Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁶⁴


__ADS_3

"Untunglah saat ledakan terjadi Hendrik yang merupakan putra satu-satunya dari keluarga Gonedra tidak berada di villanya." Ucap pembawa berita.


"Astaga,, Bagaimana bisa ada orang yang itu? Mengapa dia mengebom rumah Kita?" Alana menggelengkan kepalanya melihat berita yang ditampilkan pada ponsel milik Hendrik.


Hendrik menghela nafas menatap Agung yang sedang bermain air di pinggir pantai, "Dia orang yang tidak waras," katanya.


"Ya,, dia memang orang yang kejam." Kata Alana menyandarkan kepalanya di bahu Hendrik mengingat kembali kejadian mengerikan yang ia alami 5 tahun yang lalu.


"Apa kau sedang memikirkan kejadian 5 tahun yang lalu?" Tanya Hendrik sembari menatap wajah Alana yang tampak pucat.


"Hm,, itu kejadian yang mengerikan, Aku berharap aku bisa melupakannya dari ingatanku." Ucap Alana memejamkan matanya.


"Aku di sini," ucap Hendrik memeluk Alana dengan erat.


"Terima kasih," kata Alana merasa lebih baik.


"Ayah Ibu!! Aku mendapat sesuatu di sini!!" Tiba-tiba teriak Agung dari pinggir pantai membuat dua orang yang sedang berpelukan langsung menoleh ke arah putra mereka.

__ADS_1


Pria kecil itu berlari ke arah mereka sembari membawa sebuah kerang yang ia dapatkan dari pinggir laut.


"Ibu, coba lihat ini,, batu ini terpahat dengan sangat indah!! Ada banyak di sana!!" Kata Agung meletakkan kerang di tangan Alana sembari menunjuk ke pinggir pantai.


"Ini bukan batu, ini adalah kerang," ucap Alana memperhatikan kerang berwarna putih keemasan di tangannya.


"Kerang? Apa itu Bu?" Tanya Agung memperhatikan benda kecil yang ia temukan.


"Ya,, ini namanya kerang laut, di dalam cangkang ini terdapat makhluk hidup yang bersembunyi." Ucap Alana.


"Kita tidak bisa mengeluarkannya, dia akan terluka kalau kita mengeluarkan." Ucap Alana.


"Kenapa?" Tanya Agung tak mengerti.


"Karena ini rumahnya, dia hewan yang pemalu dan menggunakan cangkang ini untuk melindungi dirinya dari hewan yang akan memangsanya." Ucap Alana.


Aku mengangguk ngangguk, "Kalau begitu aku akan mengembalikannya ke laut, dia pasti sangat sedih jika aku memisahkannya tempatnya," kata Agung mengambil kembali kerang dari tangan ibunya lalu membawanya ke pinggir pantai.

__ADS_1


"Anak kita sangat cerdas, tetapi dia belum mengetahui banyak hal di dunia ini." Ucap Hendrik merasa sedih pada putranya.


Alana mendesah, "Ya,, semua ini salah aku, seandainya dulu aku tid--"


"Ssttt!!!" Hendrik menghentikan ucapan Alana dengan menaruh jari telunjuknya di bibir perempuan itu, "Ini bukan salahmu, semuanya adalah salahku karena saat itu aku tidak bisa menjagamu,," ucap Henrik menyesal.


Alana menatap Hendrik dengan perasaan berkecamuk, "Kalau begitu, Aku harap kedepannya kita lebih bisa lebih membahagiakan Agung." Katanya.


"Pasti," ucap Hendrik kembali menarik Alana agar perempuan itu bersandar di dadanya.


Kedua orang itu menikmati perasaan tenang mereka duduk di atas pasir putih menikmati angin pantai yang bertiup lembut.


"Ayah! Ibu! Aku kembali menemukan sesuatu yang menakjubkan!!!" Tiba-tiba teriak Agung sembari berlari ke arah mereka membawa bintang laut yang ia dapat di pinggir pantai.


Alana dan Hendrik tersenyum kearah pria kecil itu lalu mereka kembali menjelaskan apa yang baru saja ditemukan oleh Putra mereka.


Seharian mereka menghabiskan waktu di pantai sampai akhirnya perut mereka mulai mendemo untuk mencari makanan lalu Hendrik membawa mereka meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2