
Kebetulan hari ini hari libur. Aldi menemani Anara pergi ke rumah orang tuanya. Anara ingin menemui Vanesa untuk menasehatinya.
Aldi melihat istrinya yang sedang bercermin sambil merapihkan penampilannya.
"Sayang, sudah selesai belum?" tanya Aldi.
"Sebentar lagi nih," Anara mengambil ikat rambut yang tergeletak di atas meja rias. Lalu dia mengikat rambutnya agar tidak terlalu gerah.
Aldi melihat istrinya yang sudah selesai bersiap. Lalu keduanya keluar dari kamar. Anara menghampiri Ani, karena dia akan mengajak Baby Adel. Kebetulan Ani sudah memakaikan Baby Adel pakaian yang bagus. Baby Adel terlihat cantik, apalagi dengan memakai bando berwarna pink yang ada di kepalanya. Itu membuatnya terlihat lucu.
"Wah anak Mamah cantik sekali," Anara mengambil Baby Adel dari gendongan Ani.
"Papah mau lihat yang cantik dong," Aldi melangkah mendekati istrinya. Dia melihat Baby Adel yang saat ini ada di gendongan istrinya. "Cantik sekali anak Papah," Aldi beberapa kali mencium pipi anaknya.
"Iya dong, Pah. Mamahnya juga cantik," Anara menirukan suara anak kecil.
"Iya deh, kalau tidak cantik, tidak mungkin aku mau," Aldi mencubit gemas pipi istrinya.
"Sakit tahu," Anara mengerucutkan bibirnya sambil menatap suaminya.
"Itu bibir jangan manyun seperti itu, nanti aku cium baru ketagihan," kata Aldi.
Pluk
Anara memukul lengan suaminya.
"Jangan bicara ciuman, nih ada ada kecil," Anara menunjuk anaknya dengan arah pandangnya.
"Masih kecil inih, sayang. Tidak tahu kalau lihat papah Mamahnya lagi ngapa-ngapain."
"Huss, kita pergi saja!" Anara melangkah pergi mendahului suaminya. Dia sengaja karena takut suaminya bicara yang aneh-aneh. Anara malu karena di sana ada Ani yang mendengar obrolan mereka.
"Sayang, tunggu!" Aldi mengejar istrinya yang sudah melangkah duluan.
Aldi membukakan pintu mobil untuk istrinya. Anara tersenyum menatap suaminya, lalu dia masuk ke mobil. Aldi kembali menutup pintu mobil itu.
Aldi segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Pak Indra.
"Sayang, kita mau beli apa untuk di bawa?" tanya Aldi, sambil fokus mengemudi.
"Kita beli kue saja nanti di swalayan depan," ucapnya.
"Baiklah," Aldi kembali diam, dia tak lagi bicara.
Setelah sampai di depan swalayan, Aldi turun dari mobil lalu pergi untuk membeli kue. Sedangkan Anara menunggu di dalam mobil.
Anara melihat suaminya yang sudah kembali dengan menenteng plastik putih berisi kue bolu.
"Sayang, ada yang mau di beli lagi tidak?" tanya Aldi, yang kini sudah masuk ke mobil.
__ADS_1
"Tidak ada," ucap Anara.
"Baiklah," Aldi kembali mengemudikan mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu lama, kini mobil yang di kendarai Aldi memasuki halaman rumah Pak Indra. Keduanya segera turun dari mobil dan melangkah mendekati pintu masuk.
Tok tok
Anara mengetuk pintu, kebetulan yang membukakan pintunya Pak Indra.
"Masuk!" ucapnya.
Anara dan Aldi melangkah masuk mengikuti Pak Indra. Saat di ruang keluarga, Anara diam berdiri di tempatnya. Dia tidak mau duduk di sofa itu. Karena dulu ayahnya selalu melarangnya.
"Sayang, kok kamu berdiri saja?" tanya Aldi, yang saat ini sudah duduk di sofa.
"Aku mau menghampiri Kak Nesa," Anara menatap ayahnya.
"Nesa ada di taman belakang," kata Pak Indra.
Anara memberikan Baby Adel kepada suaminya. Lalu dia segera pergi untuk menemui Vanesa.
Anara melihat Vanesa yang sedang duduk sendirian sambil memakai kutek.
"Kak Nesa," Anara memanggil Kakaknya.
