
Setelah sarapan dengan ibunya, Agung melihat Alana naik ke kamarnya sembari membawa bunga mawar merahnya.
'Hm,,, Ternyata Ibu menyukainya,' gumam Agung merasa sangat senang lalu pria kecil itu berlari meninggalkan Villa dan pergi ke villa ayahnya.
Pria itu langsung memasuki Villa Hendrik dan terkejut saat seorang pengawal menghalanginya.
Pria kecil itu berdiri menatap pengawal dengan tatapan tajam yang mengandung peringatan sembari menggembungkan pipinya pertanda dia sangat marah.
"Maaf Tuan Muda, tetapi saat ini ini Tuan Hendrik sedang tidak berada di Villa. Tuan Hendrik menyuruh saya menyerahkan ini saat Tuan Muda datang kemari." Sang pengawal menyerahkan sebuah kotak berwarna putih pada Agung.
Agung yang menerimanya segera berbalik pergi meninggalkan vila itu sembari memeluk kotak putih yang ia dapat dari Hendrik.
"Huh,, ternyata orang itu juga sangat sibuk. Tapi apa ya isi kotak ini?" Agung tersenyum sangat senang karena Ini pertama kalinya ia mendapat sebuah barang dari ayahnya, jadi dia berlari dengan langkah pendeknya memasuki Villa dan naik ke lantai dua.
Pria kecil itu terburu-buru memasuki kamar dan naik ke tempat tidur untuk membuka kotak nya.
Wajahnya dipenuhi kegembiraan dan senyum lebar yang tak pernah putus.
Agung belum sempat membukanya lalu pintu kamarnya tiba-tiba dibuka oleh seseorang.
"Ibu?!!" Agung sangat terkejut melihat kedatangan Alana.
__ADS_1
Selama dia berada di dunia, ini pertama kalinya ibunya memasuki kamarnya!!!
Bahkan ketika dia sakit, ibunya tidak pernah menjenguknya, hanya kakeknya saja yang mengurusi nya.
"Apa yang kau lakukan?" Suara judes Alana langsung terdengar di telinga Agung, tetapi pria kecil itu seperti biasanya, dia sama sekali tidak tersinggung.
"Tidak,, Aku hendak membuka hadiah dari temanku, Apakah ibu mau membantuku?" Tanya Agung sembari mengangkat kotak putih di tangannya dan memperlihatkannya pada Alana.
"Oh, kau punya teman?" Tanya Alana yang merasa bingung sebab mereka selalu tinggal di Villa jadi Kau darimana pria itu mendapat teman?
"Ya!! Tentu saja!! Seperti ibu yang memiliki penggemar rahasia, aku juga memiliki seorang teman!!!" Ucap Agung begitu bangga dan senang.
"Ibu menyukainya?!!" Terdengar suara Agung sangat senang sembari bertanya dengan mata berbinar-binar.
Bagus sekali kalau ibunya menyukainya!
"Heh,, siapa yang menyukainya? Aku hanya ingin memakannya saja." Ucap Alana.
"Ohh, tapi aku sudah tidak punya cemilannya. Yang tertinggal padaku juga sudah kuhabiskan,," Agung menghela nafas.
"Oh,, kalau begitu aku pergi dulu!" Ucap Alana segera berbalik untuk meninggalkan kamar ketika Agung menghentikannya dengan teriakannya.
__ADS_1
"Tunggu!!" Teriak Agung.
"Suaramu sangat berisik! Jangan menggangguku lagi!!" Ucap Alana merasa kesal hendak meninggalkan kamar Agung.
"Tapi kita bisa pergi memintanya pada temanku!" Ucap Agung menghentikan langkah Alana.
Perempuan itu berbalik menatap Agung "Memintanya di temanmu?" Tanya Alana tak percaya.
Sangat memalukan kalau dia pergi meminta sebuah cemilan pada teman seorang anak kecil!!
"Ya! Dia pasti tidak keberatan memberikannya pada ibu, dia selalu mengatakan padaku kalau cemilannya habis aku bisa mengambilnya lagi di rumahnya, di samping villa kita." Ucap Agung dengan senyum menghiasi wajahnya dan mata besarnya berbinar-binar menatap ibunya.
Kalau dia bisa membawa ibunya berjalan-jalan meninggalkan Villa maka artinya ibunya semakin dekat dengan kesembuhan!!
Tapi kemudian kata-kata Alana melunturkan senyum di wajah Agung.
"Hanya cemilan saja! Kenapa aku harus menemui teman mu demi sebuah cemilan?! Lucu sekali!" Alana berdecak kesal meninggalkan kamar Agung.
Selama beberapa detik Agung terpaku di tempatnya, ternyata ibunya sangat sulit di ajak keluar.
'Aku harus mencari cara lain. Tapi apa ya..?' ucap Agung dalam hati.
__ADS_1