Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹¹⁴. Tidak mungkin membela pria asing


__ADS_3

Hendrik masih berbicara dengan Stella ketika ponselnya tiba-tiba bergetar memperlihatkan sebuah pesan dari Dirga.


*Rencana kita menyebarkan rumor palsu tentang pertemuan Tuan di bar sudah berhasil mempengaruhi Tuan Hans, Tuan Hans sudah menyuruh asistennya untuk menghubungi notaris, tetapi mengenai kematian Tuan Dani, Tuan Hans juga sudah tahu bahwa semuanya itu disebabkan oleh orang-orang suruhan kita,* tulis Dirga pada pesannya.


Setelah membaca pesan itu, Hendrik kembali fokus pada Stella yang terus berbicara menceritakan bagaimana dirinya sebentar lagi akan menjadi sangat populer ketika pernikahan mereka diumumkan.


"Yang yang akan iri paling besar adalah Patra, dia pasti tidak menyangka bahwa calon suaminya ia banggakan ternyata lebih memilih aku ketimbang dirinya. Saat itu, aku akan--"


"Stella, saatnya kita pulang," tiba-tiba suara Juan dari belakang mereka.


Stela langsung menoleh kearah ayahnya dan mendengus kesal "Uh,, Ayah,, aku kan belum selesai bercerita, masih banyak hal yang akan kami bahas tentang masa depan kami." Ucap Stella.


"Hendrik memiliki sebuah hal mendesak untuk diselesaikan, lagipula sebentar lagi kalian akan bersama, jadi akan ada banyak waktu untuk saling berbincang," kata Juan pada putrinya lalu menoleh pada Hendrik, "Ayahmu sudah menunggumu diluar," katanya.


Hendrik langsung berdiri dan melemparkan sebuah senyum tipis pada Stella, "Lain kali aku akan menghubungi Nona Stella supaya kita bisa berbicara lebih nyaman." Ucap Hendrik langsung membuat suasana hati Stella menjadi lebih baik.

__ADS_1


"Ya! Aku akan menunggu, lain kali kita harus membahas lebih detail tentang rencana pernikahan kita." Ucap Stella sangat bersemangat.


"Tentu," kata Hendrik lalu pria itu berdiri menatap Juan, "Kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya.


"Baik, aku menunggu kabar baik darimu," ucap Juan di angguki Hendrik lalu pria itu segera meninggalkan ayah dan anak yang kini tersenyum ke arahnya.


Setelah meninggalkan Stella dan Juan, Hendrik langsung disambut oleh dua pengawal yang mengantarnya ke sebuah mobil yang tadi membawanya ke restoran itu.


"Silahkan Tuan," kata Sang pengawal membukakan pintu untuk Hendrik.


Tapi kemudian dia membuka matanya ketika tiba-tiba mengeluarkan sebuah kalimat dari mulutnya.


"Apa alasan mu membunuh Dani?" Tanya Hans.


Meski dia bisa melihat bahwa Hendrik sungguh-sungguh mengurus perusahaannya hingga mengeluarkan uangnya secara pribadi untuk mempertahankan kerjasama dengan partner bisnis, tetapi dia tak terima pria itu telah membunuh satu-satunya orang yang paling iya percaya.

__ADS_1


"Apa lagi yang bisa aku lakukan ketika kau lebih mempercayai Dani ketimbang aku, dia adalah ancaman bagiku Untuk mendapatkan perusahaanmu." Ucap Hendrik dengan suara datar memandang lurus kedepan.


Dia menghancurkan Dani karena pria itu satu-satunya orang yang mengetahui bahwa pertemuannya dengan para rekan bisnis di bar karena dia meminta seluruh rekan bisnis itu untuk melakukan komplain ke perusahaannya.


Dan karena pria itu sudah meninggal maka tidak ada lagi yang bisa mengatakan yang sebenarnya pada Hans, Hans sudah tertipu karena orang kepercayaan di sisi Hans telah dilenyapkan!!


"Benarkah? Kau masih merasa cemburu pada Dani yang bukan siapa-siapa itu hingga kau membunuhnya?" Hans menyipitkan matanya mengamati mimik wajah putranya.


Tetapi bagaimanapun dia melihat pria didepannya dia sama sekali tidak bisa melihat kebohongan di mata pria itu.


'Apakah dia benar-benar merasa takut kalau aku mau menyerahkan seluruh hartaku pada Dani?' Hans kembali ingat percakapannya dengan Hendrik di ruang CEO.


Pria itu mengatakan akan menguasai perusahaannya dan membiarkannya menderita di akhir hidupnya.


"Hah,, apa lagi alasanku yang lain?" Ucap Hendrik sembari terkekeh kecil lalu memejamkan matanya, "Kau tidak mungkin lebih mebela pria asing itu ketimbang Putra mu sendiri." Ucap Hendrik.

__ADS_1


__ADS_2