Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.41


__ADS_3

Sudah genap dua bulan lamanya pernikahan Anara dan Aldi. Di antara keduanya terlihat sangat harmonis. Bahkan hampir tidak ada konflik sama sekali. Aldi juga mengganti nomor ponselnya agar Sherina tidak bisa menghubunginya lagi.


Saat ini Anara dan Aldi sedang berada di luar rumah. Kebetulan Aldi mengajaknya pergi ke tempat yang akan di jadikan cabang baru untuk cafenya. Tempat yang dia pilih cukup strategis. Karena tempat itu dekat keramaian.


Anara mendekati suaminya yang sedang mengecek perlengkapan yang kurang untuk cafe barunya.


"Kak Aldi, istirahat dulu yuk!" ajak Anara.


"Sebentar, sayang. Kamu duduk dulu deh," pinta Aldi.


"Baiklah," Anara mendekati salah satu kursi, lalu dia duduk disana.


Setelah selesai mengecek dan mencatat semua perlengkapan yang kurang, kini Aldi mendekati istrinya yang sedang duduk sendirian.


"Sayang, ayo kita pulang!" ajak Aldi.


"Sudah selesai?" tanya Anara, sambil menatap suaminya yang sedang berdiri di dekatnya.


"Sudah," ucapnya.


"Baiklah," Anara beranjak dari duduknya.


Kini keduanya keluar dari bangunan itu. Aldi mengunci pintunya kembali sebelum dia pergi.


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil. Aldi langsung mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya. Sepanjang perjalanan keduanya saling mengobrol, hingga saat ini mobil itu berhenti di lampu merah. Anara tidak sengaja menoleh ke luar kaca mobil. Dia melihat Vanesa bersama seorang lelaki ada di dalam mobil yang sama. Kebetulan mobil itu terbuka di bagian atasnya. Jadi terlihat jelas jika itu Vanesa.


"Kak Aldi, lihat deh ke sampingku! Itu Kak Nesa sama siapa?"


Aldi menoleh ke samping dan melihat Vanesa bersama seorang lelaki.


"Aku juga tidak tahu, sepertinya itu bukan Kak Dika," ucap Aldi.


"Kita ikutin yuk!" pinta Anara.


"Baiklah," ucap Aldi.


Saat mobil di depannya sudah melaju, Aldi kembali mengemudikan mobilnya. Dia sambil melihat mobil lelaki yang bersama Vanesa.


Cukup lama Aldi mengikuti mobil itu. Kini Aldi menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat hotel. Dia melihat Vanesa dan lelaki yang bersamanya pergi ke hotel. Dan mereka terlihat mesra seperti sepasang kekasih.


"Kak Nesa kok ke hotel? Apa jangan-jangan Kak Nesa selingkuh?" gumam Anara, namun masih terdengar oleh suaminya.


"Mungkin, tapi kita jangan bicara dulu sama Kak Dika. Nanti aku akan selidiki lagi siapa lelaki itu," kata Aldi.


"Nara juga akan coba bicara sama Kak Nesa," ucap Anara.


"Kamu yakin? Pasti Vanesa tidak akan mendengarkanmu," ucap Aldi.


"Iya sih, tapi Nara mau mencoba dulu," ucapnya.


Sambil mengobrol, kini Aldi kembali mengemudikan mobilnya melewati keramaian jalan raya.

__ADS_1


°°°


Andika sedang fokus menatap layar laptopnya. Dia mendengar pintu ruangannya ada yang membuka. Dia mendongkakan kepalanya dan melihat Melisa datang dengan meliuk-liukan tubuhnya.


"Sayang, aku bawa kabar gembira loh," Melisa menyingkirkan berkas yang ada di atas meja kerja Andika. Lalu dia duduk disana.


"Kamu kok kesini? Nanti kalau Vanesa datang bisa gawat," ucap Andika.


"Sudahlah, tidak usah di pikirkan!" Melisa sediki mencondongkan badannya agar lebih dekat dengan Andika. Lalu dia berbisik di telinganya. "Aku hamil anak kamu," ucapnya lagi.


"Hamil? Bagaimana mungkin?"


"Ya itu mungkin, terakhir kita melakukan itu aku habis datang bulan," ucapnya.


"Kamu yakin itu anakku? Bisa saja itu anak suamimu?" tanya Andika.


"Aku yakin jika ini anakmu," ucapnya.


Lalu Melisa berpindah duduk di pangkuan Andika. Dia meraba dada bidang Andika. "Sayang, aku mau beli tas keluaran terbaru loh. Teman-temanku sudah pada beli semua, tapi aku belum," Melisa sedikit mengerucutkan bibirnya.


