
Setelah Alana dan Romi memasuki kamar, Hendrik masih terdiam ditempatnya sembari menggendong putranya.
Jantungnya masih berdetak kencang, dan hatinya berdesir tak karuan karena baru saja menatap mata Alana setelah sekian lama ia tak melihatnya.
Perasaan itu bercampur cemas dan takut hingga membuatnya tak mampu berkata apa pun.
'Alana,,, aku harap kau baik-baik saja,' pikirnya dalam hati karena merasa cemas akan sikap Alana yang barusan ia lihat.
"Apakah ibuku akan baik-baik saja?" Tiba-tiba suara Agung menarik Hendrik dari lamunannya.
"Jangan khawatir," kata Hendrik menenangkan putranya meski saat ini dia juga tak kalah khawatir nya dengan Agung.
"Semoga Kakek bisa menenangkan ibuku,," ucap Agung dengan tatapan nanar memandang pada pintu kamar ibunya.
Diam-diam dalam hatinya dia menyalahkan dirinya sendiri, sebab setiap kali ibunya jatuh sakit semua pasti karena ulahnya.
"Dimana kamarmu?" Tanya Hendrik saat melihat wajah putranya tampak semakin murung.
"Aku tidak mau ke kamar, aku akan menunggu kakekku keluar dari kamar Ibuku lalu menanyakan keadaan Ibuku!!" Ucap Agung bersikeras.
Melihat kekeras kepalaan putranya, Hendrik hanya bisa menghela nafas lalu pria itu berjalan ke sebuah pintu kamar yang tak jauh dari mereka lalu membukanya.
"Ku bilang aku tidak mau!!" Agung berteriak di gendongan ayahnya saat melihat Hendrik sudah memasuki kamarnya.
Klik!
__ADS_1
Pintu kamar ditutup lalu Hendrik berjalan ke arah ranjang meletakkan putranya ke atas ranjang.
"Jangan terlalu keras kepala, kakekmu mungkin membutuhkan waktu yang lama untuk menenangkan ibumu," ucap Hendrik ikut duduk di pinggir kasur.
Agung hanya mendengus kesal mendengar ucapan ayahnya.
Kedua orang itu terdiam dalam waktu yang lama sampai ketika pintu kamar Agung di ketuk.
Tok tok tok...
Agung Langsung melompat dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu membuka pintu tersebut.
"Kalian di sini," Romi memandang Hendrik yang berdiri di belakang Agung, "Alana ingin menemui kalian, Aku mengatakan padanya kalau kau ingin berterima kasih karena dia sudah menjaga Agung, Alana juga berpikir bahwa kau datang untuk menjemput Putramu," kata Romi yang berdiri di depan pintu kamar.
"Kau akan tahu nanti," ucap Romi
Segera, kedua pria itu keluar dari kamar lalu mengikuti Romi ke lantai bawah dan melihat Alana sudah duduk di lantai bawah sembari memegang remote TV.
Tatapan Hendrik tak pernah lepas dari Alana, dia bisa melihat perempuan itu berada dalam kegugupan dan ketakutan, tangannya yang putih pucat *******-***** remote yang dipegangnya.
'Sabar,, aku tidak boleh bertindak gabah atau Alana mungkin akan menjadi takut padaku.' pikir Hendrik menahan dirinya, padahal dia sangat ingin mendekati Alana lalu memeluk perempuan itu dengan erat.
Dia merindukan Alana.
Setelah menuruni tangga, Hendrik langsung duduk di sofa tunggal yang merupakan sofa paling jauh dari Alana.
__ADS_1
"Ibu,, Apakah ibu baik-baik saja?" Agung bertanya dengan hati-hati tanpa berani mendekati Alana.
Dia takut kalau perempuan itu mungkin akan memarahinya.
Alana hanya menatap pada pria kecil yang terlihat cemas menatapnya.
'Kenapa pria kecil ini? Dia sudah datang dijemput oleh orang tuanya tapi kenapa terus memanggilku ibu?! Mengesalkan sekali.!!' pikir Alana.
"Agung, duduklah bersama Kakek," kata Romi menarik Agung ke pangkuannya saat melihat Alana tidak memiliki niat untuk menjawab pertanyaan Agung.
"Ayah, aku mulai mengantuk," kata Alana saat ia semakin keras meremas remote di genggamannya.
Dia sangat gelisah hingga keringat kembali memenuhi kening dan punggungnya.
Pokoknya dia selalu merasa takut pada Hendrik, apa lagi dia merasa bahwa Hendrik terus menatapnya.
"Tuan Hendrik silahkan berbicara," kata Romi melihat Hendrik yang terus diam menatap Alana.
"Terima kasih,, saya akan singkat saja. Saya kemari untuk berterima kasih karena Nona Alana telah menjaga putra saya. Dan sebagai ucapan terima kasih saya, saya akan mengabulkan apa Apun permintaan Nona Alana." Ucap Hendrik menatap Alana dengan penuh kerinduan.
Alana terdiam sesaat, ia memikirkan ucapan Hendrik, "Ya. Permintaan saya adalah supaya Tuan membawa pergi putra Tuan, saya sudah lelah mendengarnya memanggil saya 'Ibu,'!" Ucap Alana membuat semua orang menhan nafas.
Mengapa permintaannya seperti itu?
Romi dan Hendrik langsung melihat agung yang langsung gelisah mendengar ucapan Alana.
__ADS_1