Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
194. Dufan


__ADS_3

Hendrik, Alana dan Agung sudah menunggu selama 3 menit ketika seorang pria menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru dan nafas yang tersengal.


"Tuan," kata pria itu berdiri dengan tegap sembari terburu-buru mengisi paru-parunya dengan oksigen.


"Kau terlambat 1 menit, gajimu akan dipotong 30%!" Ucap Hendrik menyerahkan ponsel Alana pada pria itu lalu dia berjalan ke arah dua orang yang sedang bercakap-cakap tentang kisah serial Batman.


"Sudah siap berfoto?" Tanya Hendrik pada dua orang itu.


"Ahh ya! Siapa yang menfoto kita?" Tanya Alana berbalik menatap pengawal Hendrik yang tampak kaku memegang ponsel.


Perempuan itu terpaku selama beberapa detik lalu berbisik pada Hendrik, "Kau yakin dia bisa mengirim foto kita dengan benar? Kau sudah mengajari caranya?" Alana merasa sangat ragu.


Setelah dibisiki Alana, Hendrik langsung menatap bawahannya yang tampak kebingungan melihat layar ponsel Alana.


'Dirga!! Awas saja kalau kau mengirim pengawal bodoh!!!' Kesal Hendrik mendekati pengawal itu.


"Kau bisa melakukannya?!!" Tanyanya dengan nada mengandung kemarahan.


"Uh,, Tuan, ponsel ini terkunci," ucap pengawal itu yang berpikir akan menggunakan keahliannya untuk membuka kuncinya supaya tidak mengundang kemarahan Hendrik tetapi ternyata dia belum sempat melakukannya ketika dia sudah ketahuan.


"Bodoh! Bahkan tidak bisa membuka kunci ponsel, pemotongan gajimu ditambah 20%!!" Ucap Hendrik membuat sang pengawal hanya bisa mengatur erat giginya meratapi kesialannya.

__ADS_1


'Mengapa harus aku yang ditelepon Tuan Dirga untuk datang kemari?' tangisnya dalam hati.


Setelah membukakan kunci ponsel untuk pria itu, Hendrik kembali mendekati Alana dan Agung lalu mereka berfoto ria.


Setelah mengelilingi seluruh patung yang ada di depan dunia fantasi, Mereka kemudian mengambil tiket eksklusif, Hendrik menoleh pada pengawal yang mengikuti mereka.


"Waktumu 5 menit untuk mendapatkan kamera!" Perintah Hendrik.


"Baik Tuan," jawab pria itu lalu dia segera berlari keluar dari tempat itu untuk mendapatkan kamera.


Sementara satu keluarga yang terdiri dari tiga orang kini berjalan masuk dengan Agung yang melompat-lompat kegirangan karena baru pertama kali pergi ke tempat itu.


Pandangannya langsung tertuju pada semua tempat, ia juga melihat banyaknya anak kecil yang bermain bersama orang tuanya.


"Haruskah kita makan lebih dulu?" Hendrik tiba-tiba bertanya saat ia melihat restoran cepat saji yang sedang dikerumuni orang-orang.


"Ya, kita butuh tenaga untuk berkeliling di sini." Ucap Alana lalu mereka berbalik ke sebuah restoran yang tidak terlalu ramai.


"Ayah,, makanan yang ku maksud itu.... Apakah aku bisa mencobanya sekarang?" Tanya Agung dengan mata berbinar-binar karena pria kecil itu sangat berharap.


"Ayah akan mencarikannya untukmu," jawab Hendrik langsung membuat Agung bersorak kegirangan.

__ADS_1


Mereka mencari tempat yang nyaman untuk duduk lalu Alana memilih menu untuk mereka.


Setelahnya, Hendrik pergi memesan menu itu, jadi Alana dan Agung sendirian di meja sambil bercakap-cakap.


"Ibu, Apakah besok, lusa dan seterusnya kita akan pergi berjalan-jalan seperti ini?" Tanya Agung yang begitu antusias menghabiskan waktu bersama ayah dan ibunya.


"Hm,, sepertinya begitu, mari kita tanyakan pada ayahmu saat ia kembali," ucap Alana mengulurkan tangannya mengacak rambut milik putranya.


"Baik!!" Ucap Agung begitu bersemangat sembari melihat ke arah Hendrik yang sedang berdiri menunggu pesanan makanan.


Keduanya sedang menatap Hendrik ketika sang pengawal yang tadi main foto mereka kini sudah datang menghampiri mereka sembari membawa sebuah kamera.


Agung langsung mengenali pria itu jadi Dia menepuk kursi di sampingnya, "Paman silakan duduk di sini." Ucap Agung sembari memandang pengawal yang tampak kelelahan.


Jelas saja sang pengawal tidak berani duduk di kursi itu, bisa-bisa gajinya akan dipotong 100% kalau dia bersikap lancang.


Jadi pengawal itu langsung berkata, "Saya akan berdiri saja di sini."


"Kenapa?" Tanya Agung yang merasa heran dengan pria itu.


Dia sendiri yang melihat pria itu bernafas tersengal bisa mengetahui bahwa pria itu sangat kelelahan tapi anehnya pria itu mengalami menolak untuk duduk.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, saya hanya tidak suka duduk." Jawab sang pengawal.


"Hm,, Kau itu orang yang aneh!" Ucap Agung.


__ADS_2