
Sesuai janjinya, malam ini Andika mengajak istri dan anak-anaknya pergi keluar. Mereka akan makan malam sekaligus jalan-jalan di Mall.
"Anak-anak, semuanya sudah siap?" Andika bertanya kepada ke tiga anaknya yang sedang duduk di sofa.
"Sudah, Pah." ucap Adelia.
Andika mendekati anak-anaknya yang sedang duduk bersama istrinya. Lalu mengajaknya langsung pergi.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil. Andika dan Anara duduk di depan. Sedangkan anak-anaknya duduk di belakang. Sepanjang perjalanan ke tiga anak itu berceloteh.
Akhirnya mereka sudah sampai di salah satu Mall yang terkenal di kotanya.
"Alan, ayo Papah gendong," Andika hendak menggendong anak bungsunya. Namun Alan menolaknya.
"Aku bukan anak kecil, lebih baik Papah gendong Kakak saja," ucapnya, sambil menatap Adelia dan Eva.
Sejenak Andika memperhatikan anak sulungnya. Lalu dia beralih menatap istrinya.
"Mas, jangan heran gitu deh, anak kita ini memang seperti itu," kata Anara.
"Dewasa sebelum waktunya," ucap Andika.
"Nah itu tahu," Anara juga menatap anaknya yang sedang berdiri dengan pose ala lelaki dewasa.
"Alan tampan, coba saja kalau bukan adikku, pasti aku sudah naksir," ucap Adelia.
Alan memicingkan matanya menatap Adelia.
"Ogah, Kakak bukan tipeku," tolaknya.
Anara dan Andika menahan tawanya melihat tingkah anak-anaknya.
"Pasti ini Mas Dika yang mengajari mereka. Masih kecil tapi sudah tahu naksir," Anara menatap suaminya yang berdiri di sampingnya.
"Enak saja, mana mungkin aku mengajari mereka seperti itu."
Pembicaraan mereka terhenti saat melihat Alan melangkah dulu.
"Alan, tunggu!" ucap Anara dengan sedikit mengeraskan suaranya.
"Aishh ... anak itu," gumam Andika lalu menggandeng tangan ke dua anaknya. Sedangkan Anara sudah melangkah duluan mengejar Alan.
__ADS_1
Kini mereka sudah berada di sebuah restoran yang ada di Mall itu. Anara memesankan menu makan malam untuk mereka semua.
Anara senang karena dia bisa terus bersama keluarga kecilnya. Ke tiga anaknya sama sekali tidak kekurangan kasih sayang. Walaupun terkadang ada kecemburuan di antara mereka. Namun itu wajar, karena namanya juga anak kecil.
Terlihat beberapa waiters membawa pesanan Anara.
"Silahkan, Pak, Bu." ucapnya ramah.
"Terima kasih," Anara tersenyum menatap waiters itu.
"Sama-sama," jawab salah satu waiters.
Alan dengan gesit langsung mengambil apa pun yang dia mau. Semua yang ada disana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Anak cowok kok rakus, seperti anak cewek saja," Adelia menyindir adiknya.
Alan menatap tajam Adelia.
"Jangan bicara seperti itu, Adel. Mungkin adikmu kelaparan," tegur Anara.
"Sudah-sudah, jangan ada yang bicara saat makan," sahut Andika, yang tak mau ada perdebatan saat makan.
Setelah selesai makan malam bersama, Anara dan Andika mengajak anak-anaknya untuk bermain di area permainan.
°°°°°°°°°°°°
"Adel, Eva, kalian langsung gosok gigi ya, terus tidur," Anara mencium ke dua pipi anaknya sebelum anaknya masuk ke kamar.
"Iya, Mah." jawab Adelia.
Anara hendak mengantar Alan ke kamar juga. Namun ternyata Alan sudah tidak ada disana.
'Kemana itu anak? Perasaan tadi masih berdiri disini,' batin Anara.
Sudah bisa di tebak jika anaknya itu sudah pergi ke kamar. Anara memilih untuk pergi ke kamar Alan.
Cklek
Baru juga membuka pintu, Anara bisa melihat jika anaknya sedang berbaring di atas tempat tidur.
"Sayang, kamu pasti belum gosok gigi," Anara membuka selimut yang menutupi tubuh anaknya.
__ADS_1
"Malas, Mah. Ngantuk sekali," ucap Alan dengan sedikit manja.
"Astaga, tumben sekali manja," Anara menggendong anaknya, lalu mengajaknya ke kamar mandi.
"Mamah, aku sudah besar, tidak mau di gendong," Alan bergerak-gerak di dalam gendongan ibunya, meminta untuk di turunkan.
"Sudah besar kok tidak mau gosok gigi," sindir Anara.
"Bukan tidak mau, Mah. Tapi Alan sudah mengantuk sekali," ucap Alan.
"Baiklah, sekarang kamu gosok gigi, cuci muka, cuci kaki. Mamah tungguin kamu disini," Anara menurunkan Alan di depan kamar mandi.
Alan segera masuk ke kamar mandi. Sedangkan Anara hanya menunggunya di depan.
Setelah Alan keluar dari kamar mandi, Anara segera pergi dari kamar itu.
Andika melihat istrinya yang baru masuk ke kamar.
"Sayang, kok kamu lama sekali?"
"Tidak kok, hanya mengantar anak-anak, masa lama?"
"Tapi aku sudah menunggumu sejak tadi," Andika mendekati istrinya, lalu memeluknya.
"Mas, baru pulang loh, masih cape," Anara melepaskan pelukan suaminya.
"Kamu cukup diam menikmati, biar Mas yang bekerja," Andika menggendong istrinya, lalu merebahkannya di atas tempat tidur.
Sudah hal biasa bagi Anara, jika suaminya meminta haknya kapanpun dia mau.
Suasana kamar yang tadinya dingin, sekarang mendadak panas. Ke dua insan yang masih saling menyatu, menciptakan suara yang begitu erotis memenuhi ruangan itu.
°°°°°°°°°°°°
Kabur 🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️🏃♀️
**Season 1 Tamat.
◇
◇**
__ADS_1
Lanjut season 2 di lapak ini, tapi mikir dulu ya🤣Season 2 fokus kisah Adel ya,
Untuk Vanesa yang masih ada di RSJ, tenang, nanti season 2 masih ada Vanesa.nya, doakan saja kalau Vanesa udah tobat wkwkwk.