Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁵⁴. Bukan pewaris


__ADS_3

Selama 2 hari menunggu, Hendrik mendapati bahwa Hans belum pulih dari komanya, jadi pria itu tidak membuang-buang waktu untuk memikirkan masalah mengenai Hans, dia memilih tinggal di villanya bersama Alana dan Agung.


Namun pada siang hari dia terkejut saat beberapa pengacara tiba-tiba mendatangi villanya.


Hendrik yang sementara menonton TV bersama Alana dan Agung langsung menoleh pada para pengacara itu.


"Ada apa ini?" Alana bertanya saat melihat banyaknya pengacara yang datang ke Villa mereka. Mengapa tiba-tiba ada begitu banyak pengacara?


"Bukan apa-apa, bawalah Agung ke lantai 2." Katanya pada Alana, namun perempuan itu terlihat enggan untuk bergerak.


"Bisakah aku menemanimu di sini?" Tanya Alana yang merasa cemas sebab tidak mungkin beberapa pengacara tiba-tiba datang menemui mereka ketika tidak ada sebuah masalah yang cukup besar hingga membutuhkan banyak pengacara seperti itu.


"Kau percaya padaku 'kan?" Hendrik berkata sembari mengusap rambut Alana.


Berpikir sesaat, Alana akhirnya menganggukkan kepalanya lalu dia menoleh pada beberapa pengacara yang memandanginya sebelum mengajak Agung ke lantai 2.

__ADS_1


Setelah kepergian Alana, Hendrik berjalan ke arah pengacara yang masuk ke rumahnya lalu menyuruh semua orang itu untuk duduk.


"Ada masalah apa ini?" Tanya Hendrik dengan suara datarnya menatap sekelompok pengacara yang terlihat datang untuk memburunya.


Salah satu pengacara berkata, "Saya dari bank xx, ingin membicarakan masalah pembayaran keluarga Gonedra untuk masalah hutang yang berhubungan dengan akuisisi perusahaan Gonedra."


Pengacara yang lain lagi berkata, "Ya, kami juga datang untuk masalah yang sama terutama mengenai klub keluarga gonedra."


Seluruh pengacara mengangguk karena mereka datang untuk mewakili klien mereka berbicara dengan pewaris Gonedra mengenai hutang yang harus ditanggung.


"Tapi Anda adalah anak satu-satunya, Putra kandung dari Tuan Hans selaku pemilik dari--"


Hendrik mengangguk, "Itu benar, tapi satu persen pun saham perusahaan Tuan Hans tidak tercatat atas nama saya. Kalian juga bisa menyelidiki satupun properti milik pria itu tidak ada yang dicatat atas nama saya, karena sudah lama saya memutuskan hubungan dengan pria itu.


"Lagipula saat ini orang itu masih hidup. Mengapa kalian tidak menanyainya saja dan malah membuang-buang waktu kalian di sini?" Ucap Hendrik membuat beberapa pengacara tersebut saling berpandangan satu sama lain.

__ADS_1


"Tapi bagaimanapun, sebagai keluarga kandung yang--"


Melihat salah satu pengacara masih ingin berdebat dengannya, Hendri kemudian menghela nafas, "Kalian tuli?!! Saya sudah bilang kalau saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pria itu!! Jadi sekarang cepat keluar dari rumah saya sebelum saya menyuruh anak buah saya untuk mengusir kalian!!" Tegas Hendrik yang mulai hilang sabar.


Beraninya orang-orang itu datang mengganggu waktu berharganya bersama Alana dan Agung?!


Akhirnya para pengacara itu tidak bisa berbuat apapun saat para pengawal Hendrik sudah mengepung mereka.


Mereka hanya bisa pergi meninggalkan villa itu dengan kepala yang hampir pecah memikirkan kasus yang besar itu.


"Tuan, Apakah saya perlu melakukan persiapan untuk berjaga-jaga kalau tiba-tiba ada orang lain yang datang menerobos bila kita?" Tanya Dirga saat melihat para pengacara sudah meninggalkan mereka.


Mungkin saja nanti mereka menyewa orang untuk mendobrak masuk.


"Ya,, perketat keamanan, bagaimanapun mereka pasti akan berpikir bahwa aku yang akan bertanggung jawab atas masalah yang menimpa keluarga Gonedra." Ucap Hendrik.

__ADS_1


"Baik Tuan," jawab Dirga.


__ADS_2