Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.88


__ADS_3

Alan sudah sampai di London. Sengaja dia tidak mengatakan kedatangannya itu kepada kakaknya.


Alan yang baru keluar dari bandara, mencari taxi yang lewat. Tak lama menunggu, akhirnya ada juga taxi yang lewat. Dia menyetop taxi itu, lalu segera masuk dan memintanya untuk mengantarkannya ke rumah kakaknya.


Akhirnya Alan sampai juga di depan rumah kakaknya. Setelah turun dari taxi, dia melangkah memasuki gerbang depan rumah kakaknya.


Alan melihat seseorang yang sedang menyapu di depan rumah. Wanita itu membelakanginya. Namun penampilannya terlihat feminim.


"Permisi," ucap Alan menyapanya.


Wanita itu menoleh ke belakang, dan terlihat terkejut saat melihat kedatangan Alan.


"Kiara," Alan memperhatikan penampilan Kiara yang terlihat berbeda. Sekarang lebih terlihat cantik, bahkan wajahnya lebih cerah karena memakai make up.


"Ngapain kamu disini?" Kiara tidak mau terlihat seperti sedang merindukan Alan.


Alan langsung menghambur ke pelukan Kiara, untuk memastikan jika Kiara itu wanita yang berdansa dengannya malam itu atau bukan.


Deg deg


Alan merasakan perasaan yang sama seperti saat berdansa malam itu. Mungkin benar jika wanita yang malam itu berdansa dengannya itu Kiara.


Sejak tadi Kiara mencoba untuk melepaskan pelukannya dari Alan. Namun Alan menahan tubuhnya sehingga dia tidak bisa melepaskannya.


"Alan, lepaskan!"


"Kia, jadi kamu wanita yang berdansa denganku malam itu," Alan mengusap pelan tengkuk Kiara, dan tentunya itu membuat Kiara merasa geli.


"Apa-apaan sih? Aku tidak bisa dansa," setelah mencoba beberapa kali, akhirnya Kiara bisa melepaskan diri dari pelukan Alan.

__ADS_1


Alan tersenyum menatap Kiara, lalu dengan cepat dia menyambar bibir mungil itu.


Plak


Kiara menampar Alan yang menurutnya sangat tidak sopan.


"Jangan cium-cium!" Kiara menatap Alan dengan tatapan tajam. Lalu dia segera masuk ke rumah tanpa menyuruh Alan ikut masuk.


Kiara berpapasan dengan Eva yang kebetulan habis keluar dari kamarnya.


"Kia, kenapa wajahmu memerah?" Eva memperhatikan raut wajah Kiara.


"Tidak, aku tidak kenapa-napa kok," jawabnya.


"Masa sih?"


Belum juga Kiara menjawab, Eva mendengar ada suara seseorang yang memanggilnya.


"Kak, aku ke kamar dulu," Kiara buru-buru pergi dari sana.


Eva heran dengan tingkah Kiara yang tidak biasa. Dia menatap Alan penuh curiga. Sepertinya tingkah Kiara yang tak biasa itu ada kaitannya dengan adiknya.


"Alan, apa yang kamu lakukan kepada Kiara?"


"Aku tidak ngapa-ngapain kok. Cuma peluk cium dikit," ucap Alan yang berbicara apa adanya.


"Astaga, baru ketemu kok sudah bertingkah saja sih. Kamu jangan permainkan perasaannya."


"Tidak kok, aku main dengan perasaan, bukan memainkan perasaan," ucap Alan.

__ADS_1


"Ayo duduk! Kakak mau bicara sama kamu," ajak Eva.


Kini keduanya sudah duduk berhadap-hadapan.


"Apa yang ingin kakak katakan?"


"Sebenarnya apa niat kedatanganmu kesini?"


"Aku ingin mencari wanita bertopeng yang saat itu berdansa denganku."


"Lalu, kenapa kamu carinya kesini?"


"Karena wanita itu Kiara. Kakak tahu kan soal ini? Tidak mungkin jika kakak tidak tahu."


"Iya Kakak tahu. Jadi kamu cari Kiara hanya karena itu? Kamu tidak mencari anakmu?"


"Kata siapa aku hanya mencari Kiara. Aku juga mencari anakku kok. Aku merasa tak tenang setiap malam bermimpi bayangan wanita menggendong anak kecil. Mungkin itu naluri antara ayah dan anak."


Eva memegang kening adiknya.


"Kakak kira aku sakit?" Alan menjauhkan tangan Eva.


"Tumben kamu waras. Sekarang sudah ingat sama Kiara dan anakmu. Dari kemarin-kemarin kemana?"


"Entahlah, lupakan saja yang kemarin. Yang pasti saat ini aku ingin bersama dengan calon istriku dan anakku."


"Calon istri? Memangnya Kia mau sama kamu?"


"Aku paksa saja nanti, kak." Alan akan melakukan cara apa pun agar Kiara mau menerimanya.

__ADS_1


Eva senang melihat adiknya yang sudah berubah.


__ADS_2