Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁶⁹. Patra berpura-pura sakit


__ADS_3

"Perkenalkan namaku Cleopatra, calon istri Hendrik." Kata Patra dengan senyum penuh arti.


"Aahh,," Sheila membuang muka "Baru calon," ucapnya penuh arti.


"Kau...!!!" Patra sangat marah, beraninya perempuan itu berkata seperti itu!!!


Perempuan itu menyiratkan bahwa dia barulah calon dan belum menjadi istri Jadi kemungkinan besar tidak akan menjadi istri Hendrik.


"Kalian berbincang lah aku masih ada urusan." Tiba-tiba kata Hendrik saat ia muak melihat dua perempuan itu.


Ia melepaskan tangannya dari rangkulan Patra lalu berjalan meninggalkan dua perempuan yang kini menatapnya dengan wajah tak percaya.


"He! Dia meninggalkan calon istrinya." Sheila langsung mencibir dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.


Sekarang dia yakin bahwa Hendrik sama sekali tidak tertarik dengan Patra!


"Jangan ikuti kami!!" Ucap Patra dengan tatapan sinis pada Sheilala lalu perempuan itu mengejar Hendrik.

__ADS_1


"Berjalanlah pelan-pelan," kata Patra pada Hendrik sembari menarik lengan pria itu.


"Jangan ikuti aku!!!" Ucap Hendrik dengan suara dinginnya sembari mempercepat langkahnya membuat Patra kesulitan mengejar pria itu.


"Mana biar bisa begitu? Aku harus berada disisimu untuk menjaga perempuan-perempuan gatal seperti Sheila itu mendekati calon suamiku." Ucapan telah langsung menghentikan langkah Hendrik lalu pria itu berbalik menatap Patra.


"Kau saja tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan ku, apalagi perempuan lain? Jangan membuat alasan yang tidak masuk akal dan cepat menyingkir dari sisiku!!" Kata Hendrik menghempaskan tangan Patra lalu pria itu berbalik meninggalkan Patra.


"Dasar gay!!! Lihat saja nanti aku akan membuatmu terpesona padaku dan akan menggilai ku!!!" Geram Patra berbalik untuk mencari ayahnya.


Setelah terbebas dari 2 perempuan menyebalkan itu Hendrik akhirnya bisa bernapas dengan tenang dan mulai berbincang-bincang dengan beberapa kolega yang sebelumnya sudah pernah bekerja sama dengannya.


"Hendrik,, ahh, perutku sakit..." Patra menghampiri Hendrik dengan wajah yang penuh keringat dan terlihat pucat.


"Bawa dia ke dokter." Kata Hendrik pada seorang pengawal yang bersiap untuk mengantarnya pulang.


Mendengar perkataan Hendrik, wajah Patra langsung berubah dan perempuan itu melompat ke arah Hendrik dan memeluk Hendrik dengan erat.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau begitu tega memberikan kepada seorang pengawal? Kau yang harus mengantarku!!" Ucap Patra sembari memeluk erat Hendrik hingga dadanya yang membusung menempel erat di tubuh Hendrik.


"Minggir!!" Kata Hendrik yang mulai merasa jijik pada perempuan di depannya, perempuan itu,,, beraninya perempuan itu menggodanya secara terang-terangan!!


Dengan satu hentakan Patra tersungkur ke belakang, untungnya sang pengawal dengan siaga menahan tubuh Patra hingga tidak jatuh.


"Kau begitu tega pada calon istrimu? Perutku sangat sakit dan aku memerlukanmu untuk membawaku ke dokter!!" Kata Patra dengan keringat bercucuran sebab dia memang merasakan sakit pada perutnya.


"Bawa dia pergi." Perintah Hendrik berbicara pada pengawalnya dengan penuh penekanan membuat pengawal itu akhirnya menarik perempuan itu.


"Tidak!!! Jangan sentuh aku!" Teriak Patra meronta-ronta.


"Apa yang terjadi?" Tiba-tiba Hans dan Wirawan muncul secara bersamaan.


"Ayah,,, perutku sangat sakit dan aku meminta tolong pada Hendrik supaya dia membawaku ke rumah sakit, tapi dia malah menyuruh para pengawal memegangi ku!!" Ucap Patra kini mendekat ke ayahnya dan memperlihatkan wajah tidak berdayanya.


"Hendrik!! Bagaimana bisa kau begitu tega pada calon istrimu?!!" Hans memarahi Hendrik, dia tidak boleh menyinggung Wirawan dan putrinya sebab keluarga Wijaya memiliki kekuasaan yang cukup besar.

__ADS_1


Kalau putranya menghancurkan hubungannya dengan keluarga Widjaja maka bisnisnya tidak akan berjalan dengan lancar!!


__ADS_2