Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2.Episode 7


__ADS_3

Satu bulan kemudian,


Hari yang telah di tunggu-tunggu telah tiba. Yaitu hari pernikahan Eva dan Rian. Pernikahan mereka di gelar di sebuah hotel bintang lima yang ada di ibukota. Adelia dan keluarganya terlihat kompak memakai pakaian seragam.


Tok tok


Terdengar ketukan pintu dari luar kamar hotel yang saat ini di tempati oleh Eva. Adelia membuka pintu itu. Ternyata yang datang Reno.


"Ada apa, Kak?" tanya Adelia.


"Pengantin wanita di suruh untuk segera bersiap. Kebetulan Pak penghulu sudah datang," ucap Reno.


"Sebentar, Kak. Kebetulan Eva juga baru selesai di rias," kata Adelia.


"Kalau begitu aku pergi dulu," Reno kembali pergi dari sana.


Adelia menghampiri Eva dan menyuruhnya untuk segera bersiap.


Bu Anara dan Adelia mendampingi Eva hingga sampai di ballroom hotel. Saat hendak melewati karpet merah, Adelia mundur ke belakang. Kebetulan Pak Andika yang berdiri di samping anaknya. Terlihat senyum mengembang di sudut bibir Eva. Dia begitu bahagia karena bisa menikah dengan Rian. Bu Anara dan Pak Andika mengantar Eva hingga sampai di tempat yang akan di pakai untuk ijab qabul.


Sejak tadi Rian terus menatap calon istrinya penuh kekaguman. Karena hari ini Eva terlihat sangat cantik.


Pak penghulu menatap Eva dan Rian yang duduk di depannya.


"Kedua mempelai, apakah sudah siap?" tanya Pak penghulu.


"Siap," ucap mereka kompak.


Pak penghulu mulai menikahkan Rian dan Eva. Rian menjabat tangan Pak penghulu. Dengan sekali ucap, dia mampu mengucapkan ijab qabulnya dengan benar.


Semua tamu yang hadir ikut berbahagia. Mereka ikut mengaminkan doa yang di ucapkan oleh Pak penghulu.


Setelah ijab qabul selesai, terlihat Pak Dirga berdiri sambil memegang microphone.


"Semua tamu undangan, minta waktunya sebentar. Di karenakan Rian dan Eva sudah melakukan ijab qabul, sekarang kita beralih ke pasangan yang lain. Reno dan Adelia di persilahkan untuk maju ke depan," pinta Pak Dirga.


Adelia bingung, kenapa dia disuruh maju ke depan. Dia menatap Ibunya yang sedang duduk di sebelahnya.


"Mah, ada apa ini?" tanya Adelia.


"Lebih baik kamu nurut saja, Nak." ujar Bu Anara.


"Tapi aku malu, ini sepertinya ada sesuatu yang serius."


"Cepatlah! Lihat tuh Nak Reno juga sudah ada di depan."

__ADS_1


"Baiklah," Adelia beranjak dari duduknya, lalu pergi ke depan untuk menghampiri Pak Dirga dan Reno.


"Semuanya, saya perkenalkan ini calon menantu saya, namanya Adelia. Di depan kalian semua, anak saya yang bernama Reno akan menyematkan cincin di jari manis Adelia sebagai tali pengikat. Saya senang sekali bisa berbesanan dengan Pak Andika, bahkan dengan dua putrinya sekaligus." ucapnya sambil menatap Pak Andika.


Reno memegang tangan kiri Adelia, lalu mulai menyematkan cincin di jari manisnya.


Semua tamu undangan yang hadir bertepuk tangan. Mereka ikut senang melihat kebahagiaan itu. Namun ada satu orang yang duduk di pojokan, kurang suka melihat kebahagiaan keluarga Pak Dirga.


'Sepertinya akan menarik jika aku sedikit bermain-main,' batin lelaki itu sambil menyunggingkan senyumnya.


Setelah tukar cincin, Adelia dan Reno kembali ke tempat duduk yang semula di duduki oleh mereka. Semua tamu undangan juga di persilahkan untuk menikmati hidangan mereka. Sedangkan pasangan Eva dan Rian di arahkan untuk berdiri di pelaminan. Keduanya di arahkan untuk berpose, lalu fotographer yang mereka sewa, mulai mengambil beberapa gambar.


°°°°°°°


Ballroom hotel sudah terlihat sepi. Semua tamu yang hadir juga sudah pulang.


