Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.85


__ADS_3

Andika menatap istrinya yang sedang bercermin sambil menyisir rambutnya. Dia mendekatinya, lalu memeluknya dari belakang.


"Kamu cantik sekali," bisik Andika di telinga istrinya.


"Memangnya kemarin-kemarin tidak cantik?"


"Tidak, sayang. Kemarin-kemarin istriku ini terlihat biasa saja," ucapnya.


"Perasaan wajahku sama saja deh, apanya yang berubah?"


"Yang berubah, sekarang kamu ini sudah menjadi istriku."


"Jadi saat aku tidak menjadi istrimu, aku jelek?" Anara menatap wajah suaminya dari pantulan cermin.


"Bukan seperti itu, sayang."


Andika memutar tubuh istrinya sehingga sekarang sudah benar-benar berhadapan.


"Lalu sep ... " perkataan Anara terpotong karena saat ini Andika sudah membungkamnya dengan ciuman.


Anara menepuk-nepuk dada suaminya, karena dia kekurangan pasokan udara.


"Apa sih, sayang?"


"Cium kok tidak kasih aba-aba?"


"Oh jadi mau di kasih aba-aba dulu, baiklah," Andika menggendong istrinya lalu membawanya ke ranjang.


"Kak, main gendong saja," Anara mengalungkan ke dua tangannya di leher suaminya.


Andika membaringkan istrinya di atas tempat tidur.


"Mulai sekarang jangan panggil Kakak, karena aku suamimu, bukan Kakakmu," ucapnya, dengan jarak yang begitu dekat.


"Iya, Mas Andika." ucap Anara.


Deg deg

__ADS_1


Anara merasa dadanya berdetak begitu kencang, saat berada di posisi sedekat itu dengan suaminya.


Andika mulai mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Dia menatap dengan intens wajah cantik istrinya.


Cup


"Ini milikku, sayang." Andika mencium kening istrinya.


Lalu dia juga mencium ke dua pipi istrinya. Sejenak dia kembali memandang wajah cantik istrinya. Namun pandangannya beralih ke bibir istrinya yang terlihat menggoda.


Anara memejamkan ke dua matanya saat melihat arah pandang Andika. Andika langsung mendekatkan bibirnya. Baru juga menempel, namun mereka mendengar ketukan pintu dari luar kamar.


'Stt mengganggu saja,' batin Andika, lalu dia kembali menjauhkan wajahnya dari istrinya.


"Biar aku yang bukain pintu," Andika turun dari atas ranjang, lalu dia mendekati pintu kamar itu.


Cklek


Andika melihat Bu Sinta sedang berdiri di depan pintu.


"Ayo makan malam!" ajaknya.


"Baiklah, nanti Dika sama Nara akan turun," ucapnya.


"Kalau begitu Mamah pergi dulu," Bu Sinta kembali pergi dari sana.


Andika mengajak istrinya untuk turun, karena Ibunya sudah menunggu mereka untuk makan makan bersama.


Saat sudah sampai di lantai bawah, tiba-tiba lampunya mendadak padam.


"Mas," Anara memegang erat tangan suaminya.


"Tenanglah, kita cek dulu saklarnya," Andika terus menggadeng istrinya menuju ke saklar listrik. Namun baru juga lima langkah, mereka melihat cahaya lilin dari arah dapur. Dan tiba-tiba lampunya menyala lagi.


"Happy birthday to you ... Happy birthday to you ... Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday to you ... "ucap semua orang sambil mendekati Anara dan Andika.


Anara menutup mulutnya melihat kejutan itu. Air matanya keluar dari sudut matanya. Sungguh dia begitu terharu.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun, sayang. Semoga panjang umur, sehat selalu, apa yang kamu cita-citakan terwujud," ucap Bu Sinta lalu memeluk Anara. "Kenapa kamu menangis, sayang?"


"Nara terharu, Mah. Ini momen ulang tahun paling spesial untuk Nara."


"Jangan sedih, Nak. Lebih baik sekarang tiup lilin. Nanti keburu habis tuh lilinnya," ucap Bu Sinta, sambil melepaskan pelukannya.


Anara mulai berdoa, lalu dia meniup lilinnya.


"Maaf ya, sayang. Aku belum menyiapkan kado apa pun untuk kamu," ucap Andika.


"Anara tidak ingin kado apa pun, keluarga kita selalu harmonis seperti ini, itu sudah menjadi kado terindah di hidup Nara," ucapnya.


Andika mengusap sudut mata istrinya yang basah.


"Sayang, lebih baik sekarang potong kuenya," pinta Andika.


Anara menganggukan kepalanya.


Mereka semua memilih untuk duduk. Anara mulai memotong kue. Potongan pertama dia berikan untuk Pak Indra. Bahkan Anara juga menyuapkan kue kepada Pak Indra. Potongan ke dua dia berikan kepada suaminya, dan yang ke tiga kepada Bu Sinta.


Mereka hanya memakan satu potong kue. Setelah itu Bu Sinta mengajak mereka untuk segera makan malam.


Setelah selesai makan malam, Anara menghampiri anaknya yang ada di kamar bersama dengan Ani.


Sudah cukup lama Andika mengobrol bersama dengan Bu Sinta dan Pak Indra. Namun Anara belum juga kembali.


"Mah, Dika mau lihat anak-anak dulu," Andika beranjak dari duduknya.


"Iya, Nak." ucap Bu Sinta sambil menatap anaknya.


Setelah kepergian Andika, Bu Sinta dan Pak Indra juga memilih untuk beristirahat.


Andika sudah berada di kamar anaknya. Dia melihat Anara yang sedang tertidur dengan ke dua anaknya.


'Yah, gagal malam pertama deh,' gumam Andika dengan sedikit lesu.


•••••

__ADS_1


__ADS_2