Kakak Iparku Ayah Anakku

Kakak Iparku Ayah Anakku
S2_Episode.87


__ADS_3

Alan sudah mencari sosok wanita itu ke beberapa perusahaan tempat mereka bekerja. Namun tidak ada yang cocok dengan ciri-ciri wanita yang berdansa dengannya malam itu. Alan bingung, apakah wanita yang berdansa malam itu tidak isi daftar hadir atau bagaimana. Karena dia tidak menemukan jejaknya.


Jalan terakhir yaitu Alan harus mendatangi hotel tempat pesta. Dia harus melihat CCTV yang ada di hotel itu.


Alan yang sedang bekerja, beberapa kali dia menatap jam yang melingkar di tangannya. Niatnya saat jam makan siang nanti, dia akan pergi ke hotel itu.


Kruyuk kruyuk


Alan yang sedang bekerja, dia mendengar perutnya berbunyi.


"Kenapa aku lapar? Perasaan baru tadi aku sarapan," gumam Alan.


Alan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata saat ini sudah hampir jam makan siang. Ternyata waktu berlalu begitu cepat, sehingga dia tidak menyadarinya.


Alan membereskan meja kerjanya, lalu dia bersiap untuk pergi.


Alan sedang berada di dalam perjalanan. Saat melihat ada restoran yang dia lewati, dia memilih untuk menghentikan mobilnya.


Alan melihat sekelilingnya. Ternyata di restoran itu hanya dia yang duduk sendirian. Semua pengunjung yang datang di restoran itu berpasangan-pasangan, bahkan ada yang bersama keluarganya. Namun Alan tetap percaya diri saja, saat sekelilingnya terus menatapnya.


'Kenapa mereka semua menatapku?' batin Alan.


Terlihat seorang waiters yang menghampirinya.


"Mau pesan apa, Mas?"


"Mie goreng saja satu, sama minumnya es teh manis. Oh iya, kenapa ya semua pengunjung disini terus menatap ke arah saya?" Alan bertanya kepada waiters yang berdiri di depannya.


"Itu karena tiga kancing kemeja Masnya terbuka. Mungkin mereka terpesona."


"Astaga, saya itu sedang gerah."


"Saya permisi dulu, Mas." waiters tersenyum menatap Alan yang sedang mengancingkan kancing kemejanya, lalu segera pergi dari sana.


Hanya dua puluh menit Alan berada di restoran itu. Kini dia memutuskan untuk pergi setelah menghabiskan semua makanannya.


Kebetulan jarak hotel yang ingin dia kunjungi sekitar lima belas menit perjalanan saja jika dari restoran tadi. Sekarang Alan sudah sampai di depan hotel itu. Dengan tidak sabaran, dia segera keluar dari mobil, lalu melangkah dengan sedikit tergesa-gesa memasuki hotel.

__ADS_1


Alan menghampiri resepsionis yang sedang berjaga.


"Permisi, saya Alan yang beberapa hari yang lalu membuat pesta di hotel ini. Bolehkan saya meminta bantuannya. Saya ingin melihat CCTV saat hari itu," ucap Alan.


"Sebentar saya cek, apakah benar bapak ini membuat pesta disini atau tidak. Karena saya tidak boleh percaya begitu saja dengan orang asing," resepsionis itu mengecek buku daftar tamu yang menyewa gedung untuk acara penting di hotel. Ternyata benar jika ada nama Alan Yang menyewa ballroom hotel untuk acara perusahaan.


"Bagaimana, Nona?" Alan melihat resepsionis yang sudah menutup buku catatannya kembali.


"Iya, disini ada datanya. Kalau begitu biar saya hubungi petugas CCTV di hotel ini."


Alan masih berdiri disana, sambil menunggu petugas CCTV datang.


"Nah itu orangnya," ucapnya sambil melambaikan tangan kepada petugas CCTV yang sedang berjalan ke arahnya.


"Pak, saya Alan. Saya berniat untuk melihat rekaman CCTV dua hari yang lalu, saat saya mengadakan pesta disini."


