Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁰⁷. Sakit Hendrik semakin parah


__ADS_3

Agung berlari ke lantai bawah lalu ke arah taman menuju pagar yang membatasi Villa Hendrik dengan Villa milik Romi.


Ketika dia tiba di sana, Agung mendapati pintu darurat yang dibuat Hendrik kini digembok dengan sempurna.


"Kenapa di gembok??" Ucap Agung memegangi gembok besar yang tergantung di pagar.


"Hei...!!! Tolong!!! Buka pintunya!!!" Agung berteriak arah Villa Hendrik.


Namun, setelah lama berteriak tidak ada satupun orang yang menjawabnya, Villa Itu tampak kosong seperti tidak ada penghuninya.


Dengan begitu, Agung menjadi semakin panik saat pria kecil itu berlari kembali ke Villa.


"Kakek!!!" Teriak Agung memasuki Villa dan menaiki lantai 2.


"Kakek!!! Kakek!!!!!" Agung terus berteriak-teriak dengan suara kencangnya hingga Dia tiba di kamar Romi.


Srassshhhh......


Terdengar suara shower dari kamar mandi membuat Agung langsung menggedor pintu kamar mandi Kakeknya.


"Kakek!!!" Teriaknya.

__ADS_1


"Ada apa? Kakek sedang mandi," jawab Romi dari kamar mandi.


"Pintu menuju villa pria itu sudah digembok!!! Siapa yang menggemboknya???!!" Teriak Agung dengan suara marah.


"Kakek tidak tahu," jawab Romi dari balik pintu membuat Agung menghembuskan nafas kasar dan menggembungkan pipinya.


"Hah,, apakah pria itu yang melakukannya? Dia tidak mau lagi bertemu aku dan ibu?" Agung merasa matanya menjadi panas dan siap meluncurkan air matanya.


"Dia benar-benar pergi,,," lirih Agung berjalan keluar dari kamar Romi dengan wajah tertunduk untuk kembali ke kamarnya.


Tepat ketika Agung meraih handle pintu kamarnya, sebuah pintu kamar lain terbuka memperlihatkan Alana yang keluar dari kamarnya.


"Hei kau,," kata Alana pada Agung membuat Agung langsung mengangkat wajahnya yang terlihat sendu.


"Ada apa? Kau kenapa?" Tanya Alana merasa heran.


Pria kecil menyebalkan itu ternyata bisa juga bersedih.


"Ibu,, pria itu menghilang,," ucap Agung dengan wajah yang semakin tampak memburuk dari waktu ke waktu.


"Ayahmu hilang?" Tanya Alana merasa heran.

__ADS_1


"Ya, aku sudah pergi mengecek villanya dan villanya telah kosong. Pagar ke Villa nya juga telah dikunci, apakah kemarin malam dia memberitahu Ibu ke mana dia akan pergi?" Dengan suara yang mengandung kesedihan dan kehilangan Agung bertanya dengan wajah memelas nya berharap Alana bisa memberinya jawaban yang ia harapkan.


Awalnya Alana berpikir dia akan merasa sangat senang jika Hendrik meninggalkan rumahnya tetapi sekarang entah bagaimana dia sama sekali tidak senang dengan berita yang ia dengarkan.


"Uh,, aku juga tidak tahu. Padahal kemarin dia masih menyuruhku untuk meniup telinga nya di pagi hari. Mungkinkah telinganya tambah sakit dan perlu berobat ke dokter?" Alana langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya sebab dia terlalu takut kalau pria itu sampai kenapa-napa hingga dia harus bertanggung jawab.


"Apa kata ibu?? Sakit??" Agung bertanya sembari melototkan matanya sebab rasa takutnya.


"Ya,, sepertinya begitu," jawab Alana dengan suara lemasnya sembari berbalik untuk kembali ke kamarnya.


"Tunggu Bu!!" Kata Agung ketika Alana hendak memasuki kamarnya.


"Apa lagi?" Tanya Alana.


"Ayo kita pergi ke rumah sakit menyusulnya, ya..?!!" Bujuk Agung dengan mata besar dan wajah yang memelas menatap Alana.


"Pergi keluar Villa? Hah,, aku tidak mau!!" Ucap Alana dengan kesal membuka pintunya lalu perempuan itu memasuki kamar dan membanting pintu dengan keras.


"Ibu..!!! Apakah ibu tidak khawatir kalau terjadi sesuatu padanya? Bagaimana kalau sakitnya parah??" Agung berdiri di pintu kamar Alana sembari membujuk perempuan itu, namun hasilnya tetap nihil.


Alana tidak mengatakan apa pun padanya.

__ADS_1


Hal itu membuat Agung menjadi semakin khawatir pada Hendrik, takut kalau pria itu sampai kenapa-napa.


__ADS_2