Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁶⁶


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang dihuni oleh X, pria itu sedang duduk dengan tenang ketika pintu tiba-tiba terbuka.


"Tuan, kami berhasil melukai Tuan Romi, tetapi tiga dari empat orang kita telah tertangkap oleh mereka." Lapor seorang pria yang memasuki ruangan X.


"Lalu Bagaimana keadaan Romi? Dia meninggal?" Tanya x menatap bawahannya.


Bawahan tersebut tak berani menatap X, dia hanya tertunduk dan menjawab, "Peluru tepat mengenai dada kirinya dan saat ini dia dilarikan ke rumah sakit. Belum ada kabar Apakah pria itu meninggal atau tidak, tetapi orang-orang kita mengatakan bahwa kemungkinan untuk bertahan sangatlah kecil karena peluru itu tepat di dada kirinya."


"Awasi dia dan kalau dia masih bisa bertahan, cari celah untuk membunuhnya." Baik Tuan," jauh bawahan itu.


"Kau boleh keluar dan panggil Raihan kemari." Ucap x pada bawahnya.


Sang bawahan yang berbicara dengan x mengangkat wajahnya menatap pria itu, "Raihan telah meninggal dalam kebakaran di Villa milik Hendrik. Mereka terperangkap bersama dengan bom yang mereka pasang sendiri karena orang-orang suruhan Romi berhasil melumpuhkan semua orang-orang kita yang dikirim ke sana."


"Apa?!!!" X melemparkan gelas anggur di tangannya lalu pria itu berdiri dengan sangat marah.


Raihan adalah kepercayaannya yang setia Bagaimana bisa pria itu dibunuh oleh orang-orang Romi?

__ADS_1


"Bagaimana bisa Hendrik berhubungan dengan orang-orang yang bersama dengan Romi?" Tanya X sambil menggerakkan giginya.


Tidak mungkin putra dari tuannya sendiri malah berpihak pada musuh, apalagi musuh itu adalah musuh bebuyutan Hans!


"Kami juga tidak tahu, tetapi sebelum orang-orang kita meninggal mereka mengirimkan informasi bahwa di rumah itu terdapat barang-barang anak kecil dan juga perempuan. Terlebih barang-barang itu ditemukan di dalam kamar milik tuan muda." Ucap bawahan itu kembali membuat X mengepal tangannya dan menatap tak percaya pada bawahnya.


"Sialan!! Kau lakukan perintahku untuk membunuh Romi di rumah sakit. Aku akan membicarakan masalah ini dengan Tuan." Ucap X selalu pria itu berbalik mengambil ponselnya.


X langsung menghubungi Aristo yang bertugas membawa Hans ke pulau K.


Saat itu Hans dan rombongannya baru saja memasuki rumah dengan Hans yang sudah merasa lebih baik Setelah dia merasa aman berada di pulau yang aman untuknya.


"Apakah kalian sudah tiba? Bagaimana kabar Tuan Hans?" Tanya X.


Aristo melihat Hans yang kini duduk bersandar lalu menjawab, "Kami baru saja tiba dan saat ini kondisi Tuan Hans menjadi lebih baik, dia sudah bisa bersandar meski belum bisa menggerakkan tubuhnya."


"Bagus, sekarang tanyakan pada dia apakah aku sudah bisa melaporkan situasi atau tidak," ucap X yang takut bila saja ia melaporkan situasi dan ternyata kondisi kesehatan Hans belum mampu untuk menahan emosi karena masalah yang akan ia katakan pada pria itu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, saya akan menanyakannya." Ucap Aristo pada X.


Segera, Aristo mendekati Hans lalu berkata pada pria itu, "X menelpon ingin melaporkan situasi yang terjadi di ibukota, Dia bilang Apakah Tuan sudah siap mendengarkan kabar darinya ataukah--"


"Berikan teleponnya," ucap Hans hendak mengulurkan tangannya mengambil ponsel dari Aristo ketika dia menyadari bahwa tangannya tidak bisa digerakkan.


Aristo bisa membaca situasi Itu, jadi pria itu langsung berkata, "Saya akan memegang ponselnya untuk tuan."


Akhirnya Aristo memasang panggilan itu dalam mode speaker agar Hans bisa mendengar suara X.


Harus menghelan nafas menyadari keadaannya, tetapi dia segera berkata, "Katakan yang terjadi."


"Baik Tuan, saya akan melaporkannya yang terjadi tetapi hal ini sedikit berada di luar kendali kita jadi saya pikir Tuan sebaiknya menyiapkan diri untuk mendengar kabar dari saya." Ucap X dengan hati-hati.


"Hm,, Baiklah. Katakan sekarang." Perintah Hans.


"Kami baru saja melakukan operasi untuk menangkap Putra Tuan, tetapi beberapa orang-orang kita terbunuh oleh orang-orang Romi yang ternyata melindungi Putra Tuhan." Ucap X membuat nafas Hans langsung memburu dengan mata pria itu tampak memerah karena menahan kemarahannya.

__ADS_1


Aristo yang berada di dekat Hans langsung berkata, "Mohon Tuan mengontrol emosi Tuan karena saat ini kondisi kesehatan Tuan sedang tidak baik."


"Sialan! Kalau begitu musnahkan saja Putra tidak berguna itu!! Tidak akan ada gunanya memeliharanya!!" Ucap Hans dengan marah memikirkan putranya yang dia kira telah berubah, tapi ternyata pria itu masih juga berhubungan dengan Romi.


__ADS_2