Saat ini Eva dan Rian sudah berada di salah satu kamar hotel yang merupakan kamar pengantin mereka. Semua keluarganya juga menginap di kamar yang berbeda.


"Mas, mau aku bantuin buka jasnya?" tawar Eva yang kini sedang duduk di pinggiran ranjang.


"Tidak usah, biar aku sendiri saja," ucapnya, lalu mulai melanjutkan membuka kancing kemejanya.


Tring


Ponsel milik Rian berbunyi. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Rian membelalakan kedua matanya saat membaca pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal.


Rian menyimpan ponselnya di saku celananya. Lalu dia menatap Eva yang sedang melepas aksesoris di kepalanya.


"Aku keluar sebentar, ada temanku yang tadi telat hadir. Dia menungguku di luar," ucap Rian.


"Mau aku temani?"


"Tidak usah, kamu terlihat kecapean, nanti aku titipkan salam saja untuknya."


"Baiklah," Eva menuruti perkataan suaminya.


Rian sudah berdiri di depan kamar 402. Dari pesan yang dia terima, mantan kekasihnya berada di kamar itu. Rian hendak mengetuk pintu, namun terlihat seseorang menghampirinya.


"Maaf Tuan, ini minuman untuk anda dari Nona Clarissa. Kebetulan tadi Nona Clarissa yang memesannya," ucap seorang pelayan yang berdiri di samping Rian.


"Kebetulan sekali aku haus," Rian mengambil gelas berisi lemon tea, lalu meneguknya habis. Setelah itu dia menaruh kembali gelas yang kosong, dia mengetuk pintu kamar 402.


'Kenapa aku gerah sekali?' batin Rian.


Tak lama pintu itu terbuka, seorang wanita cantik menatap Rian yang sedang berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Rian, ngapain kamu disitu?"


Rian tidak menjawab, dia langsung menerobos masuk.


"Apa-apaan ini? Kenapa kamu masuk ke kamarku?"


Rian mendekatinya, lalu menghimpitkan tubuh wanita itu ke tembok. Rian menghirup aroma yang begitu harum. Dia memegang bibir tipis yang sudah lama dia rindukan. Dengan setengah kesadarannya, Rian melihat jika wanita yang ada di depannya itu Clarissa yang merupakan mantan kekasihnya yang sangat dia cintai. Mungkin itu efek dari minuman yang tadi dia minum.


"Cla, akhirnya kita ketemu lagi," Rian membelai wajah cantik wanita di depannya.


Plak


Satu tamparan mendarat di pipi Rian.


"Aku bukan Cla atau siapa itu, ini aku kakak iparmu," ucap Adelia dengan sedikit emosi.


"Sttt," Rian menaruh jari telunjuknya di bibir Adelia. "Siapapun kamu, aku sangat mencintaimu," ucapnya.


Plak


Adelia kembali menampar pipi Rian, lalu dia mendorongnya sehingga Rian menjauh dari tubuhnya.


Adelia menarik tangan Rian, dan dia hendak membuka pintu. Namun Rian menahan dengan tubuhnya sehingga pintu itu tidak terbuka.


"Sial, apa maumu?" tanya Adelia dengan sedikit berteriak.


"Aku mau kamu," Rian menggendong Adelia.


Adelia terus memberontak namun apalah daya, tenaganya tidak sebanding dengan Rian.


Bruk


Rian melempar tubuh Adelia ke atas kasur. Lalu dia membuka satu persatu kancing kemejanya. Sungguh dia begitu bergairah. Efek minuman yang tadi dia minum memang sangatlah dahsyat.


"Tidak ... " teriak Adelia, dan hendak turun dari atas tempat tidur. Namun dia kalah cepat oleh Rian.


Rian sudah mengunci pergerakan Adelia. Bahkan pakaian yang melekat di tubuh Adelia, dia tarik dengan paksa.


Saat ini keduanya sudah tidak berbusana. Rian segera melancarkan aksinya. Adelia hanya terisak, dia tidak bisa memberontak. Badannya sudah terlanjur sakit, apalagi hatinya yang terasa perih.


Adelia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya, terutama di pangkah pahanya. Setelah dua jam lamanya, akhirnya Rian menyudahi aksinya.


"Hiks hiks ... Kenapa ini terjadi kepadaku?" Adelia terus terisak. Dia merasa jijik karena sudah ternoda.


°°°°°°°°°

__ADS_1


Selamat membaca ....


__ADS_2