Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
Part.28


__ADS_3

Anara ingin sekali membeli salad buah yang di jual di seberang jalan. Namun dia tidak tahu mau menyuruh siapa. Bi Inem sedang ke pasar, dan Aldi sedang ke cafe. Aldi selalu melarang Anara untuk pergi sendirian. Maka dari itu dia ragu untuk keluar rumah.


Bagaimana ini, aku ingin sekali makan salad buah," gumam Anara.


Sebenarnya bisa saja jika dia bikin salad sendiri. Tapi dia inginnya yang di jual di seberang jalan.


Anara sempat mondar-mandir di depan rumah untuk menunggu kepulangan Bi Inem. Namun setelah cukup lama menunggu, Bi Inem tak kunjung datang. Akhirnya Anara memutuskan untuk pergi sendiri.


Saat ini Anara berjalan sendirian di pinggir jalan. Dia menatap kanan kirinya saat hendak menyebrang. Saat melihat sedikit pengendara yang lewat, Anara memutuskan untuk menyebrang. Saat dia hampir sampai ke pinggir jalan, tiba-tiba ada pengendara motor yang mengendarai motornya sangat cepat dan menyerempet Anara.


"Aduh," Anara mengaduh sakit sambil memegangi perutnya agar tidak tertimpa tubuhnya. Karena saat ini Anara jatuh ke aspalan.


Beberapa orang yang menyaksikan itu berbondong-bondong menghampiri Anara. Salah satu dari mereka ada yang menghubungi ambulan.


Kebetulan Bi Inem baru turun dari angkot. Bi Inem melihat kerumunan orang di pinggir jalan. Karena penasaran, Bi Inem menghampirinya.


"Ini ada apa yah?" Bi Inem bertanya kepada salah satu ibu-ibu.


"Ada kecelakaan, dan korbannya wanita hamil," ucapnya.


Mendengar wanita hamil, Bi Inem jadi teringat Anara. Bi Inem langsung menerobos kerumunan itu. Begitu terkejutnya saat melihat korban kecelakaan itu ternyata Anara.


"Non Anara, kenapa bisa seperti ini?" Bi Inem sangat panik.


"Tolong dong, carikan saya taxi untuk membawa majikan saya ke rumah sakit," ucap Bi Inem meminta tolong.


"Saya sudah menghubungi ambulan. Sebentar lagi pasti datang." ucapnya.


"Saya tidak sabar kalau harus menunggu," Bi Inem hendak memapah Anara untuk pergi mencari kendaraan yang lewat. Namun belum ada angkutan umum yang lewat.


Wiw wiw wiw


Terdengar sirine mobil ambulan yang semakin mendekat. Bi Inem sedikit lega karena kedatangan mobil ambulan itu tidak selama yang dia kira.


Kini Anara di bantu oleh beberapa orang untuk masuk ke mobil ambulan. Bi Inem juga ikut masuk untuk menjaga Anara.


Hanya lima belas menit saja, mobil ambulan itu sampai di rumah sakit terdekat.


Terlihat beberapa perawat yang sudah menunggu di depan rumah sakit, dengan membawa brankar pasien. Anara di tidurkan disana, lalu di bawa ke ruang persalinan.


Bi Inem lupa jika tadi dia meninggalkan belanjaannya di pinggir jalan. Tapi untung saja tasnya dia bawa. Bi Inem merogoh tasnya untuk mencari ponsel jadul miliknya. Bi Inem mencari nomor Aldi lalu menghubunginya.


°°°


Saat mendengar jika Anara masuk rumah sakit, Aldi merasa begitu khawatir. Dia langsung saja pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit, Aldi segera pergi menuju ke ruang persalinan.


Aldi melihat Bi Inem yang sedang duduk sendirian.


"Bi, bagaimana keadaan Anara?" tanya Aldi.


"Non Anara ada di dalam sedang di bantu persalinan. Oh iya, Bibi sampai lupa tidak membawa perlangkapan bayi apa pun."


"Kalau begitu saya pergi lagi ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian bayi dan pakaian Nara." Aldi pergi lagi dari hadapan Bi Inem.


Cukup lama menunggu, pintu ruangan itu terbuka lebar. Terlihat Dokter keluar dari ruangan itu.


"Dok, bagaimana kondisi Nona Anara?" tanya Bi Inem.


