Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
²². Si culun yang berpura-pura


__ADS_3

Lina buru-buru menyiapkan makanan yang akan Ia berikan pada Hendrik. Namun ketika dia tiba di kamar Hendrik dia terkejut karena Alana sudah berpamitan untuk pulang.


"Tuan Gibran sudah mau kembali?" Lina bertanya dengan ragu-ragu.


"Ya, saya masih ada kuliah Jadi saya tidak bisa berlama-lama disini." Kata Alana sembari tersenyum.


"Ahh begitu," Lina menunduk menatap makanan yang ia bawa, jelas saja Hendrik tidak akan memakannya saat teman Hendrik telah pergi.


Padahal dia ingin memanfaatkan Alana supaya Hendrik mau makan.


Alana bisa membaca pikiran Lina jadi dia mendekati Lina dan mengambi baki dari tangan Lina.


"Makanan ini untuk Hendrik kan?" Tanyanya.


"Iya Tuan," jawab Lina.


Alana tersenyum lalu dia membawa baki itu ke samping Hendrik dan meletakkannya di atas meja.


"Karena kau adalah teman ku maka aku akan membantumu menghabiskan makanan ini sebelum pulang." Ucap Alana mengambil semangkok bubur tawar yang diletakkan di nampan.


Lina merasa sangat senang melihat pemuda yang datang itu sangat pengertian jadi dia dengan tahu diri langsung meninggalkan kamar.

__ADS_1


Setelah pintu tertutup, Alana langsung menghela nafas dengan kasar.


"Astaga,, Aku tidak percaya aku akan menyuapi seorang kacung!" Kesal Alana menatap sinis pada Hendrik.


"Tuan Putri, tolong berbaik hatilah dan suapi hamba yang sedang sakit." Ucap Handrik menggerak-gerakkan tangannya yang diinfus.


"Haiss...!" Alana kembali menghela nafas tapi dia mengangkat sendoknya dan mulai menyuapi Hendrik.


Setelah suapan pertama, Alana mengaduk buuir di mangkok sembari berpikir.


'Apa yang sedang kulakukan? Mengapa aku??' Alana merasa aneh pada dirinya sendiri, sejak kapan ia perhatian pada orang lain?


"Tuan Putri ada apa?" Hendrik akhirnya bertanya setelah melihat Alana terdiam menatap bubur di tangannya.


Hendrik tidak mengatakan apapun dia hanya menganggukan kepala dan menerima suapan dari Alana.


Pria itu menatap kearah cermin kamar yang memantulkan dirinya.


Senyum!


Dirinya sedang tersenyum?!

__ADS_1


"Ada apa?" Tanya Alana saat melihat Hendrik terpaku melihat kearah cermin.


Hendrik kembali menarik perhatiannya dari cermin dan menatap Alana.


'Apa aku tersenyum karena perempuan ini? Kalau dipikir-pikir juga mengapa aku menuruti semua keinginan Alana?' Hendrik kebingungan dengan dirinya sendiri.


"Ternyata Kau orang yang ekspresif juga ya, tapi entah kenapa kau ini benar-benar payah kalau di kampus. Padahal kau memiliki Ayah yang hebat, kau memiliki segalanya! Aneh sekali kau bisa ditindas oleh orang-orang yang seharusnya kau tindas....... Kau ini,, kau sebenarnya hanya bersandiwara 'kan?!" Tiba-tiba kata Alana mengagetkan Hendrik.


'Sejak kapan aku membongkar identitasku di depan orang lain? Bahkan di depan Bibi Lina pun aku tidak pernah bersikap seperti ini. Aku selalu berpura-pura bodoh di depan Bibi Lina tetapi di depan Alana-- mengapa aku bisa tersenyum dan--' Hendrik menyadari dirinya sudah terlalu gegabah.


Namun anehnya, dia tidak merasa menyesal setelah Alana mengetahui dirinya.


"Bisakah kau merahasiakan ini?" Tanya Hendrik.


"Kau?? Kau lagi?! Panggil aku Tuan Putri!" Kembali kesal Alana.


"Maaf Tuan Putri, bolehkah Tuan Putri merahasiakan apapun yang terjadi hari ini?" Tanya Hendrik.


"Ah,, jadi kau sebenarnya berpura-pura menjadi culun saja? Kenapa?" Tanya Alana.


"Itu,, hmm,,"

__ADS_1


"Kalau kau tidak mengatakan alasannya aku tidak akan membantumu! Aku akan menyebarkan pada semua orang siapa kau yang sebenarnya dan bagaimana aslimu di rumah!" Ucap Alana mengancam Hendrik.


"Baiklah Tuan Putri. Saya akan mengatakannya." Ucap Hendrik menghela nafas.


__ADS_2