
Romi yang duduk bersama Agung bisa mendengar bisik-bisik suara yang ada di sekitar mereka.
Romi memperhatikan cucunya dan mengetahui bahwa kemarahan mulai melingkupi hati pria kecil itu, jadi dia mengulurkan tangannya memegang tangan Agung.
"Jangan dengarkan mereka, fokus saja pada ayah dan ibumu." Ucapan menatap mata redup milik cucu kecilnya.
Agung berusaha mengangguk, tetapi dalam hatinya, dia merasa sangat kecewa pada orang-orang di tempat itu.
'Orang-orang dewasa ini benar-benar tidak tahu cara menghargai pernikahan orang lain!!' Gerutu Agung dalam hati sembari melihat ke arah ayah dan ibunya yang kini menandatangani surat pernikahan mereka.
Setelah menandatangani surat pernikahan, Alana dan Hendrik kemudian berfoto bersama di atas altar lalu turun dari altar.
"Ayah! Ibu!!" Agung langsung berseru girang berlari ke arah dua orang itu dan memeluk Alana dengan erat.
Sembari memeluk Alana, Agung mendongak menatap ibunya, "Ibu sangat cantik!!" Ucapnya dengan mata berbinar-binar.
"Terima kasih sayang," ucap Alana menepuk pelan bahu Agung.
"Kemarilah, biar Ayah gendong," ucap Hendrik di respon Agung dengan mengulurkan dua tangannya.
Hendrik langsung membawa pria itu kegendongannya lalu mereka mendekat ke arah Romi untuk memberi salam.
Hendrik dan Alana menunduk diikuti Agung yang juga ikut menunduk pada Romi.
"Kalian sudah sah menjadi suami istri, Kalian harus tetap bersama dan membahagiakan Agung. Sekarang, pergilah sapa para tamu tamu kita di sini jangan membuat mereka menunggu." Ucap Romi.
__ADS_1
"Baik Ayah."
"Baik Ayah."
Akhirnya dua orang itu berkeliling menyapa para tamu dengan Hendrik yang terus menggendong Agung.
Alana sama sekali tidak mengenal satupun tamu yang datang, bahkan Hendrik, dia hanya mengenal beberapa karena kebanyakan yang datang adalah tamu Romi.
"Terima kasih telah datang ke acara pernikahan kami," ucap Hendrik di meja pertama yang mereka sapa.
Sala satu pria berkata, "Ya, selamat atas pernikahan kalian. Tidak menyangka Putri Tuan Xionir secantik ini, dan sekarang sudah menikah. Tapi anak ini,,, apakah dia,,"
"Ya, dia putra kami berdua." Ucap Hendrik.
Seorang perempuan muda yang duduk di meja itu benar-benar tidak tahan untuk bertanya tentang Putri Xionir yang memilih Hendrik sebagai suami.
Jadi perempuan itu berkata, "Nona Xionir, Anda adalah perempuan dari keluarga kaya raya dan terhormat, mengapa memilih pira miskin yang Ayahnya merupakan buronan dan memiliki utang besar untuk menjadi suami Anda?. Sangat tidak layak un--"
"Tolong jangan dengarkan putriku. Dia masih terlalu muda, jadi tidak bisa berpikir dengan benar." Seorang pria paruh baya berbicara dengan wajah menyesal.
Bagaimana pun, meski Romi memiliki menantu yang buruk, tapi pria itu adalah pengusaha nomor satu di negara mereka, tidak boleh bersinggungan dengannya.
Tetapi Alana yang mendengar penghinaan itu merasa begitu kesal, jadi dia segera membela Hendrik, katanya, "Suamiku memang pengangguran, lalu kenapa? Dia bisa menyiapkan pernikahan seindah ini untukku dengan uangnya sendiri! Mungkin kau tidak akan bisa mengalami pernikahan seperti ini, bahkan jika aku menikah dengan orang paling kaya di negara ini!!!"
Agung mengangguk, "Benar, Ayah paling hebat di dunia ini!! Tidak ada yang bisa melebihinya!"
__ADS_1
"Sudah, kita ke tempat lain saja," ucap Hendrik mengajak Alana dan agung menyapa tamu lain.
Perempuan yang baru saja mencelah Hendrik langsung mendengus kesal, 'Heh,, akan ku buktikan kalau pria miskin itu tidak menggunakan uangnya sendiri untuk pernikahan ini. Pastilah Tuan Xionir yang membiayai semuanya.'
Saat itu jugalah Romi datang di meja itu untuk menyapa semua tamu.
Mereka berbasa-basi sebentar saat percakapan mereka direcoki oleh perempuan yang tadi mencelah Hendrik.
"Tuan Romi, maaf sekali berbicara tidak sopan, tapi pernikahan ini,, apakah Menantu Tuan Romi yang menyiapkan dan membiayainya?" Tanya perempuan itu.
Sontak, Romi tertawa mendengarnya, "Benar, pernikahan ini disiapkan sendiri oleh menantuku. Bahkan hotel ini juga miliknya, tapi dia tidak mau mengatakannya pada orang lain karena terlalu merendah. Kalau tidak begitu, mana mungkin aku mau menikahkan putriku dengannya?"
Semua orang terkejut mendengar ucapan Romi, ternyata hotel paling bergengsi di tota itu milik Hendrik!!!
"Tuan Romi, bukankah keluarga menantu Anda sudah bangkrut, mengapa bisa--"
"Ah,, yang bangkrut adalah keluarganya, bukan menantuku," jawab Romi dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
Sekejap saja, berita itu tersebar luas dan tak ada lagi orang yang berani mengejek Hendrik.
Maka mulai hari itu Hendrik bersama keluarganya menjalani hari-hari dengan baik.
Mereka memiliki dua orang anak lagi dan setiap hari terus berkeliling dunia untuk menunjukkan segala hal baru pada anak-anak mereka.
TAMAT
__ADS_1