"Baik, mari ikut saya!" ucap lelaki yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari Alan.


Alan mengikuti langkah lelaki itu. Hingga kini keduanya sudah sampai di ruangan CCTV. Alan segera melihat CCTV di hari itu.


Dari rekaman CCTV itu, Alan melihat wanita yang dia cari-cari keluar dari ballroom hotel. Lalu melangkah pergi ke salah satu kamar hotel.


"Coba putar beberapa jam berikutnya, Pak." pinta Alan.


Alan melihat Kiara yang menggendong anaknya keluar bersama dengan Stevani dari kamar itu.


'Kiara? Jadi dia yang menginap di hotel itu. Jangan-jangan yang berdansa denganku saat itu Kiara orangnya,' batin Alan.


°°°°°°


Alan terus memikirkan Kiara dan anak yang ada di dalam gendongannya. Walaupun dia melihat dari rekaman CCTV, tapi dia yakin jika itu bukan Raffa anak Kakaknya. Yang sedang di gendong oleh Kiara terlihat masih bayi umur beberapa bulan.


Saat ini Alan sedang berguling-guling di atas tempat tidur. Dia tidak bisa tidur karena bayangan Kiara sedang menggendong bayi terus saja memenuhi pikirannya. Alan jadi teringat saat itu dia bermimpi wanita entah itu siapa, tapi wanita itu menggendong anak kecil yang masih bayi.


'Jangan-jangan wanita yang selalu hadir di mimpiku itu Kiara, dan anak itu anakku. Jadi Kiara sudah melahirkan," Alan sedikit menyunggingkan sudut bibirnya.


Mungkin sekarang dia harus pergi menemui Kiara untuk melihat anaknya, dan mencari wanita bertopeng itu, apakah Kiara atau temannya yang menginap bersama di hotel.

__ADS_1


Karena tidak bisa tidur, Alan memutuskan untuk pergi kelur dari kamarnya.


Alan melihat ibu dan ayahnya yang sedang duduk bersantai sambil mengobrol.


"Mah, aku ingin tahu dong tempat tinggal Kiara. Mamah pasti tahu kan?"


"Memangnya untuk apa kamu mencari Kiara?"


"Aku ingin bertemu dengannya dan anakku, Mah."


"Sekarang kamu sudah anggap anak Kiara itu anak kamu, baiklah Mamah akan kasih tahu dimana keberadaannya."


"Dimana, Mah? Alan ingin pergi mengunjunginya."


"Dia tinggal bersama Eva dan Reno di luar negeri," ucapnya.


"Jadi saat Mamah dan Papah liburan ke luar negeri, itu menemui Kiara?"


"Iya, Nak. Saat itu Kiara baru lahiran, jadi kami datang untuk melihatnya," jawab Bu Anara.


"Kenapa tidak ajak aku?"


"Papah tidak yakin jika saat itu kami ajak, kamu mau ikut." sahut Pak Andika.


"Hehe benar juga sih. Tapi aku malu, selama ini aku sudah mengabaikan Kiara. Jika sekarang aku menemuinya, apa dia mau menemuiku," terlihat Alan menundukan pandangannya.


"Atas dasar apa, tiba-tiba kamu ingin bertemu dia, Alan?" tanya Pak Andika.


"Aku tidak bisa tenang, dia selalu muncul di dalam pikiranku."


Bu Anara dan Pak Andika saling tatap, lalu tersenyum setelah mendengar perkataan anaknya.


"Baiklah, besok kamu pergi saja. Nanti Mamah kasih alamat rumah kakakmu," ucap Bu Anara.


"Terima kasih, Mah."


"Sama-sama, Nak. Yang penting kamu jangan menyakiti hatinya," pinta Bu Anara.

__ADS_1


"Baik, Mah. Aku akan berusaha."


Mungkin dengan bertemu Kiara, Alan tidak akan gelisah lagi, karena bayangannya yang selalu memenuhi pikirannya, kini terobati dengan pertemuan mereka.


__ADS_2