Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁴⁰. Kemarahan Agung pada Hendrik


__ADS_3

Dor dor dor!!


"Buka!!! Buka pintunya!!" Teriak Agung dari balik pintu sembari menggedor-gedor pintu kamar.


"Apa yang kau lakukan??" Alana berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu bagi Agung tetapi dia langsung ditahan oleh Hendrik dalam pelukan pria itu.


"Aku perlu bicara denganmu sebentar," kata Agung dengan satu tangan menahan pinggang Alana dan tangan yang lain menahan wajah perempuan itu agar menatapnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan? Tentang pertemuanmu dengan perempuan itu lalu kalian saling menyentuh bibir dan--"


Ucapan Alana terpotong oleh bungkaman bibir Hendrik yang sangat tiba-tiba.


"Ng!!" Alana berusaha meronta diperlukan Hendrik, tetapi Hendrik menahannya dengan kuat.


Setelah beberapa menit berciuman, Hendrik melepaskan ciuman mereka membiarkan Alana menghirup oksigen untuk mengisi paru-paru perempuan itu.


Setelah melihat Alana bernafas dengan normal, Hendrik kemudian berkata "Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk tetap di balkon? Mengapa Kalian pergi mengintip?" Tanya Hendrik.

__ADS_1


Alana yang mendengar pertanyaan Hendrik langsung mengangkat wajahnya dan menatap pria itu dengan marah.


"Kenapa? Tidak boleh?? Apa kau takut suatu saat akan ketahuan melakukan hal yang lebih daripada yang kalian lakukan tadi makanya sekarang kau--"


Cup!


Sebuah ciuman kembali mendarat di bibir Alana memotong ucapan perempuan itu.


"Perempuan itu namanya Patra, dia hanya rekan bisnis saja, tidak ada hubungan lebih. Mana bisa aku menghianati perempuan cantik ada di depanku ini?? Aku menunggu selama 5 tahun untuk mendapatkan mu, bagaimana bisa aku mencampakkanmu begitu saja??" Kata Hendrik kembali mendaratkan sebuah ciuman di wajah Lana.


Dia benar-benar mencintai perempuan itu!!


"Lalu mengapa kau membawa seorang perempuan ke Villa? Bukankah jika itu masalah pekerjaan harusnya dibahas pada jam kerja?" Tanya Alana memperhatikan Hendrik.


"Ini pekerjaan mendesak,, tapi kau harus percaya padaku kalau aku tidak pernah menghianatimu dan tidak akan pernah memikirkan untuk menghianati mu. Apa kau bisa mempercayaiku?" Tanya Hendrik dengan wajah bersungguh-sungguh.


Beberapa detik Alana memperhatikan wajah Hendrik lalu perempuan itu membalas pelukan Hendrik.

__ADS_1


"Aku percaya," katanya membenamkan wajahnya di dada Hendrik.


Dia sudah mendengar semua cerita Hendrik dari Ayahnya.


Jadi sebenarnya tidak ada lagi yang perlu ia ragukan, tapi apa yang dilihatnya tadi memang membuatnya kesal.


Bisa-bisanya seorang perempuan datang ke villa Hendrik dan bersikap lancang seperti itu!!!


Dor dor dor!!!


"Buka!!!" Agung masih terus berteriak dari pintu membuat Alana langsung mendorong Hendrik lalu membuka pintu untuk pria kecil itu.


"Ibu!!!" Teriak Agung langsung memeluk ibunya sembari melemparkan tatapan peringatan pada ayahnya.


"Ayah keterlaluan!! Aku tidak mau bicara dengan ayah!!" Teriak Agung pada Hendrik lalu pria kecil itu mendongak menatap ibunya, "Ibu, ayo kita kembali ke rumah kakek, kita tinggal saja di sana!!" Katanya.


Alana langsung menghela nafas melihat permusuhan antara ayah dan anak itu, "Tidak, ini sudah malam, kita tidur di sini saja, besok pagi baru ke sana," ucap Alana mengangkat Agung dan membawa pria kecil itu ke tempat tidur.

__ADS_1


Agung tidak membantah, pria kecil itu segera menyembunyikan dirinya di balik selimut sembari memeluk Alana lalu kembali melemparkan tatapan sinisnya pada Hendrix yang sedang menatap mereka.


"Tidur di luar!!" Usirnya.


__ADS_2