Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
³⁷. Pria itu telah menyentuhnya


__ADS_3

Hendrik kembali ke kamarnya membawa kotak berisi foto-foto Alana.


Dia memegang erat kotak itu sebelum berjalan ke balkon dan menyalakan api lalu membakarnya satu-persatu.


'Pria tua itu,, akan kupastikan kau menyesal karena sudah hidup di dunia ini!' Hendrik sangat marah!


Setelah membakar foto-foto Alana, Hendrik kembali ke sisi tempat tidur dan duduk di sana sembari memegangi tangan Alana.


"Aku berjanji akan melindungimu, aku berjanji..." Ucap Hendrik menatap nanar wajah Alana yang tampak pucat.


Dia menunggu selama berjam-jam di samping Alana sampai perempuan itu terbangun.


"Mmh..." Gerutu Alana yang merasa sakit di sekujur tubuhnya.


Perempuan itu membuka mata dan melihat Hendrik sedang menatapnya, ia merasakan genggaman Hendrik di tangannya dan seketika ia kembali teringat akan hal yang terjadi sebelumnya akan hal yang terjadi sebelumnya.


"Kau sudah bangun, apa kau merasa tidak nyaman?" Tanya Hendrik mengulurkan tangannya menyentuh rambut Alana.


"Orang itu,," Alana terlihat ketakutan.


"Aku di sini, aku menjagamu." Ucap Hendrik mendekatkan wajahnya ke Alana dan menempelkan dahi mereka seolah memberi kekuatan pada perempuan itu.


Alana menangis menatap Hendrik yang memejamkan matanya, ia ingat Bagaimana percakapannya dengan Hendrik.

__ADS_1


Pria itu ingin bertanggungjawab, tapi bertanggungjawab yang dimaksud pria itu ternyata adalah dengan memperdalam lukanya.


Pria itu bukannya menenangkannya dan malah membawanya ke kamar mandi dan diperlakukan seperti wanita murahan...


"Sialan!! Menjauh dariku...!!!" Terima Alana saat ia mengingat Bagaimana Hendrik menyentuh seluruh tubuhnya sampai mengambil kegadisannya.


Dia merasa marah pada Hendrik karena bukannya lelaki itu membantunya keluar dari rumahnya pria itu malah memanfaatkan keadaannya yang sudah lemah.


Ia merasa tak berharga lagi,, ayah dan anak itu menyentuhnya secara bergilir....!


Hendrik sangat terkejut dengan teriakan Alana hingga pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Alana yang kini menatapnya amarah.


"Ada apa?" Tanya Hendrik dengan suara yang halus.


Dia pikir Hendrik berbeda dengan ayahnya, tetapi ternyata kedua orang itu memiliki sifat yang sama!!


"Ada apa? Mengapa kau tiba-tiba marah?" Hendrik sangat terkejut karena tadinya ketika mereka masih berada di kamar mandi perempuan itu bersikap sangat baik dan patuh padanya tetapi sekarang,,, mengapa Alana jadi berubah?


Dengan wajah cemas nya Hendrik memperhatikan Alana yang berusaha duduk dan menjauh darinya.


"Kau keparat...!! Sekarang kau senang kau dan ayahmu sudah memperlakukanku seperti perempuan murahan..! Kalian senang, iya kan?!" Alana tertawa sambil menangis.


Ucapan Alana membuat Hendrik terdiam karena tak menyangka ternyata Alana berpikir seperti itu.

__ADS_1


"Alana tidak,, Tidak seperti itu. Aku tidak pernah memandangmu seperti itu, aku tulus padamu, aku akan bertanggungjawab." Ucap Hendrik dengan panik.


Mengapa pwrempuan itu malah menyalahkannya? Bukannya sebelumnya mereka sudah setuju?


"Kau pikir aku percaya? Hiks,, hiks,, sekarang kau pasti senang kan?! Kau sudah merendahkanku bersama ayahmu,, apa itu menyenangkan?!" Tatapan Alana yang terlihat penuh dendam membuat Hendrik tak bisa lagi berkata apa pun.


Mengapa malah seperti ini?


Dia tidak pernah bermaksud melukai Alana, dia hanya membantu perempuan itu,, tapi mengapa?


"Alana, aku tidak begitu,, aku benar-benar--"


"Diam!! Tutup mulut menjijikkanmu itu..! Kalian semua sampah!! Ayah dan anak sama-sama sampah!!!" Teriak Alana dengan histeris lalu perempuan itu turun dari rajang.


"Kau mau kemana? Dengarkan aku dulu." Ucap Hendrik mengejar anak yang berlari ke arah pintu.


"Jangan..!! Jangan sentuh aku dengan tangan kotorku itu!" Suara Alana yang penuh ketakutan menghentikan Hendrik di tempatnya.


"Jangan ikuti aku... Tolong biarkan aku pergi.." ucap Alana dengan gemetaran,, dia merasa jijik pada Hendrik...


Pria itu telah menyentuhnya, telah mempermalukannya!!


__ADS_1


__ADS_2