Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁴⁵. Janji


__ADS_3

Setelah sarapan bersama Alana dan Agung, Hendrik kemudian berpamitan pada dua orang itu untuk berangkat bekerja.


"Kapan ayah punya libur?" Tiba-tiba tanya Agung ketika Hendrik hendak melangkah ke dalam mobilnya.


Menghentikan langkahnya, Hendrik berbalik menatap putranya "Ada apa?" Tanyanya.


Agung menghela nafas dan menggembungkan pipinya lalu melihat Alana "Ibu, bilang pada ayah kalau kita mau pergi jalan-jalan keluar Villa. Ya...?!" Bujuk Agung sembari memperlihatkan wajah menggemaskannya.


Sudah beberapa hari ini dia terus membujuk ibunya agar perempuan itu mau keluar dari villa, tetapi Alana sepertinya masih menyimpan rasa traumanya jadi perempuan itu tidak mau mengabulkan permintaan Agung.


Alana menghela nafas menatap putranya yang terlihat sangat memohon padanya lalu perempuan itu menoleh pada Hendrik.


Hendri tidak mengatakan apapun jadi Alana kembali menatap putranya lalu perempuan itu berjongkok di depan Agung.


"Agung,, saat ini Ibu masih belum siap untuk keluar, jadi bisakah kita menunggu beberapa hari lagi?" Tanya Alana.


Agung memaksakan sebuah senyum lalu memeluk Alana "Apa pun untuk Ibu!!" Serunya.


Dia memang sangat ingin keluar, tetapi jika Ibunya belum siap untuk keluar dari villa maka dia masih bisa menahannya, bahkan Jika dia harus menahannya selama beberapa tahun lagi.

__ADS_1


"Terima kasih,," ucap Alana.


Hendrik memperhatikan dua orang itu lalu melangkah mendekati Agung dan mengelus kepala putranya "Kapanpun Kalian mau pergi jalan-jalan ayah akan selalu libur untuk kalian." Katanya.


Agung tidak mengatakan apapun, tapi pria itu hanya mengangguk ngangguk di dalam pelukan Alana.


"Kalau begitu katakan saja pada ayah jika kalian sudah ingin ditemani keluar villa, sekarang Ayah harus berangkat ke kantor." Kata Hendrik dijawab anggukan dan senyuman Alana.


Hendrik segera menaiki mobilnya yang akan membawanya ke kantor Gonedra.


Begitu mobil berjalan, Dirga yang sedari tadi sudah menunggu kesempatan untuk berbicara dengan Hendrik kini menatap kearah Hendrik.


"Bagus, setelah rapat pemindahan saham hari ini, langsung lakukan rencananya." Ucap Hendrik.


"Baik Tuan," jawab Dirga lalu pria itu segera menggunakan ponselnya untuk menghubungi Jaksel yang bertanggung jawab untuk melakukan peretasan besar-besaran pada dua perusahaan besar milik keluarga Gonedra.


Saat tiba di kantor, Hendrik melihat kantor tampak seperti biasanya, pria itu masuk ke ruangannya dan memeriksa beberapa berkas-berkas penting seperti yang ia lakukan pada hari-hari biasa.


Setelah beberapa menit berada di kantornya, tiba-tiba ponselnya berdering.

__ADS_1


"Halo?" Jawabnya.


"Hei,, calon suamiku!!" Terdengar suara Patra dari seberang telepon membuat Hendrik langsung mengerutkan keningnya.


"Ada apa?" Tanya Hendrik dengan suara acuh tak acuh sebab Dia malas meladeni perempuan itu.


Lagipula, tinggal hitungan jam lagi perusahaan perempuan itu akan bangkrut karena berurusan dengan Black jadi dia merasa malas.


"Aku meneleponmu hanya untuk mengingatkan kencan kita nanti malam harus di benar-benar dibuat totalitas!! Jangan sampai kau membantuku dengan sia-sia," kata perempuan dari seberang telepon membuat Hendrik teringat akan janjinya pada perempuan itu.


"Baiklah," jawab Hendrik dengan pasrah.


"Ok!! Aku akan menunggumu menjemputku nanti malam!!" Seru Patra dari seberang telepon lalu diikuti nada panggilan yang diputuskan.


Hendrik segera menarik telepon itu dari telinganya lalu melemparkannya ke meja.


Setidaknya Patra sudah memberinya sedikit bantuan untuk menemukan foto-foto Alana, maka tidak ada salahnya jika memberi sedikit muka untuk perempuan itu.


Dengan demikian Hendrik memanggil Dirga untuk melakukan pengaturan bagi Patra.

__ADS_1


__ADS_2