
Ruang kerja Hans.
"Tuan, sepertinya masalah Nona Alana sudah sampai ke telinga Tuan Romi." Ucap Bawahan Hans.
"Bagus, lalu apa yang pria itu lakukan?" Tanya Hans.
"Saat ini kami mengetahui kalau orang-orangnya yang sedang berusaha mencari celah menjatuhkan perusahaan, juga beberapa agen peretas sudah dibayar oleh mereka untuk melakukan peretasan secara besar-besaran. Menurut mata-mata, orang-orang kita di area perdagangan juga banyak mendapat masalah hingga mereka semua menarik diri ke sisi Tuhan Romi.
"Hal ini pengaruhi penjualan senjata ilegal dan obat-obat terlarang yang kita seludupkan. Bahkan organisasi kita yang menangani penyelundupan remaja dari negara Xx sudah ditangkap oleh pihak keamanan karena dilaporkan oleh bawahan Tuan Romi. Saat ini sedang terjadi kesenjangan dalam kerjasama dengan banyak pihak." Ucap Sang bawahan.
"Ha ha ha... Dia bergerak cepat juga. Hanya seorang putri murahan yang tidak lebih baik dari seorang perempuan rendahan, ck,, ck,,," Hans berdecak sembari tersenyum miring Karena ia merasa konyol dengan tingkah Romi.
Lagipula perempuan itu tidak kehilangan apapun, hanya sedikit rasa ketakutan tapi mengapa harus membuat masalah sampai ke titik seperti ini?
"Hubungi mereka dan biarkan aku bertemu dengannya. Aku akan lihat Bagaimana tebalnya muka pria itu saat melihat foto-foto anaknya." Ucap Hans dengan senyum merendahkannya.
"Saya akan mengaturnya." Ucap sang bawahan.
__ADS_1
Bawahan itu hendak pergi meninggalkan ruang kerja Hans ketika suara Hans menghentikan langkahnya.
"Panggil Hendrik kemari." Ucap Hans.
"Baik Tuan." Jawab sang bawahan lalu pria itu keluar dari ruangan dan pergi ke kamar Hans.
Tok tok tok...
Suara ketukan bawahan itu menggantung selama beberapa detik sebelum seorang pria membuka pintu kamar.
Sang bawahan terdiam sesaat melihat pria yang berdiri di depannya, pria culun dengan kacamata besar kini berubah menjadi pria yang terlihat datar dan,,, cukup tampan.
Sejak kapan Hendrik berani berbicara dengannya? Dan lagi, Sejak kapan pria itu berani bertatapan dengannya?
Namun tidak ada gunanya memikirkannya "Tuan besar memanggil kau ke ruangannya." Ucap bawahan itu.
Bawahan itu hendak pergi meninggalkan Hendrik karena tugasnya sudah selesai, tetapi langkahnya terhenti ketika suara Henrik dari belakang terdengar menekannya.
__ADS_1
"Kau!" Hendrik menatap tajam punggung bawahan itu.
Bawahan itu berbalik menatap Hendrik dengan tatapan tidak suka nya "Apa lagi?"
Beraninya Hendrik yang merupakan pewaris gagal berbicara seperti itu dengannya? Seandainya Hendrik bukanlah putra Tuan besarnya, sudah dari lama dia menyingkirkan pria itu.
"Seorang bawahan yang sangat berani bersikap sopan pada Tuannya, menurutmu Apa hukuman yang tepat untuk bawahan itu?" Tanya Hendrik dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
Hal itu membaut sang bawahan merasa aneh,, Apakah pria didepannya sedang salah makan obat?
Atau kah dia yang seharusnya makan obat karena dia sudah halusinasi melihat perubahan Hendrik yang sangat aneh?
"Maksudmu?" Bawahan itu bertanya sembari menyipitkan matanya untuk memastikan pendengarannya.
"Ck,, kali ini aku akan memaafkanmu, tapi lain kali kalau kau berani bersikap tidak sopan di depanku, hati-hati dengan kepalamu!" Kata Hendrik lalu berbalik meninggalkan bawahan itu.
Dia sudah muak diperlakukan seperti sampah dan karena ayahnya menginginkannya bersikap tegas maka dia akan memulainya dari hari ini.
__ADS_1
'Alana, Aku tidak mengerti maksudmu, tapi aku melakukan ini untukmu.' pikir Hendrick dalam hati sembari berjalan kearah ruang kerja ayahnya.