Vanesa menatap ke sumber suara. Lalu dia kembali mengalihkan arah pandangnya.
Anara duduk di depan Vanesa.
"Siapa lelaki yang kemarin pergi ke hotel sama Kakak?" tanya Anara.
Vanesa menghentikan aktifitasnya. Dia menatap Anara yang sedang duduk di depannya.
"Apa maksudmu?"
"Kemarin aku lihat Kak Nesa sama seorang lelaki pergi ke hotel X," ucapnya.
"Oh," Vanesa bersikap tenang.
"Kok Kak Nesa bersikap tenang seperti itu?"
"Lalu, aku harus bersikap bagaimana? Memang itu kenyataannya," ucap Vanesa.
"Kak Nesa selingkuh?"
"Bukan urusanmu! Awas saja kalau kamu bicara sama Papah, apalagi sama Mas Andika," Vanesa mengancam Anara.
"Nara mohon, Kak. Sudahi hubungan Kak Nesa dengan lelaki itu. Jika suatu saat Kak Dika tahu, dia marah dan ninggalin Kakak, Kak Nesa juga yang akan menyesal," ucap Anara.
__ADS_1
"Tidak usah menasehatiku! Lebih baik kamu pergi!" Vanesa mengusir Anara, karena dia malas mendengar ocehannya, yang menurutnya terlalu ikut campur.
"Baiklah, aku pergi. Tapi Kak Nesa renungkanlah perkataanku," Anara beranjak dari duduknya. Lalu dia melangkah pergi.
Benar juga yang di katakan Nara, jika Mas Andika meninggalkanku dan mencari wanita lain, itu bisa gawat,' batin Vanesa.
Anara menghampiri suaminya yang sedang mengobrol dengan Pak Indra. Lalu dia mengajaknya pulang. Aldi menuruti ajakan istrinya untuk pergi, karena dia tahu jika hubungan Anara dan Pak Indra kurang baik.
°°°
Vanesa melihat suaminya yang baru pulang kerja. Dia menyambutnya dan membawakan tas kerjanya. Lalu keduanya pergi ke kamar.
Vanesa duduk di pinggiran ranjang sambil menatap suaminya yang sedang melepas kemejanya.
"Mas, besok kita pergi berlibur yah. Sudah lama loh kita tidak pergi berlibur."
"Baiklah, besok pagi kita pergi." ucapnya.
Tring
Andika mendengar ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk. Dia mengambil ponselnya yang dia taruh di saku celananya. Ternyata itu pesan masuk dari Melisa.
☆Melisa☆
Sayang, nanti malam jadi kan kita menginap di luar. Kamu sudah janji loh, awas yah kalau tidak datang nanti aku mengadu kepada istrimu jika aku hamil anakmu.
Sekiranya seperti itu pesan yang di kirimkan oleh Melisa.
Astaga, aku lupa jika sudah berjanji kepada Melisa, ' batin Andika.
"Sayang, pesan dari siapa?" tanya Vanesa, yang melihat suaminya begitu serius menatap layar ponselnya.
"Dari manager di kantor cabang bandung, katanya ada sedikit masalah. Sepertinya malam ini Mas harus pergi," ucap Andika.
"Yah, kalau pergi, berarti besok kita tidak bisa pergi berlibur dong."
"Maaf, sayang. Lain waktu saja yah."
"Baiklah," Vanesa menghela nafasnya. Sudah lama sekali dia dan Andika tidak pernah pergi berlibur.
Masa iya aku ajak Kenzo lagi, nanti kalau ada yang melihat, bisa gawat,' batin Vanesa.
Andika menghapus pesan yang di kirimkan oleh Melisa. Dia takut jika Vanesa membuka ponselnya dan membaca pesan itu. Andika pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Andika menyiapkan beberapa pakaian dan memasukannya ke koper.
Penampilan Andika sudah terlihat rapih. Dia segera berpamitan kepada istrinya. Vanesa meminta suaminya untuk pergi setelah makan malam, namun Andika menolaknya.
Vanesa meminta di belikan oleh-oleh kepada suaminya. Andika menyanggupi permintaan istrinya.
__ADS_1
Vanesa mengantar suaminya hingga ke depan rumah. Dia kembali masuk ke rumah saat mobil yang di kendarai suaminya sudah pergi.
°°°