"Kondisi Bu Anara dan putrinya baik-baik saja," ucap Dokter.


"Syukurlah, boleh saya melihatnya?"


"Sebentar, Bu. Kami belum selesai mengurus Nona Anara. Nanti akan di pindahkan juga ke ruang perawatan. Karena masih ada beberapa pasien lain yang akan menempati ruangan ini." ucap Dokter.


"Baiklah," ucap Bi Inem.


Dokter kembali masuk ke dalam ruangan itu.


Bi Inem mengikuti mereka hinggga mereka memasuki ruang perawatan.


Anara di bawa ke ruang perawatan biasa sehingga banyak pasien lain di ruangan itu. Bi Inem yang mengurus semuanya, berhubung Aldi tidak berada di sana.


Terdengar ponsel Bi Inem berdering. Ternyata itu panggilan masuk dari Aldi. Dan Aldi menanyakan di mana ruangan Anara saat ini. Bi Inem menyebutkan nama ruangan yang di tempati oleh Anara.


Terlihat Aldi sedang melihat-lihat nomor kamar. Dia membuka horden di depan kamar nomor dua. Dia melihat wanita yang dia cintai sedang mengobrol bersama Bi Inem.


"Bi, kok ruangan Anara di sini?" tanya Aldi yang baru datang.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu harus memesan ruangan yang mewah itu ruangan apa." ucap Bi Inem.


"Tidak apa-apa, Kak. Yang penting aku dan anakku baik-baik saja," sahut Anara.


"Oh iya, anak kamu mana?"Aldi menatap sekitaran Anara dan Bi Inem.


"Ada di ruang bayi, Kak." jawab Anara


" Ya sudah, aku mau tengok anak kita dulu yah," ucapnya.


Anara merasa senang saat Aldi mengatakan anak kita. Itu berarti dia menerima kehadiran bayi perempuan itu.

__ADS_1


Anara menghentikan langkah Aldi saat hendak membalikan badannya.


"Kak, sekalian nanti di adzankan. Tadi anak kita belum di adzankan," ucapnya.


"Baik, sayang." ucap Aldi, lalu dia melanjutkan langkahnya.


Aldi sudah masuk ke ruangan bayi. Dia menatap bayi mungil itu. Matanya sangat indah seperti mata seseorang yang dia kenal. Namum dia tidak tahu mata itu seperti milik siapa, yang pasti bukan seperti Anara.


Aldi melihat seorang perawat yang masuk ke ruangan itu. Dia meminta ijin untuk menggendong calon anaknya karena akan mengadzankannya, dan ternyata boleh. Setelah selesai mengadzankan, Aldi kembali menaruh Bayi mungil itu ke dalam box bayi. Cukup lama dia di sana, saat ini dia memilih untuk kembali ke ruangan Anara.


Aldi sudah sampai di ruangan Anara. Dia menatap Bi Inem yan terlihat kecapean.


"Bi, Bibi boleh istirahat dulu atau pulang mungkin. Biar saya yang menjaga Anara," ucap Aldi.


"Iya, Tuan. Kebetulan saya sedikit mengantuk dan juga cape. Saya pamit pulang dulu yah," ucap Bi Inem.


Aldi merogoh saku celananya. Lalu dia mengambi beberapa uang ratus ribuan dan memberikannya kepada Bi Inem.


"Ini untuk ongkos kendaraan," ucap Aldi sambil memberikan uang itu.


"Ini terlalu banyak, Tuan."


"Tidak apa-apa, Bibi bisa pakai untuk beli makan juga."


"Alhamdulillah, terima kasih, Tuan." ucapnya.


"Sama-sama, Bi," ucap Aldi.


Anara menatap Bi Inem yang hendak pergi.


"Bi, terima kasih yah sudah membantu Nara," kata Anara.


"Sama-sama, Non. Itu sudah kewajiban Bibi," ucap Bi Inem.


Bi Inem segera pergi setelah berpamitan.


Setelah kepergian Bi Inem, Aldi menutup rapat horden yang ada di samping kanan kirinya.


"Kak, kok di tutup?" tanya Anara.


"Stt," Aldi meletakan salah satu jarinya di bibirnya.


Aldi mendekati Anara, lalu mencondongkan badannya. Kini wajah keduanya sangat dekat. Aldi mulai mendaratkan bibirnya. Kini keduanya asyik dengan ciuman penuh cinta.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2