
Setelah semua orang duduk di kursi masing-masing, Alana kemudian mengambil piring dan melayani semua orang.
'Aku harap telur dari yang kubuat ini tidak terlalu buruk.' pikir Alana yang merasa sedikit cemas Jika saja Hendrik malah tidak mau memakan masakannya.
Bagaimanapun, ini adalah masakan pertamanya tanpa ditemani oleh Hendrik, dan meski itu adalah menu sederhana, namun dia sudah menghabiskan berjam-jam untuk membuatnya.
Agung mencium bau telur dadar dari piringnya dan pria itu langsung menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Ada apa?" Alana bertanya dengan cemas melihat putranya yang tampak tidak baik.
"Uh,, ibu, aku merasa mual mencium bau telur dadar." Ucap Agung yang merasa enak dengan bau telur dadar yang sudah seharian terus tercium di hidungnya.
Pria kecil itu merasa eneg karena sedari tadi siang dia sudah mencicipi beragam telur dadar buatan ibunya. Jadi untuk makan malam lagi dengan menu telur dadar, rasanya begitu tidak berselera.
Alana tampak murung, ia melihat makanan di atas meja, hanya ada dua rupanya yaitu nasi putih ditambah telur dadar sederhana buatannya.
"Sepertinya ibu membuat telur dadar yang tidak baik. Bagaimana kalau kita memesan makanan?" Tanya Alana sembari melihat pada Hendrik.
"Hm,, ini memang wajar ketika kita yang membuat masakannya maka kita akan merasa eneg untuk memakannya, apalagi kalau membuat telur dadar yang banyak. Bagaimana kalau Ayah membuat makanan lain untuk Agung?" Tanya Hendrik pada Agung langsung diambil oleh pria kecil.
__ADS_1
"Aku mau daging!" Seru Agung.
"Baiklah, tunggu sebentar," kata Hendrik berjalan ke arah dapur diikuti pandangan murung Alana.
'Apakah aku memasak dengan sangat buruk sampai Putraku sendiri tidak mau mencium baunya?' pikir Alana sembari menghela nafas.
Mereka menunggu sekitar 15 menit lalu Hendrik kembali membawa daging yang telah di goreng bersama saus instan yang dituang Hendrik pada sebuah mangkok kecil.
"Ayo makan," ucap Hendrik meletakkan masakannya di atas meja lalu mengambil sepotong untuk diletakkan di piring Agung.
Setelahnya, pria itu mengambil telur dadar milik Alana lalu mulai makan dengan lahap.
Hendrik yang sadari tadi fokus pada makanannya langsung mengangkat wajahnya dan berkata, "Maaf, aku lupa memberi koreksi karena sangat menikmati masakanmu. Rasanya sangat enak tapi akan lebih enak lagi kalau kau menambahkan penyedap rasa. Jangan hanya garam saja." Kata Hendrik.
"Begitu ya,, kalau begitu lain kali aku akan menambahkannya. Yang penting sekarang kau menyukai masakanku!!" Ucap Alana memperlihatkan wajahnya yang amat senang.
Masakan pertamanya ternyata tidak gagal, bahkan Hendrik sangat menyukainya!!!
"Hm... Lain kali kita juga harus belajar untuk membuat daging goreng seenak ini!!" Ucap Agung memperlihatkan daging di tangannya.
__ADS_1
"Okk!!!" Jawab Alana dengan percaya diri.
Perempuan itu berpikir bahwa, asalkan Dia menanyakan resepnya pada Hendrik maka tidak akan sulit untuk membuat apapun.
Ketiga orang itu makan malam dengan lahap lalu menonton TV selama 1 jam sebelum beranjak ke kamar untuk tidur.
Agung sudah tidur sejak mereka berada di depan TV jadi Hendrik menggendong pria kecil itu ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
Setelah itu, Hendrik menarik Alana kepelukannya lalu mencium perempuan itu.
"Apakah besok kita akan pergi lagi berjalan-jalan?" Alana tiba-tiba bertanya sembari menjauhkan wajahnya dari Hendrik yang terus memberinya ciuman bertubi-tubi.
Menggunakan tangannya, Hendrik menahan kepala perempuan itu agar tidak menjauh darinya.
Sembari terus menciumi Alana, Hendrik berkata, "Besok aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jadi jalan-jalannya ditunda dulu."
"Ahh,, Baiklah, tapi kalau malamnya, bolehkah kita pergi ke alun-alun?" Tanya Alana yang merasa bahwa sudah lama sekali dia tidak pergi ke tempat itu.
"Baiklah, malamnya kita akan mengajak Agung jalan-jalan." Ucap Hendrik lalu membungkam bibir perempuan itu menggunakan bibirnya.
__ADS_1