
Jam sepuluh malam, Bu Vanesa baru pulang. Saat membuka pintu, hal pertama yang di lihat, Eva dan Reno sedang tidur di sofa yang berbeda. Bu Vanesa tersenyum menatap keduanya.
Bu Vanesa mendekati mereka dan berniat membangunkannya.
"Eva, bangun, Nak." Bu Vanesa menepuk pelan bahu Eva.
Eva langsung terbangun saat di bangunkan oleh tantenya.
"Euughhh ... Tante baru pulang?" tanya Eva sambil menatap Bu Vanesa.
"Iya, nih. Ayo bangun! Pindah ke kamar," pinta Bu Vanesa.
Eva mendudukan diri di sofa. Lalu tatapannya tertuju ke sofa depannya. Terlihat Reno yang sedang tidur disana.
"Kok dia belum pulang?" ucapnya sambil menatap Reno.
"Mungkin dia menemani kamu, Nak."
Eva beranjak dari duduknya. Dia mendekati Reno, lalu membangunkannya.
"Hey, bangun!" Eva menepuk pelan pipi Reno.
Reno menggeliat, dia mulai membuka kedua matanya.
"Jam berapa ini?" itu yang Reno tanyakan saat dia baru membuka matanya.
"Jam sepuluh malam," jawab Bu Vanesa.
__ADS_1
"Tante sudah pulang? Syukurlah, kalau begitu aku pulang dulu. Tadi mau pulang tapi lihat Eva ketiduran disitu, ya sudah aku temani saja."
"Biar di antar supir Tante ya, Nak." ucap Bu Vanesa sambil menatap Reno.
"Tidak usah, Tan. Saya bisa mengemudi sendiri kok."
"Ya sudah, tapi lebih baik kamu cuci muka dulu, Nak. Biar lebih segar," ujar Bu Vanesa.
"Oke, Tan." Reno beranjak dari sofa lalu pergi untuk mencuci muka.
Setelah mencuci muka, kini Reno berpamitan untuk pergi. Eva dan Bu Vanesa mengantarnya hingga ke depan rumah.
Setelah mobil yang di kendarai Reno keluar dari halaman rumah, Eva dan Bu Vanesa kembali masuk ke dalam.
"Nes, sepertinya Nak Reno anaknya baik," ucap Bu Vanesa, sambil menatap Eva yang sedang mengunci pintu.
"Lalu?"
"Tante ada-ada saja, lagian masa habis sama kakaknya terus sama adiknya, apa kata orang nantinya."
"Tidak usah dengerin kata orang, kalau memang saling cinta, ya jalani saja."
"Tante ngaco deh, aku ke kamar dulu mau lanjut tidur," Eva melangkah pergi menuju ke kamarnya.
°°°°°°°°°°°°
Saat ini Pak Dirga dan Rian sedang berada di ruang makan. Mereka akan sarapan bersama. Namun Reno belum juga bergabung bersama mereka.
__ADS_1
"Rian, dimana adikmu?" tanya Pak Dirga.
"Rian tidak tahu, Pah. Tidak melihatnya," jawab Rian.
Pak Dirga memanggil pembantu rumahnya yang sedang mencuci piring di dapur.
"Bi ... Bibi ... " teriak Pak Dirga.
"Sebentar, Tuan." ucap Bi Inah, lalu menghentikan aktivitasnya. Bi Inah pergi menghampiri majikannya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Bi Inah.
"Bibi lihat Reno atau tidak?" tanya Pak Dirga.
"Dari semalam Den Reno pergi tapi belum pulang lagi, Tuan." ucapnya.
"Dasar anak itu, mulai berani dia," gumam Pak Dirga.
"Sudah, Pah. Biarkan saja, lagian Reno pasti bisa jaga diri."
"Kamu jangan membela adikmu itu, Rian. Lagian dia itu sudah memukuli kamu."
"Aku sudah memaafkannya kok, Pah. Lagian jika aku ada di posisinya, pasti aku juga akan melakukan hal yang sama," ucapnya.
Pak Dirga diam, dan lebih memilih untuk fokus sarapan.
Setelah selesai sarapan, Rian berpamitan untuk pergi ke kantor, sekaligus ada hal yang ingin dia urus juga di luar.
__ADS_1
Rian sudah berada di mobilnya. Dia menghentikan mobilnya di pinggir jalan, saat mendapat telfon dari orang suruhannya. Ternyata orang suruhannya mendapat jejak Adelia saat dibawa ke rumah sakit oleh Dokter William dan istrinya.
Rian meminta foto Dokter William dan istrinya. Dia juga meminta orang suruhannya untuk mencari informasi tentang suami istri itu. Siapa tahu mereka yang menyembunyikan Adelia.