
Anara terbangun dari tidurnya. Dia merasa pegal di pinggangnya.
Bu Sinta menatap Anara yang sekarang sedang duduk.
"Nara, kamu sudah bangun?" tanya Bu Sinta
"Iya nih, tapi badanku pegal-pegal," Anara beranjak dari atas tikar. "Apa karena aku tidur di atas tikar ya?" Anara mendekati Bu Sinta yang sedang duduk di sofa.
"Bukan, Nak. Tadi ke dua anak kamu yang naik ke tubuh kamu. Mungkin itu juga berpengaruh ke tubuh kamu sehingga terasa pegal," ujar Bu Sinta.
"Tadi aku ketiduran saat jagain anak-anak. Karena aku merasa mengantuk sekali," ucap Anara.
"Memangnya Ani kemana?" tanya Bu Sinta.
"Kak Ani sedang pergi untuk bertemu dengan saudaranya," kata Anara.
"Lalu Bi Inem dimana? Kok tidak ada juga?" tanya Bu Sinta.
"Sedang pergi juga, Mah. Pamitnya sih mau menemui anaknya di kontrakannya."
"Seperti itu yah. Tapi Mamah kasihan tahu sama kamu. Mamah lihat kamu terlihat kelelahan karena jagain anak-anakmu."
"Nara tidak apa-apa kok, Mah. Lagian kalau Mamah ada disini, tugas Nara juga sedikit berkurang. Karena Mamah selalu membantu Nara menjaga anak-anak," kata Anara.
"Nak, Mamah mau tanya nih. Kamu kalau malam tidurnya sama suamimu atau anak-anak?" tanya Bu Sinta.
"Sama anak-anak, Mah. Tapi kadang sama Mas Dika juga. Memangnya kenapa, Mah?
"Mamah ingin kalian sering melakukan itu, biar kamu hamil lagi," ucap Bu Sinta.
"Iya, Mah. Nanti Nara bicara sama Mas Dika. Semoga saja Nara di kasih kepercayaan lagi," ucapnya.
"Amin," ucap Bu Sinta.
Obrolan mereka terhenti saat mendengar ketukan pintu dari luar. Bu Sinta membukakan pintunya. Ternyata yang datang itu Ani. Bu Sinta meminta Ani untuk menjaga anak-anak. Karena Bu Sinta sudah menyuruh Anara untuk beristirahat.
Bu Sinta masuk ke kamar Anara. Kebetulan Anara sedang tiduran di atas kasur.
"Nak, kamu sudah mendingan?" tanya Bu Sinta.
"Belum, Mah. Masih agak sakit," jawabnya.
"Sinih biar Mamah pijitin," ucap Bu Sinta.
"Memangnya Mamah bisa memijat?" tanya Anara, mencoba untuk memastikan.
"Bisa kok," Bu Sinta melangkah mendekati Anara.
__ADS_1
Anara merasa lebih enak saat si pijat oleh Bu Sinta. Ternyata Bu Sinta pintar memijat seperti sudah terlatih.
°°°°°°°
Anara melihat suaminya yang baru pulang dari kantor. Anara menghampirinya untuk menyambut kedatangannya.
"Selamat sore Mas Dika," Anara mendekati suaminya, lalu dia meminta tas kerja yang sedang si pegang oleh suaminya. Anara berniat untuk membawakan tas milik suaminya.
Anara mengantar suaminya pergi ke kamar. Sesampainya di kamar, Anara sibuk mengurus suaminya. Dia mencarikan pakaian ganti, lalu mengisi bathtub dengan air hangat.
Andika melihat istrinya yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mas, air hangat sudah siap, cepat mandi!" ucap Anara.
"Terima kasih, sayang. Kamu perhatian sekali deh sama aku," Andika merasa senang karena punya istri yang begitu perhatian seperti Anara.
"Sama-sama, itu sudah kewajibanku sebagai seorang istri," ucap Anara.
Andika beranjak dari duduknya. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihksn diri.
Hanya sebentar Andika berendam di air hangat. Sekarang dia sudah keluar dari kamar karena sudah selesai mandi.
Anara melihat rambut suaminya yang terlihat basah.
"Mas, biar aku yang keringkan rambutnya," tawar Anara.
"Baiklah, terima kasih, sayang." Andika tersenyum menatap istrinya.
"Sayang, kamu kok makin hari makin perhatian saja nih sama aku," Andika merasa senang karena istrinya begitu perhatian.
