
"Lalu katakan alasannya!!!" Ucap Alana tidak mau percaya jika pria itu tidak mengatakan alasannya.
Mata perempuan itu melihat seluruh tubuh Hendrik untuk melihat di mana ada kejanggalan.
Hendrik "..."
Perempuan yang cemburu benar-benar sulit untuk dihadapi!!!
"Ayah dan ibu ada apa?" Agung tiba-tiba berlari ke arah mereka sambil melihat dua orang yang tampak bertengkar.
"Ini lho,, Ayah kamu baru saja kembali dari luar tapi tidak mau disentuh oleh ibu. Menurutmu apa yang sudah dilakukan Ayahmu di luar hingga dia tidak mau disentuh?" Tanya Alana pada putranya sembari menatap sinis pada Hendrik.
Agung memiringkan kepalanya menatap ayahnya lalu pria kecil itu menggerakkan bibirnya, "Apakah ayah habis bermain kotor-kotoran? Dari film anak-anak yang kulihat, orang yang habis bermain kotor-kotoran tidak membiarkan orang lain menyentuhnya," ucap Agung.
Alana mengangguk, "Benar sekali, entah kotoran dari mana yang dibawa ayahmu ke dalam rumah sampai dia tidak mau disentuh oleh ibu!!" Kata Alana menatap Hendrik dengan tatapan tajamnya.
"Memangnya bagian mana yang kotor?" Tanya Agung sembari memperhatikan Hendik.
Pria kecil itu menggembungkan pipinya ketika dia tidak mendapati sedikitpun noda pada pakaian ayahnya.
"Aku tidak melihat ada noda di tubuh ayah." Ucap Agung.
__ADS_1
Alana kembali mengangguk lalu membawa Agung ke gendongannya, "Tidak usah pedulikan ayahmu, kita bermain saja." Ucap Alana.
"Tapi ibu,, aku sudah bosan bermain, bolehkah kita membuka tirai dan melihat pemandangan di luar?" Tanya Agung menunjuk ke tirai yang terus tertutup sepanjang waktu.
Hendrik memperhatikan dua orang yang menjauh darinya lalu menghela nafas dan berjalan ke kamar mandi.
Beberapa menit di dalam kamar mandi Hendrik kemudian membuka sedikit pintu mengintip Alana dan Agung yang sibuk di depan TV.
"Sayang,,," katanya memanggil Alana.
Tetapi, perempuan itu berpura-pura tidak mendengar dan hanya fokus memainkan rubik di tangannya.
"Sayang?!! Aku tidak memiliki handuk di sini!" Ucap Hendrik dengan volume suara yang lebih besar dari sebelumnya.
'Uhh,, mungkin ini arti dari perang dingin yang kudengar dari TV. Di saat seperti ini,,, aku punya ide!!!' pikir Agung dalam hati lalu menatap ibunya.
"Bukan ke arah situ Bu. Ibu harus melakukannya seperti ini," Agung mulai mengajari Alana cara menyusun rubik agar warnanya bisa tersusun dengan rapi.
Alana tersenyum melihat kecerdikan Agung menyusun rubik itu. Sesaat Dia teringat kejadian ketika dia masih mahasiswa dan pergi ke kamar Hendrik.
Hendrik juga bisa menyelesaikan rubik dalam waktu yang cepat, 'Ternyata kepintaran Hendrik benar-benar menurun pada Putraku. Tapi pria itu..... Sial! Apakah dia benar-benar berselingkuh?!' pikirnya.
__ADS_1
Kurang dari 1 menit, semua warna pada rubik sudah tersusun dengan rapih jadi Agung mengembalikannya pada Alana.
"Terima kasih,, ibu akan menghancurkannya lagi lalu mencobanya dari awal." Ucap Alana diangguki oleh Agung.
Agung memperhatikan Alana sibuk pada rubiknya mengabaikan Hendrik yang terus berteriak-teriak jadi pria kecil itu bangkit berdiri menghampiri ayahnya.
"Putraku,, sepertinya ibumu benar-benar marah pada Ayah." Kata Hendrik dengan wajah sendunya menata putranya yang juga menatapnya.
"Apakah Ayah perlu bantuan?" tanya Agung.
"Ya, dapatkah kamu mengambilkan handuk untuk ayah?" Tanya Hendrik yang mulai kedinginan karena sudah beberapa menit dia duduk berdiri di situ.
"Tentu saja!! Tapi ada syaratnya," kata Agung melemparkan senyum terbaiknya pada ayahnya.
Hendrik menghela nafas, putranya benar-benar pandai memanfaatkan keadaan!!
"Apa syaratnya?" Tanya Hendrik.
"Izinkan aku membuka tirai dan melihat di jendela!!" Kata Agung sambil menunjuk tirai yang tertutup.
Hendrik tersenyum, "Ok," katanya.
__ADS_1
"Bagus!! Kalau begitu Tunggu di sini sebentar, aku akan mendapatkan handuk untuk ayah." Kata Agung berlari ke lantai 2 untuk menemukan handuk.
Hendrik memandangi kepergian putranya,, 'Untunglah hari ini Black sudah dibasmi jadi sudah aman untuk membuka jendela.' pikir Hendrik.