Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁹⁵. Buatlah makanan untuk ibuku


__ADS_3

Hendrik melangkah cepat ke arah Villa Romi dan terburu-buru memasuki villa yang mana pintu villa itu sama sekali tidak terkunci.


Masuk di lantai bawah, pria itu dengan wajah paniknya melirik seluruh ruangan sebelum naik ke lantai dua dan terkejut melihat Agung sedang terduduk di depan pintu kamar ala nah.


Pria kecil itu duduk sembari memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di atas lututnya.


"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Tanya Hendrik mendekati Agung membuat Agung langsung mengangkat wajahnya.


Mata Agung terlihat bengkak menandakan pria kecil itu baru saja menangis dalam waktu yang lama.


"Katakan," ucap Hendrik memegang bahu Agung saat pria kecil di depannya hanya menatapnya tanpa ada niat untuk merespon pertanyaannya.


Beberapa detik kemudian Agung menghela nafas dengan kasar lalu air matanya kembali berderai.


"Ibu sakit lagi, dan semua itu karena aku!' ucapnya kembali menangis meski pria itu tidak mengeluarkan suara Isak seolah Dia menjaga agar seseorang di dekatanya tidak mendengar suara tangisnya.


"Kemarilah," kata Hendrik mengangkat pria kecil itu ke gendongannya lalu berdiri menatap pintu kamar Alana.


"Apa ibumu ada di dalam?" Tanya Hendrik.


"Mm, ada kakek juga," jawab Agung sembari menganggukkan kepalanya dengan tangan pria kecil itu menghapus air mata di pipinya.

__ADS_1


Meski dia merasa bersalah, dia tidak boleh terlihat terlalu lemah di depan Hendrik.


"Lalu kenapa tadi kau tidak menjawab ayah saat Ayah menelpon?" Tanya Hendrik memperhatikan wajah Agung.


"Menelpon? Ponsel itu ada pada Ibu." Ucap Agung mengagetkan Hendrik.


Kalau begitu,,, didalam kamar, mungkinkah Alana kembali drop?


Jantung Hendrik yang sedari tadi terpacu kuat semakin berdetak tak karuan sembari memandangi pintu kamar Alana.


Apa yang harus mereka lakukan?


"Kakek masuk membawa makanan, katanya Ibu mau makan." Kembali kata Agung saat melihat kepanikan di wajah Hendrik.


Agung menggelengkan kepalanya, sedari siang setelah dia bersarapan dengan Alana, dia belum menyentuh makanan sedikitpun.


Dia hanya menangis di depan pintu kamar Alana setelah dia menjadi penyebab penyakit ibunya kembali kambuh.


"Baiklah, ayo kita pergi memasak makanan." Ucap Hendrik berjalan menggendong Putra nya ke lantai bawah.


"Tapi ibuku,," Agung kembali menoleh ke belakang, dia tidak tega meninggalkan pintu kamar ibunya sebab dia ingin memastikan Ibunya tetap baik-baik saja.

__ADS_1


"Jangan khawatir, kakekmu sudah ada di sana dia tidak akan membiarkan ibumu terluka." Ucap Hendrik terus melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan Agung yang terus menoleh ke belakang.


Hendrik membawa Agung kembali ke villanya.


Saat mereka melewati taman samping Villa, Agung yang digendong oleh Hendrik menoleh ke belakang tepat ke arah jendela kamar ibunya.


"Ibu,," ucapnya saat melihat Alana yang mengintip dari jendela bersama dengan Romi.


"Tidak perlu cemas,, ibumu baik-baik saja." Ucap Hendrik.


Agung tidak menjawab ucapan Hendrik, dia hanya terpaku melihat ibunya yang kini menutup tirai.


'Ternyata ibu sudah tidak pingsan lagi, apalagi sekarang ibu melihatku dengan pria ini, tetapi dia tidak sakit kepala lagi. Ini kemajuan yang besar!!!' Agung bersorak dalam hati.


Setelahnya, Agung berbalik dengan wajah yang sudah tampak lebih cerah meski mata pria kecil itu masih tampak pucat.


Hal itu tidak luput dari perhatian Hendrik, tapi dia tidak mengatakan apapun dan hanya terus berjalan hingga mereka tiba di dapur miliknya.


"Kau buatlah juga makanan untuk ibuku," kata Agung saat ia sudah duduk di sebuah kursi dan Hendrik terlihat sibuk menggeledah isi kulkas.


"Baiklah, ayah akan membuat bubur untuk Ibumu." Ucap Hendrik.

__ADS_1



__ADS_2