Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁹⁶. Memikirkan kembali keputusannya


__ADS_3

Setelah selesai memasak, Hendrik kemudian menata masakannya diatas meja lalu duduk untuk makan bersama putranya karena saat ini dia juga sudah sangat lapar karena seharian mengurusi banyak pekerjaan di kantor.


"Kau mau makan?" Tanya Agung menatap Hendrik yang kini duduk di depannya.


Tatapannya dipenuhi peringatan.


Apakah pria itu memilih makan lebih dulu, bukannya pergi mengantar buburnya??


"Hm, kenapa?" Tanya Hendrik yang merasa aneh dengan pertanyaan putranya.


"Tidak! Pergilah dulu antarkan bubur ibuku! Kau harus memberikannya secara langsung pada ibuku!" Tegas Agung membuat Hendrik terpaku beberapa detik.


Mengapa putranya menyuruhnya langsung memberikannya pada Alana?


Bukankah pria itu tadi mengatakan kalau Alana sakit karena melihat fotonya?


Tapi ya sudahlah, Alana juga mungkin ingin makan bubur.


"Baiklah," jawab Hendrik mengambil bubur yang telah ia kemas lalu pria itu berjalan meninggalkan Agung.

__ADS_1


Setelah tiba di Villa, Hendrik melangkah naik ke lantai dua dan berhenti di depan kamar Alana.


Tok tok tok...


Ia mengetuk pintu lalu meletakkan bubur yang ia bawa di depan pintu kemudian sembunyi di balik dinding.


Orang yang berada di dalam kamar sedang memandang makanan yang sedari tadi disiapkan Romi untuknya.


"Ayo makanlah sedikit," Romi kembali membujuk putrinya, sejak tadi Alana baru memakan satu sendok, padahal mereka sudah 1 jam di sana.


"Seseorang mengetuk pintu," tiba-tiba kata Alana sembari menatap ke arah pintu "Mungkinkah itu Ayah Agung yang kembali untuk menyiksa kita?" Ucapnya dengan panik.


"Tadi kan Ayah sudah pergi mengunci pintu, jadi tidak ada yang bisa masuk selain pelayan. Tunggulah sebentar di sini, Ayah akan melihatnya, mungkin itu kepala pelayan." Ucap Romi membohongi putrinya, mana mungkin dia mengunci pintu? Bagaimana kalau Agung kembali dari villa milik Hendrik dan malah terjebak di luar?


"Siapa yang datang?" Tanya Alana saat Romi sedang membuka pintu tetapi Alana tidak melihat seorangpun di depan pintu.


Sementara Roni, dia melihat paperbag yang diletakkan di depan pintu pria itu mengambil paperbag nya dan melihat isinya adalah bubur.


Pria itu langsung mengerti, pastilah makanan dari Hendrik lagi.

__ADS_1


"Apa itu?" Tanya Alana saat Romi kembali ke depannya sembari membawa paperbag di tangannya.


"Ini adalah Bubur, tadi ayah menyuruh pelayan untuk membuatkannya untukmu." Ucap Romi mengambil bubur dari paper bag itu lalu membukanya di depan Alana.


Wangi bubur yang membangkitkan selera makan langsung menyeruak tercium oleh hidung Alana.


"Makanlah," kata Romi meletakkan bubur itu di depan Alana saat melihat putrinya begitu bersemangat melihat bubur di depannya.


Alana mengambil sendok lalu menyendok bubur itu dan memasukkannya ke mulutnya.


"Hmm,, ini enak," ucap Alana lalu makan dengan lahap.


Romi memperhatikan putrinya yang terus menyendok bubur itu ke dalam mulutnya 'Sepetinya Hendrik memang kunci dari kesembuhan Alana, Alana memiliki perkembangan yang sangat pesat sejak kedatangan pria itu. Mungkinkah Alana juga menyukai masakan Hendrik karena Alana sebenarnya merindukan kehadiran pria itu?'


Romi kembali berpikir tentang keputusan yang harus diambil. Apakah dendam masa lalu masih lebih penting dari pada kebahagiaan putrinya?


Sepertinya tidak.


'Putriku dan cucuku sama-sama menyukai Hendrik, pria itu juga tampak tulus pada mereka,' pikir Romi kembali ingat bagaimana awal pertemuannya dengan Hendrik di 5 tahun yang lalu dan bagaimana pria itu memang sangat setia pada Alana.

__ADS_1


Selama 5 tahun berada di luar negeri Romi telah memperhatikan Hendrik dan pria itu tidak pernah memiliki skandal dengan perempuan mana pun.


Saat kembali pun Hendrik tidak menolak Alana meski sudah mengetahui bahwa Alana menderita penyakit gangguan kejiwaan, pria itu malah berusaha menyembuhkan Alana.


__ADS_2