
Pagi ini Anara terbangun dari tidurnya. Dia merasa perutnya sakit. Anara menepuk-nepuk punggung suaminya, agar suaminya terbangun dari tidurnya. Andika membalikan badannya. Karena tadi posisinya membelakangi istrinya. Andika melihat istrinya yang sedang merintih.
"Awww ... aduh ..." rintih Anara sambil memegangi perutnya.
"Kamu kenapa, sayang? Belum di apa-apain kok sudah awww awwww ... " ujar Andika.
Plak
"Perutku sakit, bodoh." kata Anara, sambil memukul lengan suaminya.
"Astaga pakai ngatain bodoh segala. Ayo kita ke rumah sakit, sayang. Sepertinya kamu mau melahirkan," Andika membantu memapah istrinya untuk jalan.
Andika sudah membuka pintu kamarnya. Mereka berjalan keluar. Andika berteriak memanggil Ibunya.
"Mah ... Mamah ... " teriak Andika.
Ternyata yang mendengar teriakan bukan hanya Bu Sinta. Namun semua penghuni rumah itu mendengarnya.
"Ada apa sih teriak-teriak?" Kini Bu Sinta sudah keluar dari kamar.
"Sepertinya Nara mau melahirkan, Mah." ucap Andika.
"Melahirkan?" Bu Sinta sempat terkejut sekaligus senang. "Mamah mau panggil supir dulu suruh siapin mobil," Bu Sinta pergi untuk memanggil supir yang ada di rumah itu.
"Bibi juga mau panggil Ani, biar Ani menyiapkan pakaian bayi," ucap Bi Inem yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
"Terima kasih, Bi." ucap Andika
"Sama-sama," Bi Inem pergi dari hadapan mereka.
Bu Sinta sudah memanggil supir. Dia kembali menghampiri Anara, lalu membantu memapahnya.
Bu Sinta melepaskan pegangannya pada Anara saat sudah berada di dekat mobil. Andika membantu Anara masuk ke mobil, lalu dia duduk di sebelahnya.
Bu Sinta hendak membuka pintu mobil bagian depan, namun tak sengaja melihat Pak Indra yang juga sedang berdiri tak jauh dari sana.
"Pak, mau ikut? Ayo!" ajak Bu Sinta kepada Pak Indra.
"Tidak usah, nanti saya naik taxi saja," Pak Indra menolak ajakan Bu Sinta karena di dalam mobil itu sudah sempit.
__ADS_1
"Baiklah, nanti bareng Ani saja," pinta Bu Sinta.
"Siap, Bu." Pak Indra kembali masuk ke rumah untuk berbicara kepada Ani.
Andika menatap istrinya yang terlihat kesakitan. Sejak tadi Anara terus memegangi perutnya.
"Pak, lebih cepat lagi!" pinta Andika. Dia merasa cemas melihat istrinya yang terlihat kesakitan.
"Baik, Tuan." ucap Pak supir, lalu kembali fokus mengemudi.
Sesampainya di rumah sakit, Andika menggendong istrinya. Andika merasa panik, dia berteriak memanggil dokter. Seorang perawat menghampirinya, lalu mengarahkan Andika untuk mendudukan Anara di kursi roda. Perawat itu mendorong kursi roda yang di naiki Anara menuju ke ruang persalinan.
Andika sudah meminta agar pihak rumah sakit memberikan pelayanan yang paling terbaik untuk istrinya.
Setelah menyelesaikan administrasi, Andika menghampiri istrinya yang sudah di bawa ke ruang persalinan.
Andika melihat ibunya sedang duduk di salah satu kursi yang ada di depan ruang persalinan.
"Mah, bagaimana dengan Anara?" tanya Andika, yang kini sudah sampai di depan ibunya.
"Baru akan di tangani oleh Dokter," jawab Bu Sinta sambil menatap anaknya.
"Dengan suami pasien?" ucap perawat itu.
"Saya suaminya, Dok." ucap Andika.
"Mari masuk, Pak. Ibu Anara minta di temani saat persalinan," kata perawat itu.
Andika menatap sekilas ke arah ibunya.
Bu Sinta menganggukan kepalanya.
"Baiklah," Andika mengikuti perawat itu masuk ke dalam ruang persalinan.
Andika mendekati istrinya. Anara memegang erat lengan suaminya.
"Ibu Anara, ikuti instruksi saya ya!" pinta Bu Dokter.
"Baik," kata Anara dengan sedikit merintih.
__ADS_1
Dokter itu mengarahkan Anara untuk mengejan.
"Aaaaaaaaa .... " Anara meremas lengan suaminya dengan keras.
Tidak perlu di bayangkan lagi apa yang di rasakan oleh Andika. Dia merasakan sakit, bahkan lengannya lecet.
Oek oek
Terdengar tangisan bayi mungi yang sudah di nanti-nanti oleh Anara dan Andika.
"Selamat Ibu Anara, anaknya laki-laki," ucap Bu Dokter. "Sebentar, mau di bersihkan dulu," Bu Dokter memberikan bayi mungil itu kepada asistennya yang menemani saat persalinan. Lalu beralih menatap Andika yang berdiri di dekat Anara. Pak, silahkan keluar dulu!" ucap Bu Dokter.
"Baik, Dok." Andika melangkah keluar dari ruangan itu.
Bu Sinta melihat putranya sudah kembali.
"Nak, cucu Mamah laki-laki atau perempuan?" tanya Bu Sinta, yang kini sudah berdiri.
"Laki-laki, Mah." jawabnya dengan sedikit meringis.
"Syukurlah, Mamah senang akhirnya punya cucu laki-laki. Tapi, kenapa kamu merintih?"
Andika memperlihatkan lengannya yang lecet.
"Astaga, ini kenapa?"
"Nih kerjaan Nara tadi me*remas-remas lenganku," ucap Andika sedikit lesu.
"Hahaha ... Itu balasan untuk kamu, salah siapa dulu menghamili anak orang begitu saja," Bu Sinta menertawakan anaknya.
"Mamah jahat ih, masa tertawa di atas penderitaan anak sendiri?"
Andika menatap ke bawah, karena dia merasa ada yang menarik-narik bajunya.
"Ada apa Adel sayang?" tanya Andika.
"Papah ... " Adelia merentangkan tangannya seolah meminta untuk di gendong.
"Kenapa sayang? Kamu minta di gendong?" Andika langsung menggendong Adelia. "Kita pergi yuk, obatin tangan Papah," Andika membawa Adelia pergi dari sana.
__ADS_1
°°°°°°°°°°