
Setelah mendesak dan mengancam Victor beserta teman-temannya, Hendrik akhirnya mendapat informasi bahwa Alana sedang dirawat di rumah sakit.
Meski begitu, Hendrik tidak mendapat informasi apapun mengenai penyakit Alana hingga perempuan itu masuk rumah sakit.
Tanpa berpikir panjang lagi, Hendrik langsung mengendarai mobilnya meninggalkan kampus dan mengebut ke rumah sakit yang dikatakan oleh Victor.
Tiba di sana, Hendrik menanyakan kamar Alana pada bagian resepsionis rumah sakit, tetapi keberadaan Alana dirahasiakan oleh Romi hingga Hendrik tidak mendapat informasi apapun.
"Sial...! Bagaimana Victor bisa tahu kalau Alana dirawat di sini sementara ayahnya pasti sudah menyembunyikan informasinya?!" Hendrik segera kembali ke mobil dan mengambil laptopnya.
Setelah beberapa menit dia berhasil mereka sistem keamanan rumah sakit, namun ternyata Alana tidak terdaftar di rumah sakit itu.
"Sialll!!!" Pria itu menggeram dengan keras lalu dia berpindah meretas sistem keamanan kampus dan menemukan nomor ponsel milik Victor.
Setelah mendapatkan nomor ponsel Victor, Hendrik kemudian menghubungi Victor.
"Halo?! Siapa ini?!!" Terdengar suara seorang pria yang sangat kasar dari seberang telepon.
__ADS_1
"Kau bilang Alana ada di rumah sakit pusat ibukota, Aku sudah di sini dan tidak menemukan siapapun! Mau coba mempermainkan ku?!" Langsung kata Hendrik mengagetkan pria di seberang telepon.
"Dari mana dia mendapat nomorku?!!" Terdengar Victor menggerutu dengan kesal.
"Diam..!!! Katakan saja di mana Alana atau hari ini juga kau akan berakhir di penjara!!!" Ancam Hendrik yang sudah mulai hilang sabar berbicara dengan Victor.
"Baiklah baik,, dia memang dirawat di sana, tapi ruangannya dirahasiakan, aku hanya tahu dia dirawat di lantai 23 kamar VIP." Jawab Victor dari seberang telepon lalu Hendrik segera mematikan panggilan itu dan keluar dari mobilnya.
Hendrik naik ke lantai 23 dan melihat ada banyak pengawal yang ditempatkan di sana.
Baru saja Hendrik keluar dari lift dan dua pengawal langsung menghampirinya.
"Aku kemari untuk bertemu dengan temanku, dia dirawat di lantai 23." Ucap Hendrik dengan tenang.
"Temanmu?! Sepertinya kau sudah mendapat informasi yang salah, seluruh lantai 23 rumah sakit ini telah disewa oleh Tuan kami. Silahkan kembali." Kata pengawal itu membuat Hendrik mengerti.
'Sepertinya Tuan Romi benar-benar merahasiakan tentang keadaan Alana. Apakah dia sangat parah?' Hendrik menjadi cemas dalam hatinya tetapi melihat ada banyak pengawal dilantai itu dia tidak mungkin mengalahkan mereka semua.
__ADS_1
"Apakah Tuan Romi ada disini?" Tanya Hendrik mengagetkan pengawal yang sedang bersamanya.
Bagaimana bisa pria muda yang ada di depan mereka mengetahui bahwa lantai 23 telah di sewa oleh Tuan Romi? Bahkan dari seluruh staf rumah Sakit hanya beberapa saja yang mengetahui hal tersebut. Jadi bagaimana bisa...?
Melihat pengawal yang tampak berpikir Hendeik kemudian berkata "Katakan pada Tuan Romi bahwa Hendrik teman Alana ada di sini untuk bertemu."
Sang pengawal yang mendengar kini berpikir sesaat sebelum memberi kode satu sama lain lalu salah satu pengawal segera meninggalkan depan lift untuk memberi laporan pada tuannya.
"Tuan," pengawal itu memasuki kamar dan membungkuk 90 derajat pada Romi yang sedang duduk menemani Alana yang terlihat pucat dan duduk dengan tatapan kosong.
Romi mengangguk lalu pria itu keluar dari kamar Alana untuk mendengar informasi dari bawahannya.
"Di depan lift ada pria bernama Hendrik yang ingin bertemu dengan tuan. Pria itu berkata bahwa dia adalah teman Nona Muda." Kata Sang pengawal mengagetkan Romi.
Dia sudah berencana menculik Putra Hans sebagai wujud balas dendamnya pada Hans, tetapi ternyata pria itu sudah datang menghampirinya.
"Bawa dia ke ruangan itu." Kata Romi pada pengawalnya lalu pria itu kembali masuk ke kamar untuk berpamitan dengan Alana.
__ADS_1
Dia akan mengurus pria itu, dia akan membuat Hans benar-benar hidup sebatang kara tanpa seorang pewaris!!!