
Setelah selesai berbelanja, Hendrik membawa Agung kembali ke rumah sakit, pria kecil itu terus memegangi uang bernilai rp1.000 yang ia dapat dari sang pramuniaga.
Begitu tiba di kamar, Agung berlari sembari melambaikan uang kertas di tangannya.
"Kakek! Ibu!! Coba lihat ini!!" Aku masih memanjat ke tempat tidur lalu memperlihatkan uang seribu di tangannya.
"Ada apa dengan uang itu?" Tanya Romi.
"Ini adalah uang pertama yang ku pegang!! Kata ayah ini sangat bernilai tapi tidak lebih bernilai dari diriku. Aku akan menyimpan ini seumur hidupku!!" Ucap Agung membuat Alana dan Romi tercengang.
Karena sedari lahir pria kecil itu tidak pernah keluar dari villa dan terus terkurung di sana maka Ada banyak hal yang tidak diketahui oleh Agung.
Anak kecil itu bahkan tidak pernah diberikan uang jadi Agung tidak tahu bagaimana rupa uang yang sebenarnya.
"Sayang,," Alana langsung memeluk Agung dengan erat.
Dia merasa sangat bersalah pada pria kecil itu, karena dia jatuh sakit, anaknya yang pandai itu serasa seperti orang yang diasingkan.
"Ibu,, aku sesak!!" Aku mengeluh ketika ia merasakan pelukan ibunya terlalu kuat.
"Ah Maaf," Alana langsung melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
Agung sangat terkejut saat melihat ada air mata yang menggenang di pipi perempuan itu, Ia hendak mengelap nya ketika Alana berbalik meninggalka nya.
Perempuan itu berlari ke dapur di mana Hendrik sedang mencuci buah yang dibawahnya.
"Ibu!!" Agung hendak mengejar ibunya ketika Romi menahan tangannya.
"Ibumu baru saja meniup debu di sini jadi dia sedang kelilipan. Ibumu akan malu kalau kau melihatnya menangis hanya karena matanya kemasukan debu." Ucap Romi.
"Begitu ya," Agung mengangguk-ngangguk, Tentu saja dia tidak mau membuat ibunya merasa malu padanya, jadi pria kecil itu tidak lagi berniat mengejar ibunya.
Sementara Alana yang berlari ke dapur, perempuan itu langsung menghampiri Hendrik dan memeluk pria itu dari belakang sembari terisak kecil.
Hendrik yang mencuci buah langsung menghentikan gerakannya dan mengelap tangannya.
"Aku merasa kasihan untuk putra kita." Ucap Alana menyeka air matanya.
Hendrik menghela nafas, lalu menahan dagu Alana agar perempuan itu menangkapnya.
"Bukankah sudah kubilang kalau menyesal tidak ada gunanya? Yang menjadi tugas kita sekarang adalah mengembalikan apa yang tidak didapatkan Agung selama 4 tahun. Kalau kau menyalakan diri seperti ini maka masalah tidak akan terselesaikan." Ucap Hendrik..
Alana mengangguk, "Aku mengerti, tapi Aku merasa sangat sulit untuk menahan diriku sendiri." Kata Alana sembari mempererat pelukannya pada Hendrik dan menyembunyikan wajahnya di dada pria itu.
__ADS_1
Kegagalannya sebagai orang tua sangat menghantuinya, ia merasa sangat rapuh untuk menghadapi putranya sendiri.
"Sudah,, Agung pasti mengerti, dia putra kita yang pengertian, " kata Hendrik menepuk-nepuk punggung Alana.
"Ayah! Ibu!! Di mana buah anggurnya? Kakek dan aku sudah tidak sabar untuk mencicipinya?!" Suara Agung dari kamar lansung mengejutkan mereka.
"Tunggu sebentar, Ayah akan segera membawanya ke situ." Jawab Hendrik.
Dengan begitu, Alana melepas pelukannya pada Hendrik lalu menyekah hidungnya dengan tisu.
"Jangan menangis lagi,, kau terlihat sangat jelek kalau habis menangis." Kata Hendrik menepuk-nepuk kepala Alana.
"Tidak ada yang jelek!" Gerutu Alana melemparkan tisu bekasnya ke tempat sampah lalu perempuan itu membantu Hendrik mencuci buah.
Hendrik memperhatikan cara Alana mencuci buah, pria itu menggelengkan kepalanya lalu mengulurkan tangannya menutup tangan Alana.
"Cara mencuci buah pun salah, harusnya kau melakukannya seperti ini," kata Hendrik mengajari perempuan itu sembari mengambil kesempatan menyentuh tangan Alana.
Alana tidak melakukan proses, perempuan itu hanya tersenyum menikmati kebersamaan mereka yang sangat intim satu sama lain.
Meski beberapa waktu terakhir mereka sudah sangat sering berduaan seperti ini, tetapi setiap kali bersama Hendri, Alana masih terus merasakan jantungnya berdegup.
__ADS_1
'Lama-lama bersama Hendrik aku pikir jantungku akan cepat rusak karena terus dibuat deg-degan oleh Hendrik.' pikir Alana tersenyum lebar