
Agung dan Alana mengintip dari lantai 2.
"Ibu,, kita tidak bisa mendengar mereka dan hanya bisa melihat dari sini. Kenapa lantai 1 dibuat sangat luas sih??!" Kesal Agung di mana mereka tidak bisa turun ke lantai bawah sebab jika mereka turun maka mereka akan langsung kelihatan saat berada di pertengahan tangga.
"Apakah tidak ada tangga lain di villa ini?" Alana bertanya sebab dia belum mengelilingi seluruh area villa itu.
"Uh,, hanya ada tangga menuju ke luar villa." Jawab Agung.
"Ahh, sayang sekali, kalau begitu kita lihat saja dari sini," ucap Alana menahan rasa gelisah nya dalam hati melihat Hendrik kini bersama seorang perempuan cantik.
Akhirnya dua orang itu hanya bisa dia mengamati dari lantai 2 melihat dua orang yang sedang berbincang di sofa ruang tamu.
Awalnya 2 orang itu hanya berbincang-bincang biasa, tetapi kemudian mereka melihat Patra berjalan ke arah Hendrik lalu duduk di samping pria itu.
"Kenapa perempuan itu menyentuh ayahku?!!" Agung langsung meledak marah, ia hendak berlari ke lantai bawah menghentikan mereka namun dia dihentikan oleh Alana.
__ADS_1
"Sstt,, jangan bersuara," ucap Alana.
"Tapi--"
"Sstt,, bukankah ayahmu sudah bilang pada kita supaya kita mempercayainya?" Tanya Alana dengan wajah meyakinkan Agung meskipun dalam hatinya dia juga merasa sangat marah melihat interaksi kedua orang di bawah lantai 1.
"Ibu,," Agung tidak bisa menahan dirinya hingga dia hanya bisa memeluk Alana sembari melihat ke arah lantai 1.
'Awas saja kalau Ayah sampai berani bermain-main dengan Tante jelek itu! Aku akan memukulnya dengan keras!!!" Kata Agung dalam hati sembari menggembungkan pipinya memperhatikan 2 orang yang ada di lantai 1.
Sementara Alana, perempuan itu menggigit bibir bawahnya saat melihat Hendrik tampak tidak bergeming ketika Patra menghampirinya.
"Aku sampai harus mogok makan 2 hari hanya demi mengancam pamanku agar mau mencarikan berkas ini untukmu. Tapi, apa sebenarnya isinya?" Patra memperhatikan berkas yang ada di tangannya, dia hendak membukanya ketika Hendrik mencegahnya.
"Jangan,, ini berkas memalukan yang ku simpan rapat-rapat." Kata Hendrik mengambil paksa berkas itu dari tangan Patra lalu menyisipkannya ke tempat yang tidak dijangkau oleh Patra.
__ADS_1
"Ahh,, apapun itu, aku tidak memperdulikannya, yang ku pedulikan sekarang adalah apa yang akan kamu lakukan untuk membalasku?" Tanya Patra mendekatkan wajahnya ke arah Hendrik.
Hendrik yang merasa jijik dengan ulah Patra ingin sekali menampar perempuan itu dan menendangnya keluar dari kediamannya, tetapi dia masih harus menahannya karena sandiwaranya belum bisa diakhiri sekarang.
"Mari bertemu besok malam, akan ku balas bantuan yang kau berikan hari ini." Ucap Hendrik.
"Oya?? Tapi bagaimana kalau aku menginginkan balasannya sekarang? Satu hari itu terlalu lama untuk menunggu bukan?" Tanya Patra.
"Baiklah, tapi Jangan berharap lebih karena aku tidak menyiapkan apapun." Ucap Hendrik.
"What!! Jadi maksudmu kau minta satu hari karena kau perlu waktu untuk menyiapkan kejutan??" Patra sangat terkejut sampai perempuan itu terlihat sangat bersemangat bertanya.
"Ya, tapi kalau kau tidak mau, mungkin malam ini kita bisa--"
"Ssstt!!!" Patra langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Hendrik membuat Hendrik langsung mundur agar jari perempuan itu tidak lama-lama menempel di bibirnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan menunggu satu haru itu, aku ingin melihat apa yang kau siapkan untuk membalas jasaku." Kata Patra tersenyum.
"Hm!" Jawab Hendrik dengan singkat.