
"Siapa yang sudah membuat ibu begitu? Aku tidak akan memaafkan nya!!!" Teriak Agung merasa sangat marah.
Baru saja Agung selesai berteriak ketika Bara kini mendekati Alana.
Pria itu berjalan perlahan mendekati Alana lalu duduk di pinggir kasur.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.
Alana yang sedari tadi fokus membersihkan tubuhnya kini mengangkat wajahnya dan melihat pria di depannya,pria yang membuatnya merasa nyaman.
"Hendrik?!" Perempuan itu langsung melompat ke arah Bara,, "Ini kau!!! Hiks hiks,,, pria itu!! Dia memperlakukanku dengan buruk!!! Aku merasa jijik!!!" Teriak Alana.
"Di sini sudah aman, aku di sini." Ucap Bara menepuk pelan punggung Alana.
"Sama sekali tidak aman, pria tua itu menyentuhku!! Bagaimana aku akan membersihkan tubuhku dari sentuhan yang menjijikkan itu!!" Teriak Alana sembari tangannya digesek-gesek karena merasa jijik pada kulitnya yang telah disentuh oleh Hans.
"Tenanglah,, kita akan pikirkan caranya,,," ucap Bara.
"Caranya??? Bagaimana caranya??? Aku ingin mati saja!!! Mati!!!" Alana menarik tubuhnya dari Bara lalu perempuan itu memukul dadanya dengan keras.
Alana histeris berteriak-teriak sampai Bara akhirnya menghentikan perempuan yang terus melukai dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tenanglah,, tenang,,," kata Bara mengunci tubuh Alana agar perempuan itu berhenti memukuli dirinya sendiri.
"Tidak!!! Aku sudah tidak pantas untuk hidup!!! Aku sudah ternodai!!! Hiks hiks!!!" Alana terus memukuli tubuhnya sendiri.
Melihat Alana yang tidak berhenti meronta, Bara kemudian mengulurkan tangannya menyapu wajah Alana dari atas sampai ke bawah lalu perempuan itu melemas di tempat tidur.
Bara menghela nafas lalu memperbaiki posisi tidur Alana, ia menyelimuti perempuan itu lalu berdiri memandangi Alana yang tertidur lelap.
"Ibu!!!" Suara Agung yang memasuki kamar disusul ayah dan kakeknya.
"Ibu,, hiks hiks,," Agung Langsung melompat ke tempat tidur memegangi tangan ibunya sembari menangis tersedu-sedu.
"Kubilang jangan menangis ketika ibumu sedang tertidur." Kata Bara membuat Agung langsung menahan isakannya sembari menggembungkan pipinya menatap Alana. .
"Bagaimana terapinya?" Langsung tanya Romi pada Bara dengan suara yang cemas.
"Kita akan mengetahuinya setelah dia siuman," jawab Bara.
"Berapa lama dia akan tertidur?" Tanya Hendrik.
"Sekitar 30 menit sampai satu jam," Jawab Bara lalu pria itu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar Hendrik, "Aku pergi dulu ke kamarku," katanya.
__ADS_1
Romi memperhatikan pria yang berjalan meninggalkan mereka lalu berbalik menatap Hendrik.
"Kau yakin pria itu bisa menyembuhkan putriku?" Romi merasa sangat cemas, sebab keadaan putrinya belum diketahui.
Bagaimana kalau nanti ketika Alana bangun lalu perempuan itu malah melupakan segalanya dan benar-benar bersikap seperti orang gila sungguhan.
"Tenanglah, aku yakin Alana akan sembuh," kata Hendrik meraih tangan Alana dan menggenggamnya dengan erat.
'Alana, kau harus sembuh demi aku dan demi Putra kita.' ucap Hendrik dalam hati sembari memandangi wajah Alana.
"Ibu pasti sembuh!! Pokoknya Ibu pasti akan sembuh!!" Ucap Agung berbaring di samping ibunya lalu memeluk perempuan itu dengan erat.
"Aku tidak sabar lagi ketika ibu kembali memelukku untuk yang kedua kalinya." Suara Agung terdengar lirih membuat dua pria dewasa yang melihat pria kecil itu merasakan sakit untuk pria kecil itu.
'Kalau sampai putriku bangun dan ternyata keadaannya makin parah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana Agung akan melewati hari-harinya.' Romi menahan air matanya yang terasa panas menggenang di pelupuk matanya.
Pria itu berjalan meninggalkan kamar Hendrik sebab dia tidak mampu melihat pemandangan memilukan di depannya.
Hendrik tidak mengatakan apapun pada Romi, tetapi dia tahu kalau pria itu memiliki pikiran yang sama dengannya.
"Agung,, Jangan sedih, ibumu pasti sembuh," ucap Hendrik mengulurkan tangannya menepuk pelan kepala Agung.
__ADS_1
"Hm!! Ibu pasti sembuh,," ucap agung mempererat pelukannya.