
Terlihat mobil berhenti di halaman rumah. Anara dan Andika turun dari mobil. Mereka terus bergandengan tangan hingga masuk ke rumah.
"Aduh duh, kalian makin lengket saja seperti pasangan pengantin baru," ucap Bu Sinta, yang melihat ke duanya terus menempel.
"Iya dong, Mah. Saat ini Nara sedang hamil loh," ucap Andika memberitahu ibunya.
"Wah hamil? Benarkah?" Bu Sinta terlihat senang saat mendengar kabar bahagia itu.
"Iya, Mah. Aku hamil," ucap Anara, dengan senyum mengembang.
Bu Sinta mendekati Anara lalu memeluknya.
"Selamat ya, sayang. Semoga anak kamu sehat," ucap Bu Sinta.
"Amin, Mah."
Bu Sinta melepaskan pelukannya. Kini Bu Sinta menatap Anara dan Andika yang berdiri di depannya.
"Mamah sudah memutuskan akan menginap disini selama kamu hamil, Nak. Mamah tidak mau jika kamu kecapean. Nanti anak-anak biar Mamah yang urus," ujar Bu Sinta.
"Terima kasih, Mah. Mamah baik sekali deh," Anara merasa senang karena Bu Sinta selalu memprioritaskan dia dan anak-anaknya.
"Sama-sama, lagian ini sudah kewajiban Mamah." lalu Bu Sinta menatap Andika. "Awas yah, jangan sampai kamu melukai istri dan kandungannya. Wanita hamil muda itu tidak boleh melakukan hubungan suami istri loh," ujar Bu Sinta, menasehati anaknya.
"Iya, Mah. Dika tahu kok," ucapnya.
"Mudah-mudahan anak kamu ini laki-laki, biar bisa menjadi penerus perusahaan," ucap Bu Sinta.
"Laki-laki atau perempuan sama saja, Mah. Lagian kalau untuk penerus perusahaan biar Adel saja. Dia juga pintar loh anaknya," ucap Andika.
"Ya terserah sih, lagian mereka juga masih kecil," ucap Bu Sinta.
"Mah, Nara mau ke kamar dulu," ucap Anara di sela-sela obrolan mereka.
"Iya, Nak. Kamu istirahat saja," Bu Sinta menatap kepergian Anara hingga menjauh dari pandangan matanya.
Bu Sinta melihat Andika yang hendak pergi, namun Bu Sinta memegang tangannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Bu Sinta.
"Mau menyusul istriku," jawabnya.
"Jangan! Kamu disini saja temani Mamah mengobrol. Biarkan istrimu istirahat. Jika kamu menyusulnya, pasti kamu cuma mau gangguin dia."
"Baiklah," Andika melangkah mendekati sofa, lalu dia duduk disana.
Cukup lama mengobrol, menjelang makan siang, Bu Sinta memilih untuk pergi ke dapur. Andika juga pergi ke kamarnya.
Bu Sinta akan memasak makanan yang spesial untuk Anara.
Bi Inem melihat Bu Sinta yang sedang mengambil beberapa bahan makanan dari dalam kulkas.
__ADS_1
"Nyonya mau masak? Biar Bibi saja, Nya." ucap Bi Inem yang sedang berdiri tak jauh dari Bu Sinta.
Bu Sinta menoleh ke sumber suara.
"Tidak usah, Bi. Saya mau masak spesial untuk Anara," jawabnya.
"Kalau begitu biar Bibi bantuin," ucap Bi Inem.
"Tidak usah, Bi. Saya mau masak sendiri saja. Lebih baik Bibi kerjakan pekerjaan yang lain saja," pinta Bu Sinta.
"Baik, Nya." Bi Inem segera pergi dari sana.
°°°°°°°°°°°°°
Terlihat Andika yang baru mengerjapkan ke dua matanya. Dia tidak melihat istrinya di sampingnya. Andika mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi.
Andika beranjak dari atas tempat tidur. Dia pergi mendekati pintu kamar mandi.
Tok tok
"Sayang, buka dong! Aku mau ikut mandi nih," ucap Andika sambil mengetuk pintu.
Anara tidak mendengar ketukan pintu. Apalagi suara suaminya yang memanggilnya.
'Kenapa tidak ada sahutan? Apa Anara tidak mendengarnya,' batin Andika.
Andika mencoba membuka pintu kamar mandi. Ternyata pintu itu tidak terkunci.
Cklek
"Sayang," ucap Andika memanggil istrinya.
