Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.43


__ADS_3

Pernikahan Adelia dan Rian sudah di depan mata. Untung saja semua persiapan sudah selesai. Mereka tinggal menunggu hari-H saja.


Terlihat Bu Anara yang sedang menyirami tanaman. Dia melihat ada mobil yang berhenti di depan rumah. Rian turun dari mobil dengan gaya kerennya. Rian mendekati Bu Anara untuk menyapanya.


"Pagi, Mah." ucap Rian ramah.


"Pagi juga, ngapain kamu kesini?" tanya Bu Anara.


"Mau ketemu Adel dan Raffa," ucapnya.


"Kamu lupa kalau Adel sedang di pingit, jadi lebih baik kamu pulang saja."


"Yah, bentar saja dong, Mah."


"Tidak boleh, Rian."


"Kalau ketemu Raffa boleh?"


"Boleh, tapi kamu tunggu disini saja. Biar Mamah yang ke dalam, mau ajak Raffa."


"Baiklah," Rian mengikuti langkah Bu Anara. Namun dia menghentikan langkahnya di depan rumah. Rian duduk di salah satu kursi yang ada disana.


Bu Anara sudah kembali dengan menggendong Baby Raffa. Lalu menyerahkannya kepada Rian.


"Mah, aku bawa Raffa bentar boleh?"


"Jangan! Kamu disini saja," pinta Bu Anara.


Bu Anara khawatir jika Rian bawa Baby Raffa, takutnya menangis.


Bu Anara kembali melanjutkan menyiram tanaman. Sesekali Bu Anara  menatap Baby Raffa yang sedang bersama Rian.


Dari balik jendela, Adelia melihat kedekatan Rian dan anaknya.


“Der .. “ terlihat Alan yang mengagetkan Adelia.


“Asataga,” Adelia memegangi dadanya. Lalu dia menoleh ke belakang. “Ada apa sih mengagetkan saja?”


“Kakak lagi ngapain tuh?”

__ADS_1


“Bukan urusanmu,” setelah mengatakan itu, Adelia pergi dari hadapan Alan.


Alan menatap ke luar kaca jendela, ternyata ada Rian yang sedang menggendong Baby Raffa.


Alan menghampiri Adelia yang kini sedang duduk di ruang keluarga.


“Kak, aku minta seblak dong,” rengek Alan.


“Beli dong, banyak kok yang jualan,” ucap Anara.


“Aku maunya buatan Kakak,” Alan bergelayut manja di lengan Adelia.


Sejenak Adelia mengernyitkan keningnya sambil menatap adiknya.


“Kamu kok seperti orang ngidam saja. Dulu Kakak saat ngidam juga tidak gitu-gitu amat,” Adelia merasa jika ada yang aneh dengan adiknya.


“Siapa yang ngidam?” tanya Bu Anara, yang kebetulan baru masuk ke rumah.


“Ini loh, Mah. Alan minta seblak buatanku. Aneh sekali dia seperti orang mengidam saja,” kaya Adelia.


“Mamah juga sependapat denganmu, Nak. Setiap tengah malam, pasti Mamah lihat Alan lagi cari makanan di dapur,” ucap Bu Anara.


“Yang namanya wanita bersuami, jam segitu ngapain lagi coba,” sahut Adelia.


“Hiisss, tidak usah di jelasin juga, Del. Lagian tidak setiap malam kok,” ucap Bu Anara.


“Ah Mamah sudah tua juga seperti pengantin baru saja,” ucap Alan.


“Sudah sudah, jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang Mamah masih penasaran sama kamu, Alan. Kenapa kamu ini terlihat seperti suami yang lagi ngidam? Apa kamu sudah menghamili Nela?” tanya Bu Anara, penuh selidik.


“Mamah apaan sih, aku dan Nela belum pernah ngelakuin itu, mana mungkin Nela hamil?”


“Tapi dari penglihatan Mamah, kamu ini tingkahnya seperti orang ngidam. Atau jangan-jangan kamu menghamili wanita lain?”


“Tidak kok, Mah. Mamah ngaco ih kalau bicara.”


“Kalau kamu memang menghamili anak orang, biar Mamah kirim kamu ke pluto. Sekalian hidup disana sama alien. Dari pada disini, tapi tidak mau mengakui kesalahan sendiri.”


“Tidak kok, Mah. Aku tidak menghamili anak orang,” ucap Alan.

__ADS_1


“Awas saja jika itu terjadi, kamu harus bertanggung jawab, Nak. Lihatlah Rian, walaupun masalah dia rumit, tapi dia mau mengakuinya. Mamah juga salut sama Eva, dia mudah bangkit dari keterpurukan. Mamah tidak mau jika kamu juga mengalami hal itu, Nak. Jangan menghamili anak gadis orang.”


“Tidak kok, Mah. Aku sama Nela paling main yang di atas, belum pernah ke bawah,” ucap Alan.


Bu Anata menatap tajam anaknya, lalu memukul lengannya.


“Atas bawah juga jangan dulu, Alan. Kalian masih sekolah. Mamah tidak mau jika semua anak Mamah bernasib sama seperti Mamah,” ucap Bu Anara.


“Apa maksudnya?” tanya Alan dan Adelia bersamaan.


“Mamah juga dulu hamil di luar nikah. Tapi Papahmu, dulu dia suaminya Kak Nesa.”


“Jadi Mamah di hamili Kakak ipar sendiri?” tanya Alan.


“Iya, saat itu Mamah hamil Adel, Mamah juga pergi dari rumah. Mamah di pertemukan dengan Mas Aldi. Dia menikahi Mamah saat Mamah sudah melahirkan. Namun saat Mamah hamil Eva, dia meninggal karena kecelakaan.”


“Jadi Mamah kembali sama Papah Andika saat suami Mamah yang itu meninggal?”


“Iya,” ucap Bu Anara.


“Lalu bagaimana dengan Tante Vanesa?” tanya Adelia.


“Dulu Kak Nesa sempat masuk penjara dan masuk rumah sakit jiwa juga,” ucap Bu Anara.


“Ternyata banyak hati yang terluka,” ucap Adelia.


“Maka dari itu, Mamah tidak mau Alan juga mengalaminya. Cukup kamu saja, Nak dan Eva, yang terjerat kisah rumit seperti Mamah,” ujar Bu Anara.


‘Ah tidak mungkin kalau si culun hamil, lagian Cuma melakukan satu kali saja,’ batin Alan.


Adelia tidak menyangka jika ibunya juga pernah mengalami hal itu.


“Kenapa Mamah baru cerita sekarang?” tanya Adelia.


“Karena menurut Mamah tidak penting. Tapi sekarang, jadikanlah semuanya sebagai pengalaman hidup. Mamah menceritakan semua ini agar Alan tidak bermain api, apalagi mempermainkan wanita,” ucapnya.


“Tidak kok, Mah. Aku itu setia loh,” ucap Alan.


"Syukurlah, kalau itu memang benar. Oh iya, Mamah mau keluar dulu menemui Rian," Bu Anara beranjak dari duduknya, lalu pergi keluar rumah.

__ADS_1


__ADS_2