Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁷⁰


__ADS_3

Setelah berjam-jam tak sadarkan diri, Romi akhirnya membuka matanya.


Pria itu langsung melihat wajah bawahannya, Glen.


"Bagaimana Putri dan cucuku?" Langsung tanya Romi dengan nafas tersengal sebab tubuhnya masih sangat lemah, jadi hanya mengatakan beberapa kata saja sudah menghabiskan banyak energinya.


"Tuan tenang saja, Nona muda dan Tuan Muda kecil baik-baik saja. Saat ini mereka sedang bersama Hendrik. Sekarang tuan tolong tenang dan saya akan memanggil dokter untuk memeriksa tuan." Kata Glenn lalu keluar dari kamar meninggalkan Romi.


Begitu tiba di luar kamar dia langsung memberi perintah pada bawahannya agar memanggil dokter yang bertanggung jawab.


Setelah beberapa menit sang dokter langsung tiba lalu memeriksa melakukan pemeriksaan pada Romi.


"Kondisi Tuan sudah stabil tetapi bagaimanapun Tuan tidak boleh berpikir terlalu lelah apalagi menggunakan tenaga tuan. Terutama untuk bergerak, saat ini bagian sensitif Tuan terletak sangat dekat dengan jantung Tuan Jadi tidak boleh sembarang bergerak." Kata dokter itu sembari menatap Romi yang tampak pucat.


"Baik," jawab Romi dengan singkat.


"Kalau begitu saya permisi." Kata sang dokter yang jelas mengerti bahwa dua orang yang berada di ruangan itu hendak membicarakan masalah penting.


Begitu pintu kamar ditutup, Romi langsung menatap Glen, "Aku tidak bisa berbicara banyak, tapi mulai sekarang pergi temui Hendrik dan ikuti semua perintahnya. Termasuk masalah perusahaan, biarkan pria itu menanganinya sampai aku sembuh." Ucap Romi.

__ADS_1


"Baik Tuan," ucap Glen lalu pria itu keluar dari kamar Romi.


"Lebih paketat keamanan, aku harus keluar," katanya pada bawahannya.


"Baik Tuan!" Bawahan dengan serempak menjawab lalu mereka kembali berjaga dengan waspada.


Glenn keluar dari rumah sakit dengan mobil yang dikendarai melaju ke jalanan yang ramai.


Pria itu dengan hati-hati mengawasi seluruh kendaraan yang berada di sekitarnya sebelum memastikan bahwa dia tidak diikuti oleh siapapun.


Glen langsung pergi ke apartemen di mana Hendrik Alana dan Agung sedang bersembunyi.


"Masuklah," ucap Hendrik lalu membiarkan pria itu memasuki apartemen.


Alana dan Agung yang sedang menikmati es krim langsung melihat pria yang baru saja datang.


Pria itu tampak menakutkan dengan pembawaannya yang tegang dan dingin, jadi Agung langsung melompat ke pangkuan ibunya, sementara Alana, perempuan itu membuang mukanya berpura-pura mengalihkan perhatiannya ke arah TV.


Hendrik menghela nafas, "Rilekskan tubuhmu dan wajahmu, istri dan anakku ketakutan melihatmu seperti itu." Ucap Hendrik pada Glen.

__ADS_1


Glenn terpaku di tempatnya lalu ia melihat Alana dan Agung yang tampak takut padanya, "Maaf," katanya.


Pria itu berusaha bersikap tenang, tetapi meski dia sudah berusaha, dia merasa sangat kaku karena dia tidak biasa melakukannya.


"Kau ikuti aku!!" Kata Hendrik setelah melihat pria itu benar-benar sulit untuk mengubah ekspresinya.


Mereka memasuki salah satu kamar kosong di apartemen itu.


"Berita apa yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Hendrik.


Glen, "Tuan Romi sudah sadarkan diri dan kondisinya semakin membaik, tetapi dia masih harus beristirahat banyak karena luka yang dideritanya tepat berada di titik sensitif nya.


"Namun begitu dia memberi perintah kepada kami untuk mengikuti apapun instruksi dari Tuan dan terlebih masalah perusahaan, dia menyerahkan semuanya pada Tuan." Ucap Glen.


Hendrik mengerutkan keningnya menatap pria di depannya, "Kau bilang kondisinya membaik tapi mengapa dia menyerahkan seluruh urusannya padaku?" Tanya Hendrik yang merasa heran.


"Kondisinya memang membaik tetapi bukan berarti Tuan Romi sudah bisa banyak bergerak apalagi menguras tenaganya untuk berpikir memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan. Itulah sebabnya dia mempercayai Tuan untuk menggerakkan kami dan terutama menggerakkan perusahaan." Ucap Glen.


"Baiklah, aku mengerti, Tunggu aku di luar." Ucap Hendrik lalu kedua pria itu keluar dari kamar.

__ADS_1


Hendrik menghampiri Alana dan Agung sementara Glenn keluar dari apartemen untuk menunggu pria itu di luar.


__ADS_2