
Sesuai rencana, Anara dan Aldi akan menikah secara sederhana. Tidak ada acara pesta apa pun, namun hanya ijab qabul saja.
Saat ini di kediaman Aldi lumayan rame. Karena ada beberapa kerabat, sahabat, yang memang datang untuk menghadiri acara pernikahan Aldi.
Terlihat Aldi yang sedang mengobrol bersama Andika dan Bu Sinta. Namun kedatangan Pak Penghulu menghentikan obrolan mereka.
"Biar Mamah yang panggil Anara, kamu bersiap saja, Nak." ucap Bu Sinta kepada Aldi.
"Iya, Mah." Aldi berpindah duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk ijab qabul.
Bu Sinta sudah berada di kamar Anara. Dia melihat Anara yang sedang duduk di depan cermin.
"Wah, kamu cantik sekali, Nak." Bu Sinta memuji kecantikan Anara.
"Terima kasih, Bu. Ibu juga cantik," ucapnya.
"Panggil Mamah dong sama seperti Aldi," pinta Bu Sinta.
"Iya, Mah." Anara senang sekali setelah sekian lama, dia bisa merasakan lagi kehangatan seorang Ibu.
Anara beranjak dari duduknya. Lalu dia memeluk Bu Sinta.
"Terima kasih, Mah. Karena Mamah sudah mau menerimaku sebagai menantu," kata Anara.
"Sama-sama, Nak. Mamah hanya menuruti saja semua keputusan Aldi. Mamah yakin jika kamu ini calon istri yang tepat untuk dia. Lagian Aldi dan Andika sudah sama-sama dewasa, Mamah tidak pernah menentang apa pun keingina mereka. Kecuali sesuatu yang menyimpang, Mamah baru bertindak."
"Oh iya, Nak. Kita harus cepat ke depan. Kebetulan Pak penghulunya sudah datang."
Anara segera melepaskan pelukannya.
"Ya sudah, Mah. Ayo kota keluar!" ucap Anara, lalu dia menatap Bi Inem yang sedang menjaga Baby Adel. "Bi, aku titip Adel dulu yah," pinta Anara.
"Baik, Non." jawab Bi Inem.
Bu Sinta menggandeng tangan Anara keluar dari kamar. Kini keduanya melangkah menuju ke tempat ijab qabul. Semua mata memandang Anara yang terlihat cantik dengan balutan kebaya putih. Tak terkecuali dengan Aldi yang sejak tadi tidak mengedipkan matanya. Bu Sinta mengantar Anara sehingga saat ini sudah duduk di sebelah Aldi.
"Al, lihatinnya biasa saja kali," Bu Sinta menepuk pelan bahu anaknya.
"Eh, Mamah." Aldi tersenyum menatap Ibunya.
__ADS_1
Kini acara ijab qabul terlaksana dengan lancar. Setelah mendapat arahan dari Pak penghulu, Aldi mampu mengucapkan ijab qabulnya dengan sekali ucap. Semua tamu yang hadir ikut berbahagia melihat sepasang suami istri yang baru sah itu. Namun ada dua orang yang terlihat tidak suka. Mereka yaitu Vanesa dan Dinda. Keduanya duduk dengan jarak jauh, karena malas melihat Anara yang terlihat bahagia.
Setelah menyaksikan ijab qabul, semua tamu yang hadir di arahkan untuk menikmati hidangan yang telah di sediakan. Anara dan Aldi memilih untuk duduk sambil mengobrol dengan Bu Sinta dan yang lainnya. Namun Anara tidak bisa berlama-lama. Karena harus kembali ke kamar untuk menjaga anaknya. Semua yang hadir juga memaklumi karena memang Anara punya anak kecil, jadi wajar saja jika tidak bergabung dan mengobrol lama.
Semua yang hadir tahunya jika Baby Adel itu anak dari Aldi dan Anara. Aldi membiarkan mereka berfikiran begitu. Baginya itu lebih baik dari pada orang-orang tahu jika Baby Adel itu anak yang lahir tidak jelas. Mungkin beberapa orang di antara mereka tahu jika sebenarnya Aldi bukan Ayah kandungnya. Namun karena iyu bukan urusan mereka, jadi tidak ada hak juga untuk bicara ke orang-orang.
