
Lama berbincang-bincang dengan Romi, akhirnya 2 pria itu naik ke lantai dua, Hendrik memegang handle pintu kamar Agung dan mendapati pintu tersebut dikunci dari dalam.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil kunci serep nya." Ucap Romi meninggalkan Hendrik.
Beberapa saat Hendrik terdiam memandangi pintu kamar putranya, lalu ia menoleh pada pintu kamar Alana.
'Alana,,,' ucapnya dam hati.
Baru saja dia selesai berkata dalam hati ketika handle pintu kamar Alana tiba-tiba terputar lalu pintu tersebut terbuka.
Deg!
Jantung Hendrik berpacu kencang dan semakin ingin meledak saat seorang perempuan keluar dari kamar lalu berdiri menatap Hendrik.
Tatapan mereka bertemu.
"Halo," kata Hendrik setelah beberapa detik melihat Alana.
Alana terlihat ketakutan, perempuan itu langsung menoleh ke seluruh koridor lalu kembali masuk ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Melihat itu, Hendrik langsung berjalan ke depan pintu kamar Alana lalu menempelkan telinganya pada daun pintu.
"Maaf, tadinya saya ingin pulang, tetapi Putra Saya masih di sini jadi saya akan menginap di sini malam ini." Ucap Hendrik tanpa ada jawab dari dalam.
"Percayalah, saya bukan orang jahat," kata Hendrik tanpa ada jawaban.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar, Alana menjaga jarak 2 meter dari pintu sembari mendengarkan satu per satu kalimat yang diucapkan seorang pria dari balik pintu nya.
'Mengapa dia belum pergi?? Apakah dia benar-benar akan menginap?' pikirnya ketakutan sembari *******-***** jari tangannya.
"Baiklah, selamat tidur, jangan lupa bermimpi indah." Tiba-tiba suara Hendrik kembali terdengar dari luar lalu diikuti suara langkah kaki yang berjalan meninggalkan depan pintu kamar Alana.
Segera, Alana merasa lega lalu perempuan itu berlari ke tempat tidurnya membungkus diri dengan selimut.
'Selamat tidur, jangan lupa bermimpi indah.' tiba-tiba suara Hendrik terngiang-ngiang di pikiran Alana membuat perempuan itu menarik erat-erat selimutnya.
'Ini pertama kalinya aku diberikan ucapan selamat malam dari orang asing.' pikir Alana meringkuk di balik selimutnya, ia berusaha menenangkan debaran jantungnya dan desiran hatinya yang tak karuan.
Entah itu perasaan takut, gugup atau apapun itu, Alana merasa tidak tenang hingga dia kesulitan untuk tidur.
Sedangkan di luar kamar, Hendrik yang menunggu beberapa menit akhirnya dihampiri oleh Romi yang menyerahkan kunci serep kamar Agung.
Hendrik langsung membuka pintu kamar Agung lalu pria itu memasuki kamar tanpa mengunci pintu kamar.
Dia berjaga-jaga kalau terjadi sesuatu di luar jadi dia bisa langsung membuka pintu.
Setelah menutup pintu kamar ia melihat seorang pria kecil duduk di atas ranjang sembari menatapnya.
"Kau belum tidur?" Kata Hendrik berjalan ke arah ranjang diikuti Agung yang semakin meringkuk ke sudut ranjang menjauhi Hendrik.
"Ayah tidak akan membawamu pergi dari sini, mana mungkin Ayah memisahkan Putra Ayah dengan ibunya?" Ucap Hendrik mengangkat alisnya menatap putranya yang terlihat marah.
__ADS_1
Putranya tidak merespon.
"Ayo tidur,, setelah malam ini kita mungkin jarang bertemu." Ucap Hendrik naik ke tempat tidur membaringkan tubuhnya di balik selimut.
Sementara Agung yang melihat Hendrik, pria kecil itu memikirkan ucapan ayahnya. .
'Setelah malam ini kita mungkin jarang bertemu.'
Agung menggembungkan pipinya memikirkan ucapan Hendrik 'Apa maksudnya? Apakah dia akan meninggalkan kami lagi?'
"Kau mau pergi kemana?" Tanya kemudian.
Hendrik mendengar pertanyaan putranya lalu pria itu berbalik memandang putranya yang masih duduk menatapnya.
"Ayah ada urusan pekerjaan jadi beberapa hari ini ayah tidak akan ada disini. Selama beberapa hari kau tidak boleh pergi ke villa ayah, mengerti?!" Ucap Hendrik.
Agung terdiam beberapa detik lalu berkata "Huh!! Siapa juga yang mau pergi ke sana?" Katanya lalu ikut berbaring di samping ayahnya sembari menarik selimut.
Hendrik memandangi punggung putranya yang terlihat kesepian.
'Anakku yang malang,' pikirnya lalu memejamkan matanya.
Ini pertama kalinya Hendrik tidur bersama putranya jadi entah kenapa dia tidur dengan lelap, tetapi pria kecil yang ada di samping Hendrik, pria itu tidak bisa tertidur.
Dia terus gelisah memikirkan ucapan Hendrik yang tidak bisa bertemu dengan mereka selama beberapa hari.
__ADS_1
Meski pria itu mengatakannya sebagai urusan pekerjaan, tetapi pekerjaan apa yang membuat seseorang meninggalkan rumah begitu lama?
'Kakek juga bekerja setiap hari, tapi dia tidak pernah meninggalkan rumah lebih dari 1 hari.' pikir Agung..