
Ruang privat klub bela diri ibukota.
Buk... buk... buk...
Dua orang pria sedang berada dalam pertarungan sengit yang mengandalkan kekuatan tubuh.
Buk.. buk..buk...
Dengan seluruh tenaga yang ia miliki Hendrik melayangkan pukulan ke arah pelatihnya berusaha mengenai target namun selalu meleset.
"Fokus...!! Pikirkan targetmu!" Sang pelatih yang menemani Hendrik berlatih berteriak dengan suara keras untuk menyemangati Hendrik.
Keringat dari keduanya bercucuran di kening dan ke seluruh tubuh mereka hingga pakaian mereka telah terendam oleh keringat mereka sendiri.
"Hah hah hah..." Hendrik tidak berhenti dan terus memukul sang pelatih sekaligus menghindari beberapa pukulan dari sang pelatih.
"Ok cukup!!" Tiba-tiba kata Sang pelatih ketika ia sudah kelelahan.
__ADS_1
"Saya masih bisa." Kata Hendrik tanpa menghentikan serangannya pada sang pelatih membuat pelatih itu menggelengkan kepalanya dan dengan satu gerakan membanting Hendrik.
Buk!! Suara tubuh Hendrik yang terjatuh ke lantai.
"Istirahat 10 menit." Ucap pelatih itu berjalan ke arah kursi dan menyekah keringatnya dengan handuk kecil yang sudah disiapkan.
Sementara Hendrik, pria itu berbaring terlentang di lantai sambil menatap langit-langit.
Wajah Alana yang sedang tersenyum pada Arga membuatnya menjadi marah lalu pria itu berdiri mendekati samsak tinju dan meninjunya bekali-kali.
Sang pelatih yang melihat kejadian itu hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Hendrik.
Cukup lama pelatih itu memperhatikan Hendrik yang terus memukuli samsak hingga pria itu kelelahan dan berbaring di lantai.
Sang pelatih tersenyum lalu mendekati Hendrik dan menatap pria itu.
"Anak muda, kau ini kalau ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin bukan dengan cara menyiksa diri sendiri seperti ini. Mentang-mentang tubuhmu masih kuat,,, kau pikir kau tidak akan menua dan melemah? Menyia-mnyiakan masa muda untuk memikirkan balas dendam! Di masa tua nanti kau akan menyesal!" Ucap Pelatih itu sembari menggelengkan kepalanya melihat Hendrik yang bernafas tersengal.
__ADS_1
"Pelatih, Aku tidak akan menyesal dengan pilihanku hari ini. Aku hanya menjalani hidup ini sekali, jadi kalau aku tidak melakukannya maka tidak ada lagi kesempatan kedua." Ucap Hendrik kembali membuat pelatihnya berdecak lalu pria tua itu meninggalkan Hendrik.
"Baiklah, kalian anak muda memang sangat keras kepala. Latihan hari ini cukup sampai di sini besok kita berlatih sampai malam." Ucap pria itu diabaikan oleh Hendrik.
"Keras kepala.... Ya aku memang keras kepala, tapi aku melakukannya untuk melindungi diriku snwdiri. Lihat saja Pak Tua, setelah ini aku akan membuatmu melihat satu-satunya pewaris bisnismu berakhir dalam penjara!" Ucap Hendrik segera berdiri dan kembali memukul samsak di depannya.
"Kita lihat bagaimana kau menyelamatkan pewaris mu ketika divonis hukuman mati!!" Geram Hendrik terus memukul samsak.
Dia sudah memutuskan, dia akan membuat ayahnya terkena serangan jantung saat mengetahui putranya di vonis hukuman mati!!
Pelatih yang belum meninggalkan ruangan dan masih berdiri di ambang pintu melihat Hendrik langsung membeku di tempatnya.
'Apakah dia berlatih untuk melakukan kejahatan?' Pelatih itu segera meninggalkan ruang latihan dan berjalan dengan tubuh yang lemah.
'Apa yang harus kulakukan?' sang pelatih jelas tidak mau ilmu yang ia berikan pada Hendrik dipergunakan sia-sia.
Kalau sampai pria itu membunuh maka secara tidak langsung dia sudah ikut membantu kejahatannya, sebab dia yang melatih Hendrik hingga ahli bela diri.
__ADS_1