Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
185. Kondisi Glen


__ADS_3

Keesokan harinya Alana bangun dengan mata yang bengkak.


Agung yang melihat mata ibunya langsung mengulurkan tangannya mengelus mata bengkak milik ibunya.


"Kenapa mata Ibu jadi bengkak?" Tanya Agung dengan wajah yang tampak kasihan pada ibunya.


Hendrik yang tidur di samping Alana membuka matanya lalu berkata, "Kemarin malam ibumu terlalu lama berada di balkon makanya matanya jadi bengkak karena terkena angin malam."


"Ibu!! Kenapa Ibu tidak mendengar ayah?? Ayah sudah bilang kemarin kalau angin malam itu tidak baik." Kata Agung dengan suara yang marah tetapi wajah pria itu menampakkan kecemasannya pada ibunya.


"Ibu minta maaf,, lain kali Ibu tidak akan melakukannya lagi." Ucap Alana memeluk Agung.


Melihat Alana memeluk Agung dengan erat, Hendrik pun memeluk perempuan itu dari belakang dan ketiganya masih bermalas-malasan di tempat tidur sampai beberapa menit.


Setelah bangun, mandi dan sarapan, Hendrik mengajak ketiga orang itu keluar dari apartemen.


Ketiganya duduk di dalam mobil dengan Dirga sebagai seorang tambahan yang menjadi sopir pribadi.


"Ayah,, kita akan kemana?" Tanya Agung yang antusias melihat keluar jendela.


"Kita akan mengunjungi kakekmu di rumah sakit." Ucap Hendrik.

__ADS_1


Agung yang melihat keluar jendela langsung menatap ayahnya dengan wajah terkejutnya, "Kakek di rumah sakit?!!" Tanyanya tak percaya.


"Ya,, " jawab Hendrik.


"Kenapa Kakek di rumah sakit?" Tanya abang dengan wajah kecilnya yang tampak sangat cemas.


Dia sudah melihat di TV bahwa orang yang sakit akan dibawa ke rumah sakit.


Dan yang lebih parahnya, di tv-tv orang sakit parah lah yang dibawa ke rumah sakit!


Lebih lagi, setiap kali dia menonton orang yang dibawa ke rumah sakit sangat jarang yang sembuh!!


"Kakek mu hanya kelelahan Jadi dia butuh dokter untuk membantunya beristirahat." Kata Hendrik.


Alana tersenyum, "Mata Ibu tidak perlu diperiksa oleh dokter, mata ibu akan sembuh dalam beberapa hari." Kata Alana.


"Benarkah?" Agung kembali bertanya sebab dia merasa sangat cemas pada mata ibunya.


"Iya," jawab Alana memeluk Agung dengan erat.


Dia merasa sangat senang memiliki seorang pria kecil yang sangat memperdulikannya.

__ADS_1


Mereka dengan cepat tiba di rumah sakit lalu Hendrik membawa mereka ke lantai di mana Romi dirawat.


Selagi berjalan, Agung terus mengelilingkan pandangannya memperhatikan seluruh ruangan yang mereka lewati.


"Woh,, Ini pertama kalinya aku datang ke rumah sakit. Tapi ada bau aneh di sini, Apakah ayah dan ibu juga menciumnya?" Tanya Agung yang sedang berada di gendongan Hendrik.


Alana yang sedang menggandeng satu tangan Hendrik langsung meremas kuat tangan pria itu lalu tertawa kecil, "Ini adalah bau obat, bau obat sangat memenuhi rumah sakit karena di sini orang-orang menggunakan obat untuk menyembuhkan penyakit." Ucap Alana.


Agung mengangguk-angguk, "Aku tidak suka bau ini, semoga saja kakek yang tinggal di rumah sakit untuk beristirahat bisa beristirahat dengan baik." Kata Agung yang merasa cemas dengan kakeknya yang harus menghirup bau tak enak itu.


Alana dan Hendrik hanya terdiam, mereka tidak tahu harus menjawab apa pada pertanyaan pria kecil itu.


Mereka tiba di ruang depan kamar Romi dan terkejut melihat Glenn berdiri di sana.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" Memperhatikan pria yang berdiri dengan beberapa bagian tubuhnya masih di perban dan di gips.


"Tuan, Saya minta maaf tapi saya tidak bisa beristirahat ketika--"


"Kau!!" Hendrik ingin memarahi pria itu, tetapi karena Agung bersama dengan mereka maka dia menahan amarahnya.


"Ini perintah dariku, pergi beristirahat!!" Ucap Hendrik.

__ADS_1


Agung memandangi keadaan Glen, Wajah pria kecil itu langsung memucat memikirkan kakeknya 'Apakah kakek juga berada dalam keadaan seperti pria ini hingga dia harus berada di rumah sakit?' ucapnya dalam hati.


__ADS_2