Anara menoleh ke sumber suara.
"Astaga," Anara mematikan sower yang masih menyala. Lalu dia berbicara kepada suaminya. "Ngapain Mas Dika masuk kesini?" tanya Anara.
"Mau ikut mandi," dengan percaya diri, Andika melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya.
Anara mengambil handuk, karena kebetulan dia sudah selesai mandi.
"Kamu sudah selesai?" Andika menatap istrinya yang sedang mengelap tubuhnya dengan handuk.
"Iya, nih. Mas Dika mandi sendiri saja. Lagian aku sudah selesai," ucapnya.
"Yah, tidak bisa gosok-gosok tubuh kamu dong," ucap Andika.
"Lain kali saja," Anara berjalan melewati Andika yang sedang berdiri.
Tak lama, Andika juga sudah selesai mandi. Dia membuka pintu kamar mandi lalu keluar. Andika melihat istrinya yang sedang duduk di depan meja rias.
"Sayang, lagi ngapain?" Andika bertanya sambil mengambil pakaian ganti yang tergeletak di atas ranjang.
__ADS_1
"Aku mau ikut kamu," ucap Anara, tanpa mengalihkan arah pandangnya.
"Ikut kemana?" Andika bertanya sambil mengancingkan kancing kemejanya.
"Ke kantor," jawabnya.
"Kamu lagi hamil, sayang. Nanti kecapean loh," Andika melarang istrinya karena dia takut terjadi sesuatu.
"Kalau cape nanti tinggal minta di gendong kamu," Anara beranjak dari duduknya. Lalu dia mendekati suaminya.
Glek
Andika menelan ludahnya sendiri saat melihat penampilan istrinya.
"Astaga, kamu mau memakai pakaian seperti itu?" tanya Andika.
"Iya, memangnya kenapa? Bukankah pakaian ini bagus," Anara berputar di depan suaminya.
"Tapi pakaian itu terlalu terbuka loh. Bisa saja para lelaki yang melihatmu itu menjadi bergairah," ujar Andika.
"Biarkan saja, itu mereka, bukan aku. Lagian ini atas keinginan anak kita."
Andika mengeryitkan keningnya. Belum juga lahir tapi anaknya sudah meminta yang aneh-aneh.
"Padahal menurut pemeriksaan Dokter, anak kita ini laki-laki loh. Kok ibunya jadi suka dandan berlebihan seperti ini?"
"Aku juga tidak tahu, mungkin anak kita sebenarnya perempuan, bukan laki-laki," ucap Anara.
°°°°°°°°
Anara dan Andika sudah pergi ke kantor. Kini mereka sedang di perjalanan.
"Sayang, kita ke butik dulu ya. Nanti aku belikan kamu baju yang bagus," Andika mencoba merayu istrinya agar mau mengganti pakaian yang sekarang sedang di kenakan.
"Tidak mau, aku mau pakai baju ini saja," tolak Anara.
Andika melirik dres yang di pakai istrinya sangat pendek. Dia tak rela jika lekuk tubuh istrinya di nikmati oleh lelaki lain.
'Aku jadi penasaran, seperti apa anakku nanti. Kok belum lahir juga minta Mamahnya memakai pakaian seperti ini,' batin Andika.
Mobil yang di kendarai oleh Andika sudah sampai di parkiran depan perusahaan. Ke duanya segera turun. Andika melepas jas yang sedang dia pakai untuk menutupi tubuh bagian atas istrinya.
"Aku tidak mau pakai jas!" Anara hendak menyingkirkan jas yang suaminya pakaikan ke tubuhnya.
"Kalau kamu lepas, lebih baik kamu pulang." Andika bersikap tegas kepada istrinya.
"Baiklah," Anara menuruti perkataan suaminya.
Andika merengkuh pinggang istrinya. Mereka berjalan berdampingan memasuki perusahaan. Semua karyawan yang berpapasan, menyapa mereka berdua. Bahkan karyawan laki-laki tak henti-hentinya menatap Anara yang terlihat sexy. walaupun bagian atasnya di tutupi dengan jas milik Andika. Namun dresnya yang sangat pendek membuat pahanya sedikit terekspos.
"Tutup matamu atau aku pecat!" ucap Andika kepada seorang karyawannya yang sejak tadi menatap Anara.
__ADS_1
Lelaki itu segera pergi dari sana. Begitu juga dengan karyawan yang lain tak berani menatap istri dari atasannya itu.
•••••••