
Kini Kiara sedang duduk bersama Adelia dan Rian.
"Sebentar, aku mau ambilkan minum dan makan dulu buat kamu, Kia. Mungkin habis pingsan kamu lapar," ucap Adelia sambil menatapnya.
"Tidak kok, aku tidak lapar," ucapnya.
"Sayang, kamu ambilkan cemilan saja untuknya," sahut Rian ikut berbicara.
"Baik, Mas." Adelia langsung beranjak dari duduknya, lalu dia pergi ke dapur.
Hanya sebentar dia ke dapur, kini dia sudah kembali lagi dengan membawa cemilan untuk Kiara.
"Kia, kebetulan nih tadi aku bikin puding, ada kue, ada buah potong saja. Ayo di makan!" ucap Adelia sambil menghidangkannya ke atas meja.
"Terima kasih, Kak." Kiara menatap ke arah meja. Dia meneguk ludahnya saat melihat buah potong.
"Kalau mau, ambil saja Kia!" Adelia melihat arah pandang Kiara.
"Iya, Kak." Kiara tersenyum malu-malu, lalu dia langsung menyambar buah potong itu.
Adelia merasa senang saat melihat Kiara makan dengan lahap.
"Kak Adel, Kak Rian, mau?"tawar Kiara.
"Tidak, untuk kamu saja." ucap Adelia.
Setelah melihat Kiara selesai makan buah potong, Adelia mengajaknya untuk mengobrol.
"Kia, kenapa kamu pergi dari kontrakan? Memangnya kamu tidak nyaman tinggal disana?" tanya Adelia.
__ADS_1
"Aku nyaman kok tinggal disana. Hanya saja aku tidak enak karena tinggal gratis disana. Pak Andika menjamin semua biaya hidupku."
"Jadi Papah tahu kamu tinggal di kontrakan? Kok Papah tidak bilang apa-apa yah sama kami," ucapnya sambil menatap suaminya.
"Mungkin Papah memang berniat menyembunyikannya dari kita, dan Papah membantu Kiara secara diam-diam," ucap Rian.
"Mungkin juga sih."
"Lalu jika mendapat bantuan dari Papah, itu bagus loh. Tapi kenapa kamu malah pergi?" Adelia kembali bertanya.
"Aku merasa tidak enak, Kak. Karena Pak Andika terlalu baik."
"Itu berarti Papah sudah menganggap kamu sebagai anak juga, Kia. Harusnya kamu senang loh."
"Iya, Kak. Tapi aku tetap merasa tidak enak, karena Pak Andika terlalu baik sama aku."
"Jadi kamu inginnya apa?"
"Jadi kamu ingin kuliah? Kalau begitu nanti kuliah habis kamu lahiran saja. Biar anak kamu di titipin disini. Nanti Mas Rian pasti mau kok carikan baby sister," ucap Adelia sambil menatap ke arah suaminya.
"Aku pasti membantu kok. Lebih baik kamu tinggal disini saja, Kia. Disini aman kok, kami juga jadi tidak khawatir lagi sama kamu," ucap Rian.
"Benar, Kia. Lebih baik kamu tinggal disini saja sama kami," sahut Adelia.
"Baiklah, mungkin untuk beberapa waktu aku tinggal disini dulu. Maaf ya jika aku merepotkan Kakak."
"Kami tidak merasa di repotkan kok," ucap Adelia sambil menatap Kiara.
Mungkin untuk saat ini Kiara akan tinggal disana. Lagian jika dia menolak pun, pasti Rian dan Adelia tetap memaksanya.
__ADS_1
°°°°°
Kiara merasa bosan berada di kamar terus. Jadi dia memutuskan untuk keluar dari kamar.
Kiata menatap rumah itu terlihat sepi, seperti tidak berpenghuni.
"Mungkin Kak Adel sedang keluar," gumam Kiara.
Untuk menghilangkan rasa bosannya, Kiara memutuskan untuk melakukan sesuatu. Kiara berkeliling mencari sapu. Niatnya dia akan menyapu di ruang keluarga dan ruang depan.
Adelia yang baru pulang keliling kompleks bersama anaknya, dia melihat Kiara yang sedang menyapu di ruang depan.
"Kia, kok kamu menyapu sih?"
"Iya, Kak. Aku bosan kalau tidak melakukan aktivitas apa pun," jawabnya.
"Tapi takutnya kamu kecapean loh."
"Tidak kok, Kak. Lagian hanya menyapu saja."
"Baiklah, terserah kamu mau melakukan apa pun, tapi saat lelah kamu istirahat ya. Jangan di paksakan. Lagian di rumah ini juga ada Bibi yang membantu beres-beres rumah."
"Baik, Kak." jawabnya.
"Aku ke kamar dulu ya, kasihan nih Rafa sudah mengantuk."
"Iya, Kak."
Adelia melangkah menuju ke kamar untuk menidurkan anaknya.
__ADS_1
Kiara melanjutkan lagi menyapu, hingga sampai di teras rumah. Setelah selesai menyapu, dia kembali masuk ke rumah.