Aku tahu jika nanti malam itu malam pertama Aldi dan Anara, dan Aldi pasti tidak akan pernah merasakan sesuatu yang pernah aku rasakan saat berhubungan dengan Anara. Karena akulah yang sudah mengambil kesuciannya," batin Andika sambil menatap Aldi yang terlihat sedang berbahagia.
Menjelang siang, beberapa tamu undangan memilih untuk pulang. Hanya ada keluarga saja yang berada disana.
"Al, kamu ke kamar saja deh, lagian semua tamu sudah pulang. Hanya kita saja yang masih disini," Bu Sinta menatap Anara.
"Saya pamit pulang dulu deh, takut ganggu pengantin baru," ucap Pak Indra.
"Saya juga pamit pulang," sahut Vanesa.
"Kok pada pulang sih? Memangnys tidak akan menginap?" tanya Bu Sinta.
"Tidak, saya tidak bisa tidur jika bukan tidur di kasur sendiri," ucap Pak Indra.
"Haha, Pak Indra bisa saja."
Aldi masuk ke kamar yang kebetulan tidak tertutup.
"Nara, ikut yuk!" ajak Aldi.
"Kemana, Kak?" tanya Anara.
"Ke kamar kita, biar nanti Adel sama Bi Inem atau Mamah," ucapnya.
"Baiklah," Anara mengecup singkat kening anaknya yang sedang tidur. Lalu dia pergi keluar kamar bersama Aldi.
Keduaya melangkah menuju ke kamar yang ada di lantai atas. Saat membuka pintu kamar, Anara begitu kagum melihat kamar yang sudah di dekorasi dengan indah.
"Wah, siapa yang menyiapkan semua ini?" tanya Anara sambil menatap suaminya.
"Mamah yang menyiapkan," jawabnya.
Anara duduk di pinggiran ranjang. Dia memegang kelopak bunga mawar merah yang sudah di bentuk huruf love.
__ADS_1
"Cantik sekali," gumam Anara.
"Iya cantik seperti kamu," Aldi mendudukan dirinya di depan istrinya.
Anara menatap Aldi yang juga sedang menatapnya. Namun lama kelamaan Aldi semakin mendekatkan wajah mereka. Sehingga di antara keduanya tidak ada jarak lagi. Kini keduanya saling ber*ciuman. Saat Aldi hendak berbuat lebih, Anara menepuk-nepuk dadanya. Sehingga Aldi melepaskan ciuman*nya.
"Kenapa, sayang?" tanya Aldi.
"Kita mandi dulu, ini kebaya juga belum ganti," ucap Anara.
"Baiklah," ucapnya.
Kini Anara beranjak dari duduknya lalu kembali ke kamar anaknya untuk mandi di kamar mandi yang ada disana. Kebetulan semua pakaiannya juga belum di pindahkan.
Aldi menatap kepergian istrinya, lalu dia juga memilih untuk mandi.
Semoga nanti tidak gagal lagi," gumam Aldi.
Setelah selesai mandi, Aldi keluar dari kamar mandi. Namun dia tidak melihat keberadaan istrinya di kamar. Akhirnya dia memilih untuk pergi ke kamar Baby Adel.
"Al, kamu mau kemana?" tanya Bu sinta yang melihat Aldi sedang menuruni tangga.
"Mau mencari Nara," ucapnya.
"Istrimu sedang me*nyusui anaknya. Lebih baik kamu tunggu saja," ucap Bu Sinta.
"Baiklah," kata Aldi sambil berjalan mendekati Bu sinta.
Akhirnya Aldi memilih untuk bersantai bersama Bu Sinta.
Cukup lama mereka mengobrol, namun Aldi tidak melihat Anara keluar dari kamar Baby Adel. Dia memutuskan untuk menghampiri istrinya.
Saat ini dia berdiri di depan pintu yang tertutup.
Cklek
Aldi melangkah masuk, dia melihat Anara yang sedang tidur sambil memeluk anaknya.
Astaga, sudah lama menunggu malah gagal lagi. Semoga saja nanti malam tidak akan gagal," gumam Aldi. Lalu dia kembali keluar dari kamar itu dengan sedikit lesu.
__ADS_1
°°°