Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
²¹. Panggil aku Tuan Putri


__ADS_3

Setelah Lina keluar meninggalkan kamar, Alana memandangi Hendrik dengan rasa kasihan.


Tidak menyangka pria itu ternyata jatuh sakit sampai seperti ini. Dia merasa semakin bersimpati pada Hendrik.


Alana mendekati ranjang di mana Hendrik sedang berada lalu perempuan itu duduk di pinggir ranjang sembari memperhatikan Hendrik.


'Ternyata dia sangat tampan saat melepas kacamatanya, sayang sekali saat ini kondisinya tidak baik, kalau saja dia--' Alana menggelengkan kepalanya saat dia menyadari pikiran apa yang sedang merasukinya.


"Hei," kata Alana berusaha menarik perhatian Hendrik.


Sayangnya, Hendrik seperti orang yang yang ketinggalan jiwanya di suatu tempat. Pria itu tidak ada bergeming dan hanya menatap kosong ke arah jendela.


"Hei kacung!!" Tiba-tiba kesal Alana dengan suara aslinya, ia setengah berteriak pada Hendrik.


Dan akhirnya suara Alana langsung menarik perhatian Hendrik saat pria itu menatap Alana sembari mengerutkan keningnya.


"Ini aku, Tuan putrimu!" Kata Alana dengan suara judesnya sembari bertolak pinggang menatap Hendrik.


Hendrik semakin menyipitkan matanya, dia butuh beberapa detik untuk mencerna kata-kata Alana sebelum pria itu membuka mulutnya "Kau!"


Hendrik sangat terkejut sebab orang yang ada di depannya terlihat seperti pria tapi ternyata dia adalah... Alana!


"Kau?!" Alana menirukan Bagaimana Hendrix berkata.

__ADS_1


"Beraninya kau seorang kacung berbicara dengan nada seperti itu denganku!" Geram Alana akhirnya membuat Hendrik tersenyum.


Sebuah senyum yang mempesona membuat hati Alana berdesir karena terkejut.


'Sial..! Dia ternyata sangat tampan!!' Pikir Alana menahan debaran jantungnya yang tiba-tiba saja tak karuan.


"Tuan Putri, sebaiknya anda kembali, saat ini saya tidak bisa menjadi kacung tuan putri." Kata Hendrik dengan suara serak disertai perasaan aneh yang tak bisa ia jelaskan.


Ia merasa senang karena ternyata Alana sampai menyamar seperti itu demi menemuinya. Apakah perempuan itu khawatir?


"Aku sudah jauh-jauh kemari dan seorang kacung malah mengusirku pergi?! Berani sekali..!" Kesal Alana segera berdiri lalu dia segera mengamati kamar Hendrik.


"Aku tidak menyangka ternyata kau orang yang sangat kaya. Kalau dari dulu aku tahu kau adalah orang kaya aku akan memeras mu dengan gila-gilaan. Hah,,, sayang sekali sekarang kau sedang sakit kalau tidak aku tidak akan berbalas kasih padamu!" Kata Alana menyentuh sebuah pajangan yang terletak di atas meja.


Ada banyak buku di sana, ada banyak catatan dan,, siapa pun yang melihatnya pasti berpikir itu kamar seorang genius.


"Kalau tuan putri menyukai apapun di kamar ini Tuan Putri bisa membawanya pulang." Ucap Hendrik menghentikan gerakan tangan Alana.


'Aku ingin membawamu pergi!' pikir Alana dalam hati lalu dia menggelengkan kepalanya dengan keras.


'Apa yang kupikirkan?! Dasar sila..!" Alana berbalik menatap Hendrik dan dia semakin terkejut saat melihat pria pucat yang setengah berbaring di tempat tidur sedang memandanginya sembari tersenyum.


'Ada apa dengannya? Mengapa dia selalu tersenyum hari ini?' pikir Alana.

__ADS_1


"Kalau kau tidak pergi sekarang aku yakin ayahku akan segera sadar dengan penyamaran mu, mungkin dia akan--"


Tok tok tok... Tiba-tiba suara pintu yang diketuk menghentikan ucapan Hendrik.


"Masuk," ucap Hendrik lalu pintu terbuka memperlihatkan Lina berdiri di sana sembari memegang nampan berisi 2 minuman.


"Saya datang membawakan kalian minuman. Kalian pasti haus kan?" Bibi Lina segera masuk ke kamar dan meletakkan 2 minuman itu di atas meja.


"Terima kasih Bibi," ucap Hendrik.


"Sama-sama Aden." Lina merasa sangat senang, akhirnya Hendrik sudah membuka mulutnya, padahal beberapa hari penuh pria itu tidak pernah berbicara bahkan menyentuh bubur pun dia tidak mau.


'Aku harus memanfaatkan kesempatan ini.' pikir Lina lalu dia segera keluar dari kamar untuk menyiapkan makanan bagi kedua orang itu.


Hendrik kembali menatap Alana dan entah kenapa dalam hatinya dia merasa sangat senang karena perempuan itu datang menemuinya.


Kekosongan yang semula mengisi hatinya perlahan-lahan mulai hilang digantikan kesenangan.


"Minumlah lalu lekas pulang. Rumahku tidak sesederhana yang kau pikirkan." Ucap Hendrik.


"Kau,, kau memanggilku dengan kata kau lagi? Kau lupa apa statusmu?" Alana berbicara dengan kesal sembari berjalan ke arah meja dan meraih segelas minuman yang tadi dibawakan Lina.


"Maaf Tuan putri." Kata Hendrik sembari terkikik pelan.

__ADS_1


__ADS_2