Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹¹⁷. Pria kecil licik


__ADS_3

Hendrik akhirnya tiba di rumahnya, pria itu terkejut saat melihat villanya yang semula tenang kini penuh dengan barang-barang yang berantakan di seluruh bagian villa itu.


"Apa yang terjadi?!!!" Dirga berteriak pada beberapa pengawal yang tergeletak di lantai dengan tangan dan kaki terikat.


"Maafkan kami Tuan, beberapa waktu yang lalu orang-orang Tuan Hans datang menyerbu kami, jumlah mereka sangat banyak jadi kami tidak bisa berbuat apapun." Jawab sang pengawal yang memang villa itu ditugaskan hanya dijaga oleh 4 pengawal agar tidak menimbulkan rasa curiga pada Hans.


"Lalu apa yang mereka bawa?" Tanya Hendrik.


"Sebuah figura," jawab pengawal tersebut disambut helaan nafas Hendrik.


Pastilah itu foto Alana yang ia letakkan di kamarnya.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Hendrik langsung berjalan keluar Villa menuju samping lalu membuka gembok yang terkunci.


Dirga yang menyusul Hendrik begitu terkejut melihat pria itu sudah melangkah ke Villa sebelah, rumahnya baru saja di obrak-abrik oleh orang-orang suruhan Hans, tapi pria itu sama sekali tidak memperdulikannya!


"Apakah tidak ada sesuatu yang berharga di rumah ini?" Ucap Dirga menghela nafas.


"Hanya yang ada di Villa sebelah saja yang berharga dimata Tuan Hendrik," kata Sang pengawal yang berada di dekat Dirga.


Sementara Hendrik, pria itu sudah melangkahkan kakinya memasuki Villa.


Dia sengaja meringankan langkah kakinya supaya tidak mengganggu dua orang yang sedang duduk di ruang tamu menonton TV.


Alana terlihat menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya dari TV ke arah Agung yang duduk dengan wajah senduh.

__ADS_1


"Sebaiknya kau pergi ke kamar, mengganggu pemandangan saja berada disini!" Gerutu Alana pada putranya.


"Ibu,, Apakah ibu sungguh-sungguh tidak khawatir dengan pria itu? Bagaimana kalau telinganya benar-benar sangat sakit hingga harus diamputasi?" Tanya Agung dengan suara mengandung kesedihan mendalam.


Tentu saja dia tidak mau kalau Hendrik berubah menjadi pria cacat yang kehilangan telinganya.


Meski dia tidak tahu mengapa Alana menyatakan bahwa telinga Hendrik sakit, tetapi dia tahu kalau Ibunya tidak mungkin berbohong.


"Hah,,," Alana menghela nafas dengan kasar lalu mematikan TV di depannya, "Tapi tidak ada yang bisa kita lakukan selain menunggu! Ayahku sudah bilang kalau dia akan pergi mengeceknya, jadi kita tunggu saja," ucap Alana.


Dia juga merasa cemas Kalau pria itu benar-benar dirawat di rumah sakit maka dia harus bertanggung jawab untuk pria itu!


"Tapi Ibu, Apakah ibu mulai menyukai pria itu? Jujur saja padaku Bu, aku pasti akan menjaga rahasia Ibu dengan baik," ucap Agung kini mengalihkan pembicaraan saat melihat Alana sedang berbicara serius dengannya.


Sangat jarang Alana mau berbicara serius dengannya.


"Lalu, kenapa ibu sangat khawatir?" Tanya Agung.


"Kapan aku kahawatir?!!" Nada suara Alana semakin meninggi karena dibuat kesal dengan Agung yang terus memojokkannya.


"Huh,, kalau Ibu tidak mencemaskannya, mengapa Ibu mematikan tv-nya?" Tanya Agung.


"Apa?!! Apa hubungannya mematikan TV dengan mencemaskan pria itu? Sangat aneh!!" Kesal Alana kembali menyalakan tv di depannya.


"Tapi,, ibu jelas jelas terlihat mengkhawatirkannya." Kata Agung sembari memutar bola matanya dan tanpa sengaja melihat Hendrik berdiri tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Mata pria itu langsung membulat sempurna dengan rasa lega yang langsung menghilangkan kecemasan.


Hendrik mengedipkan sebelah matanya pada Agung.


Sekejap bertemu tatap dengan Hendrik, Agung langsung berpura-pura seperti tidak terjadi apapun Lalu menatap Alana.


"Ibu,," kata Agung memanggil Alan.


"Apa lagi?!" Tanya Alana yang sudah semakin kesal dengan Agung yang terus mengganggunya.


"Apakah ibu percaya kalau aku bisa mendatangkan pria itu sekarang juga di sini?" Tanya Agung.


"Hah,, jangan pikir aku anak kecil yang mudah ditipu," kesal Alana.


"Ahh,, tapi seandainya aku bisa mendatangkan pria itu di sini, Apakah ibu mau berjanji melakukan sesuatu untukku?" Tanya Agung pada Alana.


"Heh,, ucapan tidak masuk akal itu, kenapa aku harus mempercayainya?" Keluh Alana.


"Kalau ibu menganggapnya tidak masuk akal maka seharusnya ibu tidak keberatan bermain denganku karena Ibu tahu kalau ibu akan menang. Iya kan?" Agung dengan antusias melihat pada ibunya, dia sangat berharap perempuan itu menjawab iya.


'Heh,, anak kecil ini,, dia sedang apa sih??!' kesal Alan dalam hati.


"Baiklah, tapi kalau kau tidak bisa melakukannya maka kau juga harus menuruti keinginanku,, yaitu tidak pernah lagi menggangguku dan tidak akan pernah lagi memanggilku dengan panggilan ibu." Ucap Alana.


"Setuju!!" Ucap Agung bersorak kegirangan.

__ADS_1


Hendrik yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum dengan kelakuan putranya. Pria kecil licik!


__ADS_2