Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.126


__ADS_3

Di dalam sel tahanan, Vanesa tidak bisa tidur nyenyak. Setiap malam Ayahnya hadir di dalam mimpi. Ayahnya memintanya untuk bertaubat. Terkadang dia mendengar suara aneh seperti suara orang menangis. Namun hanya dia yang mendengar. Temannya yang satu sel dengannya, tidak pernah mendengar hal-hal yang aneh.


Pagi ini Vanesa bangun lebih awal, padahal masih jam lima pagi. Lagi-lagi dia mendengar suara yang sering dia dengar.


"Pergi! Jangan ganggu aku!" teriak Vanesa, sambil menutupi ke dua telinganya.


Semua teman satu sel yang sedang tidur merasa terganggu.


"Berisik! Ganggu orang tidur saja," ucap seorang wanita berbadan gemuk yang suka mengatur teman-temannya.


Vanesa hanya menatap sekilas wanita itu. Lalu dia menelusupkan wajahnya di antara lututnya. Badannya gemetar seolah menahan rasa takut. Tak lama, Vanesa kembali mengangkat kepalanya. Dia tersenyum, tertawa, bahkan menangis.


Semua temannya yang ada di sel tahanan yang sama, merasa takut. Salah satu dari mereka ada yang berteriak memanggil polisi.


Tak lama seorang polisi datang kesana.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Pak Polisi.


"Dia gila, Pak. Sejak tadi tertawa sendiri," ucapnya sambil menatap Vanesa.


"Biar saya pindahkan ke sel tahanan yang lain," Pak polisi itu memanggil temannya sekaligus mengambil kunci untuk membuka sel itu.


Kini Vanesa di pindahkan ke dalam sel tahanan yang lain. Dia hanya sendirian disana. Niatnya, nanti Pak Polisi akan menghubungi Dokter yang bekerja di rumah sakit jiwa, untuk mengecek keadaan Vanesa.


°°°°°°


Andika yang sedang bersantai bersama keluarganya, mendengar ponsel miliknya berdering. Lalu dia mengangkat panggilan telfon itu.

__ADS_1


📞"Hallo," ucap Andika.


📞"Maaf, Pak Andika. Ini saya dari kepolisian mau memberitahu jika Bu Vanesa di pindahkan ke rumah sakit jiwa," ucapnya.


📞" Rumah sakit jiwa? Kok bisa?"


📞"Iya, Pak. Bu Vanesa selalu berhalusinasi. Jadi lebih baik di tangani oleh pihak RSJ."


📞"Baiklah, kalau boleh tahu, Vanesa di bawa ke RSJ mana?" tanya Andika.


📞"RSJ Mutiara Kasih," jawab Pak polisi.


📞" Terima kasih infonya, nanti saya dan keluarga akan kesana."


Kini panggilan itu telah berakhir.


"Mas, siapa yang menelfon?" tanya Anara.


"Polisi, tadi memberitahukan jika saat ini Vanesa di bawa ke rumah sakit jiwa," ucapnya.


"Kok bisa?"


"Iya, kata Pak Polisi, Vanesa selaku berhalusinasi," ucapnya.


"Nara kasihan sama Kaka Nesa. Kenapa yah nasibnya jadi seperti itu?"


"Itu sudah takdir, sayang. Lebih baik kamu berdoa saja agar Vanesa cepat sembuh."

__ADS_1


"Iya, Mas. Walaupun Kak Nesa jahat, tapi aku tidak bisa membencinya. Biar bagaimanapun dia itu tetap Kakakku. Dan aku harus memberi dukungan dengan keadaannya yang seperti itu," ujar Anara.


°°°°°°°°°°°


Anara sudah memberitahu Bu Sinta tentang kondisi Vanesa.


Niatnya siang ini Anara akan pergi ke rumah sakit jiwa dengan suaminya. Bu Sinta sengaja tidak ikut, karena lebih memilih untuk menjemput cucu-cucunya di sekolah.


Anara dan Andika sudah ada di perjalanan menuju ke rumah sakit jiwa. Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu lama, kini mereka sudah sampai.


Mereka langsung bertanya dimana Vanesa di rawat.


Seorang perawat keluar dari kamar khusus bersama Vanesa. Kebetulan Anara dan Andika meminta untuk bertemu.


"Kak Nesa, Kakak yang sabar ya," ucap Anara kepada Vanesa.


Namun Vanesa tidak mendengarkan perkataannya. Vanesa hanya sibuk memainkan boneka yang sedang di pegangnya. Sesekali dia tertawa sambil mengajak boneka itu berbicara.


Cukup lama Andika dan Anara berada disana. Kini Andika mengajaknya pulang.


"Sayang, kita pulang yuk!" ajak Andika, kepada istrinya.


"Tapi aku ingin disini lebih lama. Aku kasihan melihat Kak Nesa seperti ini," kata Anara.


"Besok kita kesini lagi, sayang. Lebih baik sekarang pulang. Kasihan loh kalau anak-anak pulang sekolah, tapi tidak ada kamu di rumah."


"Baiklah," akhirnya Anara menurut dengan suaminya.

__ADS_1


°°°°°°


__ADS_2