva? Justru Kakak yang mau minta maaf karena sudah membuat pernikahanmu dan Rian berakhir."


Kini Eva sudah melepaskan pelukannya.


"Eva sudah maafin kok. Lagian itu bukan kesalahan Kakak," ucapnya.


Eva melirik perut buncit Adelia. Dia mengusap perut itu dengan pelan.


"Dia cewek atau cowok, Kak?" tanya Eva.


"Kata dokter sih cowok, tapi tidak tahu juga sih. Mau cowok atau cewek sama saja."


"Asyik dong kalau punya ponakan cowok, nanti bisa di ajak main pistol-pistolan."


"Kamu kapan nyusul?"


"Ah santai, lagian Kakak juga belum nikah."


"Biar sekalian loh nikahnya, Va."


"Aku masih trauma, Kak. Belum mau menjalin hubungan yang serius dulu," ucapnya.


"Baiklah, tapi kamu jangan menutup pintu hatimu untuk siapa pun yang mendekatimu, Va."


"Iya, Kak. Aku akan berusaha membuka hatiku. Bila perlu untuk semua lelaki."


"Ah kumat lagi nih jiwa play girlnya."

__ADS_1


Eva hanya tertawa tanpa menimpali perkataan Adelia.


Sebenarnya Bu Anara takut jika Eva dan Adelia saling bermusuhan karena masalah itu. Namun Eva bisa mengikhlaskannya berkat bantuan Bu Vanesa yang selalu menasehatinya. Bu Vanesa takut jika Eva dendam kepada Adelia, nanti malah akan hidup sendiri tanpa siapa pun di sampingnya seperti dirinya.


__ADS_2