Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
186. Diajak berbelanja


__ADS_3

Setelah mengantar Agung dan Alana menemani Romi, Hendrik menemui Dirga untuk mendapatkan informasi dari pria itu.


"Semua mata-mata kita yang ada di black telah ditarik dan seluruh daerah kekuasaan black telah dikuasai. Namun sampai sejauh ini kami sudah menginterogasi seluruh orang-orang yang ada di black, tetapi tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan Hans." Lapor Dirga pada Hendrik.


"Tidak perlu buru-buru mencarinya, pria itu tidak akan berani melakukan apapun karena saat ini dia sudah tidak memiliki apapun. Yang terpenting sekarang adalah, bantu aku memindahkan makam Ibuku ke tempat yang lebih layak." Ucap Hendrik.


"Baik Tuan, saya mengerti." Jawab Dirga selalu pria itu segera pergi untuk melaksanakan perintah dari tuannya.


Hendrik memikirkan Hans selama beberapa menit lalu berbalik dan kembali ke kamar Romi.


Dilihatnya Romi sudah duduk bersandar, Alana menyuapi Romi dengan bubur, sementara Agung memijat tangan Romi.


"Kenala Kakek istirahat di rumah sakit? Kenapa tidak di rumah saja? Di sini ada bau obat yang tidak enak dicium, Apakah kakek tidak menciumnya?" Agung bertanya sambil melihat kakeknya yang tampak menikmati bubur yang disuapkan oleh Alana.


Hendrik duduk di samping Agung, "Kenapa pria kecil ini terlalu banyak pertanyaan? Kakek memang sedang istirahat, sekarang kau datang mengganggunya?" Tanya Hendrik pada Agung sembari mengacak rambut pria kecil itu.


"Huh! Ayah memarahiku padahal ayah sendiri juga sangat ribut di sini!!" Ucap Agung mendengus.


Melihat anak dan ayah itu bertengkar, Romi akhirnya tersenyum lalu berkata, "Kalian berdua, pergilah belikan kita beberapa buah, kakek ingin makan buah anggur."

__ADS_1


"Anggur!! Aku suka buah anggur!!" Mata Agung berbinar-binar lalu pria kecil itu menatap ayahnya, "Ayah, Ayo pergi membeli buah anggur!!!" Sorak Agung yang sangat bersemangat.


Sesaat Hendrik mengerutkan keningnya menata putranya, "Buah anggurnya tidak dibelikan untukmu, tapi untuk kakek!" Kata Hendrik menggoda pria kecil itu.


"Tidak masalah!! Kita bisa membeli lebih banyak agar aku dan ibu juga bisa mencicipinya," jawab Agung lalu menoleh pada ibunya, "Iya 'kan Bu?!"


"Iya," jawab Alana.


Mata Agung berbinar-binar mendengar ucapan Alana jadi dia kembali melihat ayahnya dan melompat ke pelukan pria itu.


"Ayo Ayah!! Ayo kita pergi!!" Ucap Agung yang sudah tidak sabar untuk melihat langsung bagaimana tempat menjual buah anggur.


"Baiklah, kalau begitu Kami pergi dulu." Kata Hendrik lalu pria itu berdiri menggendong Agung keluar dari kamar.


Hendrik keluar membawa mobil sendirian tidak ada satupun orang yang mengawalnya karena dia merasa bahwa ibukota telah menjadi aman sebab Black telah dibasmi


Mengendarai mobil ke arah supermarket, Hendrik terus memperhatikan putranya yang sangat bersemangat melihat keluar jendela.


Sesampainya di supermarket, mereka memarkir mobil lalu memasuki supermarket sembari bergandengan tangan.

__ADS_1


"Wah!! Wah!!! Wah!!!" Agung melompat-lompat dengan mata berbinar-binarnya melihat banyaknya barang di tempat itu.


"Apakah ini surga? Ada begitu banyak barang di sini!!" Agung berseru sangat keras hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar situ.


"Siapa itu? Dia terlihat seperti orang yang baru pertama memasuki supermarket."


"Mereka pasti pasangan ayah dan anak, keduanya terlihat sangat tampan, tapi mengapa anaknya itu terlihat seperti orang yang--" perempuan yang sedang berbicara itu langsung menutup mulutnya dan berjalan pergi saat Hendrik memberinya tetapan dingin.


"Ayah!!! Ayo mengambil ini!!" Kata Agung mengambil sebuah makanan.


"Ambilnya nanti saja, kita ke sana dulu," ucap Agung menarik putranya mengambil kereta belanja lalu memasukkan putranya ke dalam kereta.


"Wah!! Ada yang seperti ini juga!!" Agung tak henti-hentinya merasa kagum, dia merasa sangat senang saat keretanya mulai didorong oleh Hendrik, lalu mereka melewati berbagai rak-rak yang berisi barang-barang.


"Aya stop!!!" Teriak Agung saat ia melihat sesuatu.


"Ayah!! Aku melihat benda itu di TV, mereka memberikannya pada wanita dan wanita menjadi sangat cantik. Akan bagus kalau kita membelikannya untuk ibu!!" Ucap Agung menunjuk rak kosmetik.


Hendrik mengerutkan keningnya melihat barnag-barang itu, "Jangan beli di sini, kualitasnya tidak bagus." Ucap Hendrik kembali mendorong kereta belanja membuat Agung menghela nafas.

__ADS_1


'Kenapa kualitas di sini tidak bagus? Kualitas itu apa?' Agung merasa kesal.


__ADS_2