"Butuh uang berapa?" tanya Andika.


"Dua ratus juta saja," ucapnya.


"Kamu pergilah! Nanti aku transfer uangnya," kata Andika.


Melisa terlihat girang saat Andika dengan mudahnya mau mengeluarkan uang untuknya.


Melisa langsung pergi dari ruangan itu. Andika menatap kepergian Melisa hingga tak terlihat lagi di pandangan matanya.


Melisa keluar dari kantor, dia berjalan di pinggir jalan sambil menunggu taxi online yang dia pesan.


Tin tin


Sebuah motor matic berhenti di dekatnya. Melisa menatap ke samping, ternyata suaminya yang menghentikan motornya disana.


"Ngapain kamu?"


"Aku habis ngojek, karena lihat kamu jadinya berhenti. Ayo kita pulang!" ajaknya.


"Tidak mau! Aku malu kalau pulang sama kamu. Nanti bisa gawat kalau orang-orang tahu jika suamiku hanya tukang ojek," ucap Melisa.


Melisa melihat taxi online yang dia pesan berhenti di belakang motor suaminya. Lalu dia masuk ke taxi dan mengabaikan suaminya yang terus memanggilnya.


°°°


Anara dan Aldi sudah sampai ke rumah. Keduanya segera turun. Kebetulan Bu Sinta sedang berdiri di depan rumah untuk menunggu anak dan menantunya.


Anara dan Aldi berjalan mendekati Bu Sinta.


"Mamah datang kapan?" tanya Anara, lalu menjabat tangan Bu Sinta.

__ADS_1


"Tadi, Mamah sudah satu jam loh menunggu kalian," ucapnya.


"Maaf, Mah. Tadi Aldi ajak Nara ke cafe baru," kata Aldi.


"Wah, akhirnya kamu punya cabang baru, Al. Sebenarnya sih Mamah ingin kamu membantu bisnis Mamah. Karena kamu juga anak Mamah, jadi Mamah akan memberikan perusahaan Mamah untukmu."


"Tidak usah, Mah. Biarkan Aldi merintis usaha sendiri. Lagian perusahaan Mamah bisa di kelola oleh Kak Dika."


"Dika sudah cukup sibuk, dia juga punya perusahaan sendiri," Bu Sinta terlihat memikirkan sesuatu. "Oh iya, lebih baik nanti perusahaan Mamah untuk anak kamu saja, Al. Cepat dong bikin istrimu hamil," kata Bu Sinta, yang terlihat sangat antusias.


Anara dan Aldi saling tatap, lalu mereka tersenyum.


"Kami juga sedang berusaha, Mah. Doakan saja yang terbaik," ucap Anara.


"Iya, Nak. Mamah selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian."


Hanya sebentar mereka mengobrol. Kini ketiganya memilih untuk masuk ke rumah.


Cukup lama Bu Sinta berada di rumah itu. Dia asyik mengajak Baby Adel untuk bermain. Menjelang sore, Bu Sinta berpamitan untuk pulang. Sebenarnya Anara dan Aldi menyuruhnya untuk menginap. Namun Bu Sinta menolak dengan alasan masih ada urusan di luar.


Aldi melihat istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. Dia asyik menatap aktifitas istrinya. Saat ini Anara sedang memakai pakaian di depan suaminya.


"Sayang, kamu ingat tidak yang Mamah katakan tadi," ucap Aldi sambil menatap istrinya.


"Memangnya Mamah mengatakan apa?"


"Mamah minta aku bikin kamu hamil," ucapnya.


"Lalu?"


"Bagaimana jika sekarang kita melakukan itu," ucap Aldi.


"Ini sudah sore loh, bagaimana kalau nanti malam saja," ucap Anara.


"Maunya sekarang, sayang." Aldi beranjak dari duduknya. Lalu dia mendekati istrinya.


Aldi mendorong Anara hingga tidur terlentang di atas kasur. Dia juga naik ke atas kasur. Saat ini tangannya hendak membuka kancing baju istrinya. Namun terhenti saat mendengar ketukan pintu dari luar kamar.


Tok tok


"Non Anara, ini Adel menangis, sepertinya minta ASI," ucap Ani dari balik pintu.


"Sebentar!" ucap Anara dengan sedikit berteriak.


"Stt, baru juga akan mulai," Aldi mengusap wajahnya kasar.


"Sabar, Kak. Bisa lanjut nanti malam kok," ucap Anara.


Kini keduanya beranjak dari atas tempat tidur. Anara membuka pintu kamar, lalu mengambil Baby Adel yang ada di gendongan Ani.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2