"Ini sudah kewajibanku sebagai istri," ucapnya. "Oh iya, tadi siang Mamah bicara sama aku, Mas." ucapnya lagi.
"Bicara apa?" tanya Andika.
"Mamah ingin memiliki cucu lagi, Mas." kata Anara.
"Wah sepertinya aku harus bekerja keras nih agar cepat jadi," ucap Andika sambil menatap istrinya.
"Iya, Mas. Nara juga akan berusaha biar bisa mengimbangi Mas Dika saat melakukan itu," ujar Anara.
"Wah, Mas suka nih jika istri begini." Andika mencolek dagu istrinya.
°°°°°°
Pagi ini Anara masih belum juga bangun. Mungkin karena semalam dia kecapean. Semalam Anara dan Andika melakukan ritual suami istri. Andika jadi lebih bersemangat, apalagi saat tahu jika Bu Sinta mengingikan seorang cucu lagi. Dengan begitu Andika bisa melakukannya kapan saja. Anara juga tidak bisa membantah. Dia akan berusaha mengimbangi keperkasaan suaminya.
"Eugghhh ... " Anara menggeliat, dia mengerjapkan ke dua matanya.
__ADS_1
Anara merasa lelah sekali. Apalagi tadi malam dia begadang. Anara tidur saat jam dua lewat.
Anara menatap ke bawah selimut yang menutupi tubuh polosnya. Dia tersenyum sambil mengingat kejadian semalam.
Cklek
Terihat pintu kamar mandi terbuka. Andika keluar hanya dengan menggunakan handuk saja yang melilit di tubuhnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Andika mendekati istrinya yang masih berbaring di atas tempat tidur.
"Iya, nih. Mas Dika ganti baju gih, nanti kedinginan," kata Anara.
"Tidak apa-apa, sayang. Jika Mas kedinginan, nanti bisa di hangatkan dengan tubuhmu," ucap Andika
"Mas Dika bicara apa sih?" Anara terlihat malu-malu saat mendengar perkataan suaminya.
"Kamu cantik jika sedang malu-malu seperti ini," Andika mendekatkan wajahnya dengan istrinya sehingga hanya berjarak beberapa sentimeter.
"Mas, cepat pakai baju!" perintah Anara, sambil memalingkah arah pandangnya.
"Nanti saja, sayang. Aku ingin bermain dulu," Andika melepaskan handuk yang melekat di tubuhnya. Lalu dia naik ke atas tempat tidur.
Andika mulai melakukannya lagi bersama istrinya. Entah itu yang ke berapa kalinya. Karena semalam mereka juga melakukannya hingga menjelang pagi.
Anara hanya pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suaminya. Padahal tubuhnya begitu lelah karena percin*taan semalam.
Andika merasa jika tidak ada pergerakan dari istrinya. Lalu dia menatap istrinya yang ternyata sedang memejamkan ke dua matanya. Andika memilih untuk menyudahi aktivitasnya.
"Sayang, kamu tidur?" Andika menepuk pelan pipi istrinya, namun ternyata istrinya tidak bangun.
"Sayang ... " Andika kembali membangunkan istrinya. Namun tidak ada respon apa pun.
Andika merasa panik, dia memakaikan pakaian ke tubuh istrinya. Sepertinya istrinya bukan tertidur. Jika tertidur, pasti saat dia memakaikan pakaian, istrinya akan terusik lalu bangun. Tapi kali ini istrinya diam seolah seperti orang yang sedang pingsan.
''Sayang, maafin aku,' batin Andika.
Andika pergi ke kamar mandi untuk mencuci beberapa bagian yang perlu di cuci. Lalu dia kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Andika akan membawa istrinya ke rumah sakit. Dia takut jika terjadi apa-apa dengannya.
Pak Indra melihat Andika keluar dari kamar dengan menggendong Anara.
"Nak, Anara kenapa?" tanya Pak Indra.
"Pingsan, Pah. Ini Dika mau bawa ke rumah sakit. Karena sejak tadi tidak bangun juga."
"Astaga, kenapa bisa terjadi?"
"Nanti saja Dika jelaskannya. Lebih baik sekarang kita pergi dulu," ucap Andika.
__ADS_1
Pak Indra mengikuti Andika keluar dari kamar itu. Dia akan ikut ke rumah sakit.
°°°•°°°